You Change Me
Begitu tiba di halaman rumahnya, Vely langsung turun dari mobil Valent dan berlari masuk ke rumah. Ketika melihat mamanya di ruang tamu, memasang bunga baru di vas ruang tamu, Vely langsung menghambur memeluk mamanya dan menangis di pelukan mamanya.
"Vely, kamu kenapa, Sayang?" tanya mamanya cemas.
Vely hanya menggeleng di tengah tangisnya.
'Sekarang, kamu udah puas main-main sama Devon?'
Pertanyaan papanya dalam kepalanya itu membuat Vely menoleh. Papanya keluar dari ruang kerja dan memasuki ruang tamu.
'Kamu udah lihat sendiri, kan, dia orang kayak apa?' Papanya duduk di sofa seberang tempat Vely duduk bersama mamanya.
'Kamu tahu sendiri, dia bersikap baik ke kamu cuma demi perusahaannya. Dia ngorbanin nyawanya demi kamu di kebakaran itu? Huh. Itu karena kamu seharga perusahaannya. Jangan salah paham. Dia nggak pernah tulus sama kamu. Itu dia lakuin cuma buat bikin kamu jatuh cinta sama dia. Seperti yang Papa harapkan.
'Kalau kamu udah jatuh cinta dan patah hati sama dia, sekarang waktunya kamu lupain dia dan ngelanjutin hidupmu. Semua orang di luar sana kayak gitu, Vely. Mereka cuma akan manfaatin kamu. Nggak ada yang tulus sama kamu selain keluargamu. Nggak ada orang yang bisa mencintai kamu lebih dari keluargamu.
'Devon? Papa beli dia buat kamu. Sekarang, kamu mau minta apa lagi? Kamu mau Papa beliin apa lagi?'
Vely menangis semakin keras mendengar itu. Vely menarik diri dari pelukan mamanya dan menatap papanya penuh kebencian.
"Aku benci Papa!" seru Vely sebelum berlari masuk ke kamarnya. Vely naik ke tempat tidurnya dan meringkuk di balik selimut, menangis keras di sana.
***
"Eve," panggil Valent ketika Eve keluar dari kamar Vely, tapi wanita itu tak berhenti.
Valent mengejar Eve yang keluar dari rumahnya. Valent berhasil menangkap lengan Eve dan menahan wanita itu sebelum dia masuk ke mobilnya yang terparkir di halaman rumah.
"Aku dan Papa ngelakuin ini demi Vely," Valent membela diri.
Eve menepis tangan Valent kasar dan menatapnya tak percaya. "Demi Vely? Dia bahkan nyaris celaka karena kebakaran itu karena kamu nggak bisa ngelindungin dia! Dan sekarang apa? Kamu buat Vely nangis seharian kayak gitu! Dan kamu masih bisa bilang itu demi Vely?"
"Vely harus mulai belajar tentang dunia luar ..."
"Bullshit!" sambar Eve. "Kamu sama Om Zelo nggak cukup cuma nyiptain dunia yang boleh dilihat Vely, sekarang kalian juga bikin Vely mengenal dunia luar dengan cara yang kalian mau juga? Berhenti manipulasi pikiran Vely kayak gitu! Aku juga peduli sama dia, aku juga sayang sama dia, aku juga akan ngelakuin apa pun untuk ngelindungi dia, tapi aku nggak setuju kalau itu berarti aku harus nyakitin dia."
"Eve, bukan gitu maksud aku sama Papa ..."
"Itu yang kalian lakuin ke Vely!" potong Eve marah. "Kalau kalian nggak mau Vely tahu dunia luar, harusnya kalian ngejaga dia dengan lebih baik. Kenapa kalian biarin Vely pergi ke luar sana, menghadapi orang-orang terburuk yang bikin dia takut pergi ke luar lagi, padahal semua hal buruk itu adalah rekayasa kalian?!"
"Gitu kamu bilang itu untuk Vely? Kamu mau ngelindungi Vely?" Eve menggeleng. "Kamu sama Om Zelo ngelakuin itu untuk diri kalian sendiri. Kalian pengen bawa Vely ke perusahaan Dirgantara biar kalian lebih mudah ngatur kehidupan Vely. Karena itu, kamu gangguin Vely yang udah nyaman kerja di Global sama Alex dan Aries. Vely aman di sana, tapi karena keegoisan kamu dan Om Zelo ..."
"Kamu pikir itu gara-gara siapa?!" Valent meledak juga. "Kamu sendiri sampai beberapa hari lalu menghilang tanpa kabar. Apa kamu tahu apa yang harus aku sama Papa lakuin biar Mama sama Vely nggak khawatir? Apa kamu tahu apa yang harus kami sembunyiin dari mereka?"
Eve mengernyit.
"Begitu Vely masuk ke Dirgantara, dia akan berada di bawah penjagaan penuh Papa. Sementara, aku akan pergi nyusul kamu. Ke mana pun kamu pergi, aku akan ikut. Itu rencanaku sama Papa. Cuma itu satu-satunya cara biar kami bisa melindungi Mama, Vely, dan juga kamu," ungkap Valent.
