Who? (nineteen)

843 115 10
                                        

Genggaman Harry menguat pada tangan yang lebih kecil dari nya itu, iris hijau nya kesana-kemari mencari celah untuk segera pergi.

Makhluk itu, memandangi mereka seolah keduanya adalah daging segar yang mampu mengenyangkan nya untuk waktu yang lama.

Satu di antara ketiga kepalanya, menyemburkan kepulan asap, yang dalam sekejam membuat Harry juga Lyra merasa sesak, seakan dada mereka terhimpit baru besar.

"Kalian, tahan napas!" Seruan Hermione di dengarkan, keduanya lekas menahan napas.

"Bawa dia pergi, yang lain biar kami yang akan mengurus nya!" Kata Hermione, Harry lekas membawa Lyra menuju Menara Astronomi. Percaya, bahwa teman-teman nya lebih dari sanggup untuk mengatasi makhluk tersebut.

Hermione segera merapalkan mantra, untuk perlindungan mereka dari napas beracun mahluk tersebut.

Ia menggeram, memperlihatkan gigi-gigi tajamnya yang mampu mengoyakan tubuh mereka dengan mudah.

Kemudian, tangan besar penuh kuku tajam itu mulai menyerang Gregory, dan satu lagi menyerang Hermione.

Keduanya saling menghindar, dan mulai melepaskan berbagai mantra, yang sayangnya tidak berefek apapun pada makhluk tersebut.

Ia melompat menuju Hermione cepat, teramat cepat sehingga Hermione berpikir ini adalah hari terakhir baginya.

"Sectumsempra!" Satu kepala dari mahluk itu terputus, darah hitam pekat, mengalir membasahi lantai.

Ron segera membawa Hermione naik ke atas tangga, Gregory sedikit terlambat, menyebabkan kakinya terkena ceceran darah tersebut.

Gregory meringis, rasanya seperti terkena air panas. Tapi, perasaan itu tergantikan dengan rasa cemas juga ketakutan, tak kala kepala yang putus akibat Ron itu, kini kembali tumbuh. Bahkan, menumbuhkan dua kepala baru.

Ketiganya menatap tak percaya, bagaimana mungkin kepala itu dapat tumbuh lagi, bahkan lebih?

Makhluk itu berputar beberapa derajat di udara, kemudian tangan-tangan besar nya mulai merobohkan pilar-pilar Hogwarts, membuat dua Gryffindor dan satu Slytherin itu menghindari reruntuhan dengan cepat.

Sulit, menghadapi makhluk sebesar itu di antara reruntuhan pilar, di tambah tempat mereka tidak cukup luas. Membuat pergerakan jauh lebih sulit.

Hermione memikirkan sesuatu, dia mulai membuat makhluk itu mengikuti nya, dengan satu serangan.

♦♦*♦♦

Draco berlari di antara murid-murid yang berhamburan, pikiran nya hanya tertuju pada Lyra.

Saat melihat Hospital Wings yang sudah berantakan, dan Lyra tak ada di sana. Draco merasa awan hitam tengah menutupinya.

Kakinya harus terhenti, saat orang yang menyebabkan kekacauan ini berdiri di depan nya, dengan santai.

Sepersekian detik, tongkat Draco telah teracung ke depan, bersiap untuk perang. Candice, hanya memamerkan wajah bosan nya.

"Di mana Lyra?!" Pekik Draco.

Candice menaikkan satu alisnya, mendapati perkataan putra Lucius itu, kemudian senyum licik muncul di bibirnya.

"Ku kira kau tau Malfoy, bawa adikku bersama dengan Potter," bisa ia lihat, ketidaksukaan di wajah pucat Draco; "Aku menawarkan kerja sama dengan mu." lanjut Candice.

Draco terdiam, tapi manik abu itu meminta Candice untuk melanjutkan tawaran nya tersebut.

"Bawa Candence pada ku, akan aku buat dia jadi milikmu." Kata nya, memandang dengan pasti pada pemuda yang kini mulai kehilangan sedikit pertahanan nya.

Who? [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang