Minds Open
Siapa sangka acara makan malam di rumah sakit bisa menjadi acara makan malam semenyenangkan ini? Padahal tadinya Devon pikir, ia akan mati tersedak karena terlalu canggung bergabung di makan malam keluarga besar ini. Namun, sama seperti ketika Devon sarapan di rumah Vely, makan malam di kamar rumah sakit itu sama menyenangkannya. Keluarga itu lagi-lagi menunjukkan pada Devon, bagaimana sebuah keluarga seharusnya.
Mereka yang tadinya asyik dengan ponsel, meninggalkan ponsel dan menikmati makan malam sambil mengobrol. Mereka yang tadinya sibuk berdiskusi serius, kali ini makan sambil mengobrol santai, membicarakan hal-hal remeh seperti ban mobil yang bocor, laptop baru yang harus diservis, hingga lampu rumah yang mati.
Setelah selesai makan malam, Devon terkejut mendapati dirinya enggan pergi hanya agar bisa berada di sana sedikit lebih lama lagi, merasakan kehadiran keluarga. Bahkan meski saat ini Devon berada di rumah sakit, rasanya begitu hangat. Jauh lebih hangat dari rumahnya yang kosong dan dingin.
"Kamu mau di sini sampai kapan?" tegur Vely. "Kalau udah selesai makan, kamu pergi, deh."
Devon berdehem menanggapi usiran gadis itu. Ia bangkit dari kursinya, lalu membawa piringnya yang sudah kosong dan mangkuk bubur Vely yang juga sudah kosong, meski gadis itu sempat merengek tadi, dan mengantarnya ke meja makan, tempat yang lain mengumpulkan piring kotor. Devon takjub, bagaimana bisa mereka menyiapkan piring sebanyak ini di rumah sakit? Namun, ia kemudian ingat jika salah satu dari Dirgantara-Global-Diamond sudah membeli rumah sakit ini. Entah yang mana.
"Tante, makasih ..." ucap Devon ketika meletakkan piringnya di meja.
Veryn tersenyum padanya. "Tante juga makasih, ya, Devon, kamu udah nepatin janjimu buat jagain Vely."
Jika yang mengucapkan kalimat itu papa Vely, Devon pasti sudah berpikir jika itu hanya sindiran atau sarkasme.
Devon kemudian menoleh pada Vely yang saat ini sedang bermain-main dengan selimut. Gadis itu berusaha melempar selimutnya ke udara setinggi mungkin, berkali-kali. Tanpa sadar, Devon sudah mendengus geli melihat itu. Syukurlah, dia benar-benar baik-baik saja.
Devon kembali menatap mama Vely untuk pamit. "Kalau gitu ... saya pamit pulang dulu, Tante, biar Vely bisa istirahat."
Mama Vely mengangguk, lalu berseru memanggil putra sulungnya, "Valent, kamu antar Devon sampai ke mobilnya."
"Ngapain sih, Ma?" protes Valent. "Emangnya dia siapa pakai harus diantar-antar segala?"
"Nggak perlu, Tante," tolak Devon. "Saya ..."
"Aku aja yang antar." Suara itu membuat Devon seketika merinding. Ia menoleh ke asal suara dan melihat Zelo sudah berdiri, tatapannya lurus pada Devon.
Kepala Devon seketika memikirkan segala macam skenario. Sejak awal, pria itu sudah tak menyukai Devon. Setelah kejadian ini, tentu dia semakin tidak suka pada Devon. Apa dia ingin membatalkan kesepakatan mereka?
"Eng-enggak usah repot-repot, Om ..." Devon sampai terbata saking gugupnya.
"Nggak repot. Ini sebagai ungkapan terima kasih karena kamu udah jagain Vely dengan baik."
Kali ini sarkasme. Devon bisa mendengarnya dengan jelas. Bahkan, Valent, Alex, dan Zane mendengus geli, menyadari sarkasme yang digunakan pria itu.
Namun, sang Malaikat di keluarga itu, Veryn, dengan polosnya berkata pada suaminya, "Ya udah, kamu aja yang antar dia."
Zelo tersenyum pada istrinya itu dan mengangguk, lalu menghampiri Devon. Devon menelan ludah. Malam ini ... ia bisa pulang ke rumah, kan? Bukan pulang ke tempat lain?
KAMU SEDANG MEMBACA
The Crazy CEO (Crazy Series #1) (End)
RomansaTerlahir sebagai bungsu Dirgantara, tak ada satu pria pun yang cukup berani untuk mendekati Vely. Mengingat keluarganya yang begitu overprotektif padanya. Sampai Devon muncul. Devon akan melakukan apa pun untuk menguasai perusahaan peninggalan pap...
