Bab 23. His Private Chamber

5.1K 549 32
                                        

UPDATE!!!

Ayo semua merapat! Langsung aja ke cerita, semoga kalian suka dan happy reading 😘😘

Vote comment share

Follow recommend

Love,
DyahUtamixx




Love,DyahUtamixx

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Cain menggeram dan meraung marah, lalu dengan begitu cepat meraih Rosemary, mengangkat tubuh wanita itu, dan membopongnya ke area kolam mandi di pundaknya seperti karung beras. Rosemary memekik dan menggeliat. Ia mencoba menendang dengan kedua kakinya dan memukul punggung Cain, namun Ia hanya bisa menarik napas saat merasakan pukulan yang begitu keras di bokongnya. Rosemary diam terpaku dan merinding saat merasakan tubuh Cain bergetar karena geraman marah yang dikeluarkan oleh monster itu.

Mereka memasuki sebuah area yang sepertinya merupakan area permandian karena Ia bisa melihat kolam mandi yang sudah diisi oleh air berwarna seputih susu. Tidak lama kemudian, Cain kembali mengangkat tubuhnya dan Ia diturunkan dari pundak monster itu. Cain menatapnya dengan sangat tajam, yang sukses membuat Rosemary menundukkan kepala. Tentu saja Cain tidak mengijinkan wanita itu untuk memutuskan kontak mata. Ia meraih dagu Rosemary dan dengan tangan kuatnya, mencengkram dagu itu erat, lalu memaksa wanita itu untuk mendongakkan kepala. "Pandang kedua mataku." Cain mendesis pelan. "Jangan pernah kau sebut makhluk itu di depanku dan jangan pernah mengucapkan nama pria lain selain diriku. Paham?"

Rosemary menatap Cain dengan tatapan menantang. "Kenapa? Takut kau kalah? Well, tidak salah. Makhluk kegelapan sepertimu pasti akan kalah oleh malaikat yang penuh akan cahaya."

"Rosemary, jangan main-main denganku."

"Aku tidak pernah main-main. Itu memang kenyataannya, kenapa kau marah saat aku mengatakan hal yang memang benar adanya?" Rosemary mendesis saat cengkraman tangan Cain di dagunya menguat. Cain memberikan tatapan penuh peringatan pada Rosemary sebelum menyentakkan tangannya kasar. Rosemary meringis dan mengusap area yang sakit sambil menatap Cain dengan tatapan penuh permusuhan.

Cain melangkah menjauh dan memperhatikan penampilan Rosemary dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia menyeringai kecil dan berkata, "tidak bisa dipungkiri, kau memang lebih cantik ketika marah." Rosemary memutar bola matanya jengkel mendengar kalimat Cain yang sekarang tidak lagi terpengaruh olehnya. Cain tentu saja mengerutkan kening melihat reaksi wanita itu, tapi tidak mengatakan apapun. Ia hanya memberikan tanda pada pelayan yang ternyata sedari tadi berada di ruang permandian, menunggu sang Raja.

Rosemary langsung merasakan pipinya memerah karena malu. Ia tidak menyangka melakukan perdebatan dengan Cain di depan ora---maksudnya monster lain. Rosemary hanya bisa pasrah ketika pakaian satu persatu dilepas, meninggalkan tubuu polosnya menjadi pemandangan monster yang selama ini menghantui mimpinya. Cain tersenyum puas dan menyusul Rosemary dengan melepaskan pakaiannya. Setelah itu Ia kembali menghampiri Rosemary dan membawa wanita itu di gendongannya ke dalam kolam mandi.

The Dark DesireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang