Terakhir kali aku bertemu Dira saat menghabiskan waktu di kebun tebu, sudah satu mnggu yang lalu. Tetapi Ibu dan Rani masih betah tinggal di kalimantan.
"Bu, kapan pulang?" Gerutuku menatap foto Ibu saat membersihkan rumah.
Hari minggu, hujan tetap saja turun menemani kesepianku. Dira pergi berlibur sembari mengurus keperluan kuliahnya, entah dia akan meneruskan pendidikannya ke negara mana, aku belum bertemu lagi denganya.
Setelah dari kebun tebu, Dira bergegas mengurus pasport. Meskipun aku tetap berharap dia tidak benar-benar pergi meninggalkan bagian Bumi yang ku sebut Indonesia ini.
"Assalamualaikum," sapa seorang laki-laki dari balik pintu rumah
"Walaikumsalam, siapa?" Langkahku bergegas melihat siapa yang datang sepagi ini.
"Hai," sapa Dira, dia kembali setelah berberapa saat tak ku temui. Bahkan, ketika rindu sudah mulai memenuhi otak bagian kiri. Menggantikan semua desain matematika yang baru ku pelajari untuk UASku besok.
"Dira!" Seruku senang, wajahku berseri melihat laki-laki yang kurindukan ada didepanku.
"Ibu sudah pulang. Aku bawa coklat kesukaanmu." Dira duduk di ruang tamu, memberikanku bingkisan coklat yang banyak di dalam paperBag merah yang ia bawa.
"Belum, makasih coklatnya ya." aku hanya menyembunyikan rasa senang saat menaruh coklat di meja makan.
Dira duduk dengan secangkir kopi kesukaannya, melihat sinetron yang sedang tayang di saluran televisi. Jemarinya tak berhenti meraba toples keripik pedas yang dipangkunya. Sedangkan, mulutnya terus mengunyah membuat bising telinga.
"Udah sarapan?" Tanyaku, karena melihat Dira menghabiskan keripik di dalam toples.
"Belum, hehhee." mulutnya penuh dengan kripik, dia hanya tersenyum malu karena sudah menghabiskan setengah toples keripik pedas kesukaan Ibu .
"Makan bubur ayam?"
"Pengen ngajak kamu makan di restoran." Bibirnya masih mengunyah sisa keripik. Aku, hanya menatapnya ketika ia ingin mengajakku makan di restoran.
"Yaudah, nanti siang aja kaalau gitu. Aku mau beres beres dulu," ucap ku meninggalkan Dira yang sibuk memperhatikan sinetron Azab di chenel Indosiar.
Siang sudah datang di peraduanya, ketika matahari juga tampak masih malu malu sembunyi di balik awan berwarna kelabu. Selesai mandi aku menghampiri Dira lagi, dia duduk dengan tegukan kopi di cangkir. Ini tetesan terakhir kopi yang ia minum, matanya masih saja tak bosan melihat Tv cembung yang menayangkan serial si otan kesukaanya, serial tv dunia binatang di chenel Trans7.
"Nonton saudaranya?" sindirku, lalu duduk disampingnya. Mengamati apa yang dia suka dari serial Tv yang ia tonton.
"Emang saudaraku monyet?!" Seru Dira kesal. Ia segera mengambil remote untuk mengganti chanel.
"Jadi makan di restoran?" Aku menatapnya.
"Iya, aku mau makan steak." Dira bangkit, menggosokkan perutnya seakan belum makan dua hari.
"Steak?"
"Iya, yuk ah." Aku dan Dira beranjak menuju mobil yang terparkir di depan rumah, masuk ke dalam terlihat lebih berantakan dari sebelumnya.
"Berantakan amat, ini ada baju perempuan?" Gerutuku, melihat bayak baju dan sepatu tak tertata dengan rapi di jok belakang, ada baju permpuan tergantung membuatku penasaran.
"Eh, sini !" Tiba-tiba Dira merebut baju yang ku pegang, gelagatnya membuatku merasa aneh. Apa Dira masih berhubungan dengan Gadis itu, Gadis yang ku lihat keluar dari rumah Dira ketika ia sakit. Gadis, yang katanya sering dia ajak ke hotel. "Ah sial, pikirannku sudah kemana-mana!" Gumamku, menepikan segala pikiran yang terus masuk melalui cela-cela otakku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Rasa
Teen FictionIni ceritaku, dimana kisah kasih terlarang di mulai. Entah, mengapa bisa terlarang. Mungkin karena aku jatuh hati kepada sahabatku sendiri, di saat aku sedang menjalin rasa dengan Dhani, laki-laki yang menyebutku "sayang". Hidupku semakin runyam. S...
