New Playground
Leo sedang menunggu tamu di ruang kantornya ketika tiba-tiba Vely masuk ke sana. Gadis itu cemberut dan langsung duduk di sofa ruangannya. Leo bangkit dari kursi kerjanya dan menghampiri Vely.
"Kenapa, Vel? Ada masalah apa?"
Vely mendongak menatap Leo yang berdiri di samping sofa. "Aku mau pindah kerja ke kantor ini."
Leo mengangkat alis. "Tiba-tiba?"
"Kak Valent," sebutnya dengan nada penuh dendam. "Selama seminggu ini dia selalu pergi ke kantorku dan gangguin aku."
"Kenapa?" heran Leo. "Eve lagi nggak di kantor?"
Vely makin merengut. "Justru karena Kak Eve lagi ada tugas keluar kota, makanya Kak Valent sengaja gangguin aku. Dia nyuruh aku belajar manajemen perusahaan di Dirgantara."
Leo berdehem. "Trus, kalau kamu pindah ke sini, dia nggak akan gangguin kamu?" Leo meragukan itu.
"Aku mau nunjukin ke dia, kalau aku akan makin menjauh kalau dia terus maksa-maksa aku. Kali ini, aku pindah ke perusahaan Kak Leo. Besok-besok, aku nggak tahu ke perusahaan mana lagi aku akan pindah." Vely menyipitkan mata penuh tekad.
Leo jadi was-was mendengar ancaman itu. Tidak ada yang tahu apa yang akan Vely lakukan jika dia benar-benar sampai bekerja di perusahaan orang lain. Pertama, Leo khawatir jika Vely kenapa-napa. Kedua, Leo khawatir rekan-rekan Vely yang kenapa-napa.
Vely perlahan tersenyum, sepertinya dia mengikuti pikiran Leo.
"Nah, itu maksudku!" seru Vely riang. "Kak Valent juga pasti nggak akan gangguin aku lagi, kan?"
Leo berdehem. "Vely, itu ..."
"Kalau Kak Leo nggak bisa nerima aku di sini, aku bisa cari perusahaan lain." Vely mengedik santai.
"Bukan gitu maksudku, tapi ..."
"Oke, itu berarti, aku diterima kerja di kantor Kak Leo, kan?" Vely tersenyum lebar.
Leo tak langsung menjawab. Ini adalah masalah yang tak bisa ia putuskan sendiri. Jika Vely di sini, Leo tak punya kemampuan seperti Valent atau Alex untuk melindungi pikirannya.
"Kak Alex juga ngelakuin itu?" Vely tampak terkejut.
Leo mengerjap.
"Aku kerja di perusahaan Kak Alex karena aku pikir, pikiranku aman. Kak Leo juga tahu kan, selama ini Papa sama Kak Valent berusaha ngelindungi pikiranku dari pikiran orang-orang di sekitarku? Itu rasanya nyebelin. Meski aku nggak suka juga bisa lihat pikiran orang yang aku tahu nama dan wajahnya. Tapi, aku pikir selama ini Kak Alex nggak ngelakuin itu." Vely tampak kecewa.
"Mereka ngelakuin itu untuk ngelindungin kamu, Vel," terang Alex.
Vely menggeleng. "Mereka selalu nganggap aku anak kecil."
"Bukan gitu, tapi ..."
"Kak Leo juga gitu, kan?" tembak Vely.
Yah, sejujurnya Leo adalah salah satu orang yang berpikir Vely akan tersesat jika ditinggalkan di luar sendirian.
"Kak Leo!" pekik Vely kesal.
Leo berdehem. "Maaf, maaf."
"Aku udah 24 tahun!" sembur Vely.
"Tapi, kamu tetap Vely," balas Leo.
Vely menghela napas kesal. "Pokoknya, aku nggak mau tahu, aku mau kerja di sini!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Crazy CEO (Crazy Series #1) (End)
RomanceTerlahir sebagai bungsu Dirgantara, tak ada satu pria pun yang cukup berani untuk mendekati Vely. Mengingat keluarganya yang begitu overprotektif padanya. Sampai Devon muncul. Devon akan melakukan apa pun untuk menguasai perusahaan peninggalan pap...
