Mereka terdiam untuk beberapa saat, bahkan Lyra merasa ada sesuatu yang membuat dirinya merasa terikat dengan sosok dihadapan nya saat ini.
Harry tersadar, secepat mungkin mengeluarkan tongkat nya. Namun, sebelum Harry mengatakan mantra apapun, orang itu sudah lebih dulu mengarahkan tongkatnya pada tubuh Draco yang tak sadarkan diri.
"Ingin mendengar yang mana? Sectumsempra? Crucio? Atau, Avada Kedavra?" ucap nya pelan, tapi tidak ada nada main-main di sana.
Lyra terbelalak, ia beralih pada Harry menatap nya dengan sorot memohon.
"Pliss Harry, biarkan dia pergi," ucap nya dengan lirih, membuat pemuda itu berbalik dan melihat kilat emosi di manik cokelat pekat itu.
Harry menurunkan tongkat nya perlahan, dan sosok itu hanya menyeringai senang.
Harry mengepalkan tangannya, membuat buku-buku nya memutih.
"Jauhkan tongkatmu!" Pekik Lyra, karena dia belum juga menjauhkan tongkatnya dari tubuh Draco.
"Upss, Sorry," balas nya.
Dan, secepat tongkat itu menjauh dari tubuh Draco, secepat itu pula tongkat nya berpindah tepat di depan wajah Lyra.
Membuat Harry berteriak keras.
"Apa yang kau lakukan!" Kilatan emosi benar-benar menumpuk di manik hijau cemerlang itu.
"Berjaga-jaga, jika kalau kau menyerang ku dari belakang," katanya sembari berjalan melewati mereka, dengan tongkat yang masih teracung tepat di wajah Lyra.
"Bye, Potter dan siapapun kau." Ia pergi dengan cepat, lalu Lyra segera mendekati tubuh Draco.
"Potter, plis help him."
Tanpa pikir panjang, Harry menggendong tubuh Draco. Mereka berlari menuju Hospital Wings segera.
♦♦*♦♦
Di meja Gryffindor, Hermione begitu terlihat khawatir.
Netra nya terus tertuju pada pintu Great Hall, bahkan makanan yang ada di piringnya belum tersentuh sama sekali.
Ron menepuk pundak nya pelan, Hermione lekas menoleh pada pemuda itu.
"Kenapa?" tanya nya, sedangkan Hermione hanya menghela napas pelan.
"Harry belum kembali, tidak kah kau sadar itu?" balas Hermione, nona si tahu segalanya itu jika sudah berhubungan dengan Harry, maka dia akan menjadi seorang ibu.
"Mione, Harry sudah dewasa. Dia bukan Harry yang berusia sebelas tahun lagi."
Hermione menatap Ron, ada kilat kehangatan di sana.
Dia tau Harry sudah dewasa, sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Tapi, baginya Harry akan selalu menjadi anak sebelas tahun yang melompat senang saat mendapatkan 50 poin.
Jika kau bertanya pada Hermione, siapa di antara Harry dan Ron yang masih memiliki sisi anak kecil. Maka Hermione akan menjawab dengan yakin, itu Harry.
Pada akhirnya dia hanya mencoba mengusir segala pikiran buruk nya.
"Kau benar, aku terlalu khawatir berlebihan," katanya, tersenyum kecil membuat Ron ikut tersenyum.
♦♦*♦♦
Harry menerobos pintu Hospital Wings, membuat madam Pomfrey yang tengah membereskan wadah-wadah ramuan nya terkejut.
"Madam sorry, tapi mohon tolong dia." Ucap Harry cepat, Madam Pomfrey kehilangan rasa marah nya dan segera meminta Harry membaringkan tubuh Draco dan dia segera melakukan pengobatan nya.
Rasa khawatir benar-benar membuat nya lupa akan rasa sakit, yang di timbulkan dari dirinya yang terlalu kuat menggigit bibirnya sendiri.
"Dia akan baik-baik saja, kau bisa berhenti menggigit bibir mu, itu berdarah," bisik Harry, saat menoleh dah melihat darah mengalir dari bibir Lyra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Who? [Completed]
FanfictionHarry Potter-The Boy Who Lived. Pahlawan dunia sihir, putra dari James Potter dan Lily Evans. Harus mengulang tahun terakhir nya di Hogwarts, setelah perang melawan The Dark Lord. Bersamaan dengan penerimaan murid baru Hogwarts. Seorang gadis hadir...
![Who? [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/237680100-64-k754710.jpg)