Catatan:
Semua karakter KnB BUKAN milik Author. Typo PASTI akan bertebaran dan OOC kemungkinan besar akan terjadi.
Happy reading!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari itu, entah kenapa dan bagaimana tidak ada yang mengetuk-ngetuk pinti cottage-nya lagi. Mungkin Himuro dan kakak kelasnya itu sudah lelah membujuknya untuk mau keluar dari cottage. Yah, memang dia sudah lama tidak keluar. Makanan saja dibawakan oleh Leta dan Kei secara bergilir.
Sebenarnya Kasamatsu mau keluar, namun syarat yang diberikannya cukup sulit walaupun hanya ada 1. Dia tidak mau ketemu Kise. Tentunya itu sulit, apalagi di pulau kecil seperti ini. Banyak sekali kemungkinan keduanya bertemu atau sekedar papasan ketika berjalan.
Berguling di kasur, Kasamatsu kini memandang langit-langit kamar. Tanpa minat, pemuda itu memakai sandal kamar dan berjalan menuju bagian belakang cottage. Angin yang cukup kencang menerpanya tepat setelah pintu geser kaca yang memisahkan ruang tidur dengan bagian belakang dia buka.
Angin itu cukup membuat rambutnya semakin berantakan. Baju tidur longgarnya juga bergerak-gerak mengikuti tarian angin. Menimbulkan rasa geli di sekujur tubuhnya. Dia duduk di pinggir kolam renang, hanya memasukkan kakinya dan mengayunkan kaki layaknya anak kecil. Memandangi riak air yang dia buat.
Sayangnya, suasana tenang yang sudah memperbaiki sedikit moodnya itu harus terhenti oleh suara perutnya. Ah... dia lupa kalau cacing di perutnya belum diberi makan sejak tadi malam.
Dia mengeringkan kakinya dan berjalan menuju dapur. Memandangi piring berisi nasi dan nikujaga. Ah... sepertinya Kei atau Leta datang ketika dia masih tidur tadi pagi.
Karena sudah lapar dan malas menghangatkan kembali makanan itu, dia langsung duduk dan makan makanan yang sudah dingin itu. Sendirian. Padahal biasanya dia mengeluh karena si Kise berisik sekali ketika makan, tapi ternyata kalau sudah terbiasa berisik malah merasa aneh kalau tiba-tiba sendirian seperti ini.
Seusai makan, dia mencuci semua bekas makan sebelum menuju kamar mandi. Semoga mandi bisa memperbaiki moodnya yang masih jelek.
***
Matahari sudah beranjak ke arah barat. Hendak beristirahat sebentar sebelum kembali bekerja keesokan harinya. Kasamatsu menyantap makan malamnya yang baru saja dipesannya.
Kasamatsu hendak kembali bermalas-malasan di tempat tidur, sebelum dia mendapatkan pesan dari Leta.
Leta
|Datang ke area pantai biasa.
|5 menit nyampe.
|Telat? Kulempar kamu ke laut.
Membaca pesan Leta, Kasamatsu menghembuskan nafas kasar. Dia mengambil mantel tipis, hanya untuk menghalau udara dingin dan menutupi piyama yang sudah dia pakai saat ini. Mana sempat dia berganti pakaian kalau hanya mendapat waktu 5 menit.
Jalan setapak begitu sepi. Sepertinya, semuanya masih pada di gazebo besar itu. Langkah kakinya terdengar samar-samar di antara nyanyian serangga-serangga yang seperti paduan suara.
Pemuda bersurai hitam itu terengah-engah karena berjalan secepat mungkin. Dia tahu kalau Leta selalu serius dengan ancamannya. Mengingat Kasamatsu gampang panik, gawat kalau dirinya dilempar ke laut oleh gadis bar-bar macam Leta.
Kasamatsu menoleh ke kanan dan ke kiri. Mematung ketika melihat pemandangan aneh bin ajaib yang tertangkap indera penglihatannya. Ada penyangga logam yang tampak ringan, ada puluhan tali yang terikat di pengangga logam itu. Menggantung foto-foto yang tampak baru dicetak.
Dengan ragu, Kasamatsu berjalan pelan mendekatinya. Mendekati salah satu foto. Fotonya dengan Kise. Foto ketika mereka di acara ulang tahun sekolah. Kasamatsu ingat saat itu Leta memotret mereka dan Kise merengek serta memohon-mohon agar mendapatkan foto itu.
"Yukio-cchi..."
Mendengar suara akrab itu, Kasamatsu menegang dan menoleh dengan ragu. Dia menelan ludah ketika melihat sosok Kise. Tampak berantakan. Kasamatsu dapat melihat mata sayunya, bahkan pemuda itu tidak dapat melihat kilauan yang selalu biasa membuat dada Kasamatsu penuh dengan kehangatan.
"Kise..."
Pelukan erat diberikan Kise. Membuat yang dipeluk menegang. Dengan tangan gemetar, dia mengusap punggung Kise. Pemuda bersurai hitam itu merasakan basah di bahunya, sepertinya Kise menangis.
Mereka sudah putus, kan?
Tapi... kenapa... Kise malah meneluknya?
"K-kise..."
Kise mengeratkan pelukannya. "Yukio-cchi... hontou ni gomenasai-suu..."
"Kise?"
"Gomen-ssu..." gumam Kise.
Kise melepaskan pelukannya, mengusap wajah sebelum menarik tangannya menuju area yang lebih sederhana. Kasamatsu memandang sekeliling. Dia hanya melihat beberapa lembar kertas yang digulung dan diikat longgar.
Karena penasaran, dia meraih salah satu dan menariknya. Hanya warna hitam layaknya langit malam dengan percikan cat putih yang tertata seolah disengaja.
"Mau bermain teka-teki ssu?"
Kasamatsu mengjela nafas. Dia mengangguk karena kalah dari rasa penasarannya. Dia mengambili semua kertas. Sesuai dengan pemikirannya, setiap kertas ada percikan tinta.
Layaknya puzzle kesukaannya, Kasamatsu menggerak-gerakkan kertas-kertas itu hingga membentuk sesuatu. Ah! Mulai terbentuk. Ada gambar seorang laki-laki yang tengah tertidur sendirian di tengah warna hitam itu.
Kise memeluk Kasamatsu dari belakang. Membuat pemuda bersurai hitam itu menegang. "Kuakui itu bukan sepenuhnya gambarku, ada gambar Leta-ssu. Mana mungkin aku bisa memecah gambar seperti itu-ssu. Tapi, itu sudah menggambarkanku sejak Kasamatsu pergi-ssu."
Pemuda bersurai hitam menoleh, melihat wajah Kise yang bertumpu di pundaknya. "Hm?"
"Gomen, Yukio-cchi. Biarkan aku bilang lagi: Aishiteru yo, Yukio-cchi!"
not-the-end
Terima kasih sudah membaca🙏 Jangan lupa tekan bintang dan berkomentar!
See you next chapter!
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer Season
Fiksi PenggemarBuku kedua dari Season Series. Menceritakan bagaimana lima pasangan yang sedang berlibur di Maldives. ⚠️Warning⚠️ Mengandung Yaoi
