Tangan Veryn tampak berlumuran darah di genggaman tangan Zelo. Mereka terjebak di dalam dalam mobil yang terbalik, Zelo di kursi kemudi dan Veryn di jok belakang bersama Valent. Satu tangan Veryn memeluk Valent kecil yang tak sadarkan diri di sebelahnya.
"Veryn, kamu harus bertahan. Aku akan selamatin kamu dan anak-anak kita," janji Zelo dengan suara bergetar. Dengan satu tangannya, pria itu berusaha membebaskan diri dari sabuk pengamannya yang macet. Tampak darah mengalir dari kepala pria itu.
"Zelo ..." panggil Veryn dengan suara lemah.
"Aku di sini, Sayang ..."
"Kalau sesuatu terjadi sama aku ... kalau kamu harus memilih aku atau anak kita, kamu harus selamatin anak kita, kamu dengar aku?"
"Veryn, jangan ngomong kayak gitu ..."
"Aku mohon ..." pinta Veryn sembari terisak. "Apa pun yang terjadi ... selamatin anak ini." Veryn membawa tangan Zelo ke perutnya yang membesar. "Maaf ... karena aku minta hal yang egois gini ke kamu," ucap Veryn sebelum wanita itu kehilangan kesadaran.
***
Zelo menggeleng mendengar penjelasan Athena tentang kondisi Veryn dan bayi mereka.
"Zelo, kita nggak punya banyak waktu. Kamu harus segera mutusin," desak Athena.
Zelo menggeleng. "Gimana bisa aku mutusin ... Veryn atau anak kami?"
"Zelo!" Athena tampak berusaha menahan tangis. "Kalau kita nggak segera ambil tindakan, kita bisa kehilangan mereka berdua!"
Zelo jatuh berlutut dan menangis dengan menyedihkan. "Veryn ..." ucap pria itu di sela tangisnya. "Selamatin Veryn ..."
***
Athena membawa bayi merah yang tampak seperti hanya sedang tidur di gendongannya ke hadapan Zelo. Tak ada suara tangis, bayi merah itu hanya diam di gendongan Athena.
Tangan Zelo gemetar ketika ia menyentuh tangan mungil yang terkepal itu. "Maaf ..." isak Zelo. "Maafin Papa, Nak ..." Zelo menggendong, memeluk bayi itu dan menangis keras.
Saat itulah, tiba-tiba terdengar tangisan bayi di pelukan Zelo itu. Athena tampak terkejut dan berusaha mengambil kembali bayi itu.
"Dia bernapas!" pekik Athena dengan tangis tertahan. "Astaga ... dia masih hidup ..."
Mendengar itu, Zelo terduduk dengan lemas, lega, bahagia, dan juga menyesal karena ia nyaris membunuh bayinya sendiri demi menyelamatkan Veryn.
"Maafin Papa ..."
***
"Zelo?" panggil Veryn ketika Zelo hanya berdiri di samping jendela, tak mau mendekat dan melihat bayi mereka di gendongan Veryn. "Kamu nggak mau nyapa Vely?"
Zelo mengernyit. "Veryn, aku ..."
"Athena udah cerita ke aku," Veryn memotong. "Aku bisa ngerti, jadi kamu nggak perlu nyalahin dirimu sendiri. Yang penting, sekarang Vely baik-baik aja."
Zelo menggeleng. "Kalau dia tahu apa yang aku lakuin, dia pasti akan benci sama aku."
Air mata Veryn jatuh. "Dia akan ngerti, Zel."
Zelo menatap bayi di gendongan Veryn. "Aku akan ngelakuin apa pun buat bikin dia bahagia. Aku akan ngelindungi dia dengan nyawaku sendiri. Jadi, tolong ... jangan sampai dia tahu tentang apa yang aku lakuin ke dia. Jangan pernah ... kasih tahu ke dia kalau aku pernah ... nyakitin dia."
Veryn menangis dan mengangguk.
Zelo akhirnya mendekat. Ia menatap bayi merah itu. Lalu, Veryn menyerahkan bayi itu padanya. Zelo menggendong bayi itu dan air matanya jatuh.
"Papa akan selalu menyayangi dan melindungi kamu, Nak. Apa pun yang terjadi, kamu harus tahu, Papa sayang banget sama kamu, Velyan Dirgantara ..."
***
Note:
Ini flashback, yaaa... Anyway, aku nangis pas nulis ini. Huhu... Kesian Zelo... TT
KAMU SEDANG MEMBACA
The Crazy CEO (Crazy Series #1) (End)
RomanceTerlahir sebagai bungsu Dirgantara, tak ada satu pria pun yang cukup berani untuk mendekati Vely. Mengingat keluarganya yang begitu overprotektif padanya. Sampai Devon muncul. Devon akan melakukan apa pun untuk menguasai perusahaan peninggalan pap...
