AkaKuro-6

751 82 31
                                        

Catatan:
Semua karakter KnB BUKAN milik Author. Typo PASTI akan bertebaran dan OOC kemungkinan besar akan terjadi.

Karena chapter selanjutnya adalah Epilog. Author pingin nanya, dong. Untuk lagu di epilog, mendingan lagu aslinya atau yang indonesian cover ya? (Author bener2 bingung).

Happy reading!
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Kuroko berdiri di depan pintu yang tertutup rapat. Dirinya sendiri bimbang. Karena dia melihat lampu ruang santai menyala, pasti Akashi sudah balik. Ya, saat ini laki-laki manis itu tengah berdiri di depan cottage dan mempersiapkan dirinya untuk menanyakan masalah Arlene kepada Akashi.

"Ok, lebih cepat lebih baik." kata Kuroko untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Dia membuka pintu dan mematung. Lihatlah di sofa ruang santai. Ada Akashi yang tengah... ok... entah dicium atau mencium... Arlene. Fix, Kuroko benar-benar hancur dan tidak tahu lagi harus melakukan apa.

"Ah... Kuroko, maaf kalau mengagetkanmu ya."

Akashi memandangibya horor, sesuatu yang entah kenapa sudah bia ditebaknya. "Tetsuya..."

"Jangan panggil nama kecilku lagi, Akashi-kun," kata Kuroko. Mengepalkan tangannya kuat-kuat, berharap isakannya tidak terdengar 2 orang itu. "Ah! Selamat, ya. Aku akan keluar. Kalian pasti butuh privasi. Silakan lanjutkan."

Dengan sekuat tenaga, laki-laki bersurai baby blue itu membanting pintu hingga pintu tak bersalah itu bergetar. Dia mengusap matanya kasar dan berjalan sambil mengutuk kedua orang itu di dalam hatinya.

Memang, ya. Mana mungkin dirinya bisa seberuntung Leta yang mendapatkan pacar yang begitu baik seperti Kei. Hahahaha... Pacar yang dia dapat bukan malaikat macam Kei, tapi raja dari rajanya iblis yang terjahat dan kerjaannya cuma menghancurkan orang doang.

"Tetsuya! Tetsuya!"

Sudah berapa kali, ya, pacarnya yang kini sedang mengerjarnya itu meneriakkan namanya dan menyuruhnya berhenti? Kuroko tidak menghitungnya dan juga tidak mau tahu.

Namun, apalah daya tubuhnya yang lemah. Tak butuh waktu lama, tangannya sudah ditarik. Tunangan... ok, calon mantan tunangannya itu memutar tubuhnya hingga menghadap Kuroko yang masih berusaha memasang wajah datar. Walaupun dia sendiri tahu kalau sudah ada air mata yang mau keluar.

"Apa?! Sudah kubilang, kan, jangan panggil nama kecilki lagi! Lagi pula, kalau kamu repot-repot mengejarku kasihan, kan, tunanganmu itu!"

"Tunanganku itu kan kamu!"

"Aaah! Lalu, Arlene apa?!" seru Kuroko. "Jangan berani-beraninya kamu bilang dia hanya teman kerjamu! Teman kerja yang NORMAL tidak akan bertemu diam-diam di pantai pula! Teman kerja yang NORMAL tidak akan mengganggu waktu pasangan berstatus tunangan! Teman kerja yang NORMAL tidak akan berpelukan di taman kecil yang sepi! Teman kerja yang NORMAL tidak akan saling berciuman di cottage! Terutama di bibir!"

Kuroko terengah-engah. Tentu saja dia kehabisan nafas setelah berteriak tanpa jeda dengan nada setinggi tadi. Laki-laki manis itu membuang muka. Tidak mau melihat seperti apa wajah Akashi.

"Tapi, kami memang teman kerja."

Mendengar perkataan Akashi, Kuroko terbahak layaknya antagonis. Ah! Atau dia memang antagonis di sini? Apapun itu, Kuroko tidak peduli. Saat ini, yang dia inginkan hanyalah meluapkan segala amarahnya.

Tidak ada bicara baik-baik.

Tidak ada memasang wajah ramah.

Tidak ada berpura-pura kalau semuanya baik-baik saja.

Dia hanya ingin meneriakkan semua yang dia pendam selama ini. Dia ingin berteriak tentang betapa plin-plannya tunangan di depannya ini.

Laki-laki bersurai baby blue itu sudah tidak peduli lagi akibat dari perbuatannya. Masa bodo dengan berakhirnya perjodohan ini!