"Maksudmu ... ini semua ... karena aku?" Bibir Eve bergetar.
"Kamu juga keluarga kami, Eve," ucap Valent.
Eve menggeleng. "Kalau itu berarti aku yang jadi alasan Vely harus terluka kayak gini, lupain aja, Val," ucap Eve getir. "Dan lagi, aku nggak pernah minta kamu buat ngikutin aku. Karena itu, kamu bisa berhenti. Kamu dan perasaanmu ... apa pun itu ... kamu bisa berhenti."
Valent mengernyit.
"Bahkan meski suatu hari nanti aku pergi dan nggak pernah balik lagi ... kamu harus ngelupain aku. Jadi, jangan buang-buang waktu dan tenagamu buat aku, Val. Aku nggak punya masa depan. Aku nggak tahu kapan aku akan kehilangan nyawaku dalam misi. Jadi ... tolong berhenti," Eve meminta. "Nggak ada masa depan buat kita."
Valent melihat ke dalam pikiran wanita itu dan dia meniatkan semua yang dikatakannya pada Valent barusan.
Ketika akhirnya Eve masuk ke mobilnya dan pergi, Valent hanya berdiri di sana tanpa bisa melakukan apa pun. Memangnya, apa yang bisa ia lakukan ketika Eve sudah menentukan masa depannya seperti itu. Masa depan di mana tidak ada Valent di dalamnya.
***
"Jangan percaya apa yang orang lain katakan ke kamu, tapi percaya apa yang kamu lihat dan rasain, Vel. Kamu harus yakin sama apa yang menurutmu benar. Kamu harus nentuin pilihan hidupmu sendiri. Kalaupun itu pilihan yang salah, kamu bisa belajar dari kesalahan. Dengan gitu, kamu tahu pilihan apa yang harus kamu ambil selanjutnya."
Kata-kata Eve itu kembali terngiang di pikiran Vely. Lalu, Vely mengumpulkan kepingan momen-momen yang ia habiskan bersama Devon seperti potongan puzzle.
Sejak pertama mereka bertemu, Vely tahu Devon adalah pria kurang ajar dan menyebalkan. Namun, orang-orang di sekitarnya mengenal pria itu sebagai pria yang kejam. Bahkan, mama kandung dan orang-orang di kantornya menyebutnya monster. Di proyek itu pun, pria itu menunjukkan kekejamannya di depan Vely.
Jika memang seperti itu, kenapa Devon tak memanfaatkan Vely sampai akhir? Kenapa pria itu tiba-tiba mendorong Vely pergi seperti ini? Terlebih, setiap kali Vely menyentuh pria itu, ia bisa merasakan kekhawatiran pria itu. Dan beberapa waktu terakhir, Vely tak bisa melihat ke dalam pikiran pria itu. Tidak ada kebenaran yang bisa dilihat Vely dalam kepalanya.
Jika memang seperti yang dikatakan papanya tadi, Devon menyelamatkan Vely karena bagi Devon, Vely seharga perusahaannya, lalu kenapa pria itu mengakhiri kesepakatannya dengan papa Vely?
Vely menoleh ke arah jam digital di meja samping tempat tidurnya. Sudah jam sepuluh malam. Sekitar satu jam yang lalu, papa dan kakaknya pergi, entah ke mana. Hanya ada mamanya di rumah dan sepertinya mamanya sudah tidur.
Vely mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Devon, tapi tak diangkat. Vely menghubungi Devon sampai empat kali, sebelum akhirnya menyerah. Ia pun akhirnya menghubungi Arya.
Tak seperti Devon, Arya mengangkat teleponnya di dering pertama. Pria itu berbicara dengan nada pelan, nyaris berbisik, "Halo?"
"Arya? Ini aku, Vely. Kenapa Devon nggak ngangkat teleponnya? Apa dia udah tidur? Aku minta alamat apartemennya," buru Vely.
"Pak Devon nggak di apartemen, dia masih di gedung kantor proyek yang tadi," jawab Arya.
"Dia ... ngapain di sana?" tanya Vely was-was. "Apa dia udah mecat semua pekerja proyek tadi?"
"Justru karena seharian tadi Pak Devon membahas masalah tuntutan para pekerja sama beberapa perwakilan pekerja dan baru selesai sekitar sejam yang lalu. Pak Devon ini kecapekan dan ketiduran di sini," cerita Arya dengan suara pelan.
Mendengar itu, rasa sesak yang sedari tadi menghimpit dada Vely, seketika menguap.
"Jangan bangunin Devon, tapi kalau dia bangun, suruh dia nunggu aku. Aku ke sana sekarang," ucap Vely sebelum ia menutup telepon dan melompat turun dari tempat tidur. Vely menyambar kunci mobilnya sebelum keluar dari kamarnya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
The Crazy CEO (Crazy Series #1) (End)
RomanceTerlahir sebagai bungsu Dirgantara, tak ada satu pria pun yang cukup berani untuk mendekati Vely. Mengingat keluarganya yang begitu overprotektif padanya. Sampai Devon muncul. Devon akan melakukan apa pun untuk menguasai perusahaan peninggalan pap...