Dia sudah terlanjur hancur di sini. Bahkan dirinya sudah tidak peduli kalau nanti dia akan kena omelan tak berkesudahan dari ayahnya mau pun Ayah tunangannya. Dia sudah tidak peduli kalau akhirnya dia hanya akan kena pukul atau lemparan vas dari ayahnya.

Bukankah sakit fisik jauh lebiu baik dari sakit hati?

Kalau akhirnya seperti ini, mungkin Kuroko akan nekat terjun lagi dari batu karang itu. Atau berenang ke tengah laut dan membiarkan dirinua tenggelam.

"Tetsuya, dia cuma teman kerja. Soal tadi, itu cuma kecelakan."

Kuroko mendengus, "Omelanku belom selesai! Masih banyak tahu!"

Sudah tak terkendali, Kuroko memandang tunangannya dengan tajam. Bahkan mungkin sekarang, keningnya sudah berkerut.

"Kamu masih bilang dia teman kerja, kan?!" seru Kuroko, melanjutkan omelannya yang belum selesai. "OK! Kalau begitu, aku akan bertanya! Teman kerja macam apa yang akan mengirimkan foto mesra seperti ini?! Teman kerja macam apa yang memberikan pesan-pesan tuduhan kosong dan menggelikab seperti ini!"

"Aku tidak tahu soal pesan itu, Tetsuya!"

"Tentu saja kamu tidak tahu. Makanya aku memberi tahumu! Lalu..."

Kuroko merebut ponsel Akashi yang kebetulan dia bawa. Dengan emosi, laki-laki itu membuka fitur chat dan menunjukkan chat dari ayah Akashi di depan wajah tunangannya itu.

"See? Kamu mau aku percaya padamu?" tanya Kuroko. "Setelah aku membaca ini? Apalagi setelah melihatmu berciuman mesra dengan Arlene? Aku tahu aku ini cuma beban. Aku memang kerjaannya cuma menyusahkan orang dan tidak bisa apa-apa, tapi aku tidak sebodoh itu."

"Tetsuya, itu..."

Laki-laki bersurai baby blue itu menghembuskan nafas kasar. Dia melipat tangan di depan dada dan memandang datar ke arah tunangannya.

Tidak ada lagi sorot hormat.

Tidak ada lagi kelembutan.

Tidak ada lagi kehangatan.

"Aku tidak mau bilang ini. Tapi, jika aku boleh jujur maka aku akan bilang ini padamu," kata Kuroko. "Aku tidak apa kalau kamu menyelesaikan hubungan ini, kamu punya hak untuk bahagia dan semakin cepat berpisah maka semakin cepat pula aku dapat mencari orang yang dapat menggantikanmu. Tapi, tolong jangan gunakan cara seperti ini untuk mengakhiri hubungan dengan siapa pun."

"Tetsuya, aku tidak akan pernah menghentikan hubungan ini!"

Kuroko memandangi tunangannya itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Sedih. Kecewa. Marah.

Laki-laki bersurai baby blue itu menunduk, "Lalu apa? Kamu ingin menghancurkanku dengan tetap berada di sebelahku tapi pikiranmu ke orang lain?"

"Tetsuya, aku mohon percayalah! Aku benar-benar hanya memikirkanmu!"

Mendengar perkataan Akashi, Kuroko menggeleng pelan. Perkataan plin-plan seperti biasanya. Dia berbalik, hendak pergi menuju resepsionis untuk meminta 1 cottage baru.

"Tolong pikirkan kenangan kita juga! Kamu harus tahu, kalau aku benar-benar melakukannya dengan keinginanku sendiri."

Tangan Kuroko terkepal di saku jaketnya. Haruskah dia percaya lagi pada tunangannya itu? Apakah hasilnya dia akan tetap hancur?

Helaan nafas terdengar dari laki-laki manis itu, "Ok. Akan kupikirkan ulang, Akashi-kun."

to be continued

Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa tekan bintang dan berkomentar.

Next: Epilog.

Tiba-tiba semangat setelah inget kalau sebentar lagi yang Summer Season selesai. Untungnya hari ini guru-gurunya lagi baik banget sampai ngasih tugas yang gampang, jadi sempet nyelesaiin chapter ini deh.

Pesan Author: Karena mulai musim hujan, jangan lupa jaga kesehatan dan bawa payung/jas hujan kalau mau keluar rumah. Jangan lupa juga pakai masker ketika keluar rumah dan rajin cuci tangan yang bersih!

See you next chapter!

Summer SeasonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang