bw.17

4.8K 470 27
                                        

*Win POV*

- beberapa menit sebelumnya -

Gue ngga pasti berapa lama gue ngga menyadarkan diri tapi setelah akhirnya gue sadar, kepala dan kaki gue langsung diserang perih dan sakit yang luar biasa.

Dan gue akhirnya sadar kalau tangan gue diikat "sialan" gue mencoba untuk melepaskan ikatan yang lumayan kuat itu namun sama sekali tidak berhasil.

Gue langsung berhenti saat mendengar suara dari semak-semak, tentu saja gue berharap itu salah satu teman gue tapi yang muncul malah cowok asing berusia sekitar 28 tahunan.

Walaupun disini sangat gelap, gue bisa melihat wajahnya dengan jelas, wajahnya tidak terlihat seperti orang yang pernah membuat kejahatan, itu membuat gue sedikit lega.

"Eh? Lo udah bangun? Maaf ya tadi gue mukul kepala lo kekerasan ya?" Dia menyeringai lalu jalan mendekat ke gue "sakit ya..?" Dia mulai menyentuh badan gue yang mampu membuat gue merinding.

"Gue ngga akan main kasar kok, lo tenang aja" dia mulai melepas jaketnya, gue masih berusaha untuk melepas tali yang terikat ditangan gue.

"L-lo mau ngapain" tanya gue sedikit gagap "gue.. pengen main sama lo" dia menyeringai lalu mendekatkan muka nya ke leher gue.

"Lo wangi" gue merinding saat dia mulai mengecup leher gue "BANGSAT AWAS LO" teriak gue kesal, namun itu malah membuat dia tersenyum "galak banget" dia menyeringai.

"Gue dari tadi udah pengen banget nyobain bibir lo" dia langsung menabrakkan bibirnya ke gue dengan kasar "HMMMPH" gue berusaha untuk melepas namun dia jauh lebih kuat.

Setelah selesai dengan bibir gue dia turun ke leher gue, gue bisa merasakan hisapan dan jilatan, itu membuat gue jijik.

"SIALAN! AWAS LO" gue mencoba untuk mengunakan kaki gue namun rasa sakit masih menyerang.

"M-mau ngapain lo" gue panik saat dia mulai memasukan tangannya kedalam baju gue "MINGGIR ANJING" dia sama sekali tidak mendengar sambil lanjut menyentuh tubuh gue.

"BANGSAT LO APAAN LIAT-LIAT!? JIJIK GUE BANGS-HMMPHH" dia menabrak bibirnya ke gue dengan kasar, gue mencoba untuk tetap menutup mulut gue erat, sampai dia menggigit bibir gue "HMPHHH" dia langsung mengeluarkan lidahnya yang membuat gue tambah jijik.

Satu menit serasa selamanya.

Dia terus meremas lengan gue dengan kuat, gue yakin lengan gue bakal merah-merah.

"LO MAU NGAPAIN BANGSAT!? AWAS AJA LO SAMPAI BERANI NYENTUH GUE LAGI" teriak gue ketika dia mulai membuka resleting celananya.

"Lo ngga usah takut, ini ngga akan sakit kok, lo ikuti alunan gue aja" dia lalu menyekap mulut gue, tentu saja gue mencoba untuk teriak tapi disini sama sekali ngga ada orang ditambah gue yang sedang disekap.

Gue akhirnya menutup mata, menyerah.

Sampai gue mendengar suara seseorang yang sangat familiar.

"P'Joss?!?" Gue merasa sangat lega saat melihat P'Joss sedang menghabisi mahluk sialan itu.

- beberapa saat kemudian -

Saat Bright berada tepat didepan gue, hanya rasa benci yang gue rasakan. Gue benci ngelihat muka dia yang sok panik, gue benci dia yang memanggil nama gue.

Gue benci.

Saat gue sedang lelang, gue kaget karena seseorang menarik gue dari belakang dan tanpa gue sadari, sebuah pisau sudah ada tepat dileher gue.

"Kalau pisau ini gue gores ke lo boleh ngga ya..?" Gue ketakutan setengah mati, ditambah gue harus menahan rasa yang sangat amat sakit dikaki gue.

"LO KALAU BERANI APA-APAIN DIA, LO BERURUSAN SAMA GUE" kesal Bright, cowok tersebut hanya tertawa ngakak "apa? Lo... lumayan ganteng juga sih~ semalam berapa?" Dia tertawa puas "Dasar psikopat gila" ucap Bright pelan.

Gue lebih jijik sama Bright yang barusan mengatakan kalimat yang seakan-akan gue sangat berharga untuk dia.

"Tapi yang seimut ini ngga boleh digores dong.. iya ngga?" Dia tertawa puas.

"BANGSAT LO SIALAN JIJIK GUE" teriak seseorang dari belakang. Saat mahluk yang disamping gue jatuh ke lantai, gue langsung kehilangan seimbang.

"WINNNNN LO GAPAPA KAANNN" ternyata itu Gun dan New, gue ngga tau kenapa mereka bisa tau gue disini.

Mereka langsung membantu gue berdiri.

"Gue gendong aja" gue menatap Bright yang barusan mengeluarkan kalimat yang benar-benar bikin gue jengkel "gue sama mereka aja."

.

"Masih sakit..?" Tanya Puimek, gue menggeleng lalu tersenyum "lo tenang aja, gue kan kuat, makasih ya udah mau obatin luka-luka gue" walaupun kaki dan kepala gue masih sakit tapi gue ngga mau bikin mereka khawatir.

"Oh iya! P'Joss mana?" Puimek berpikir sebentar "tadi P'Joss sih bareng Bright kayaknya dia dibawah deh" gue mengangguk lalu berusaha untuk turun dari kasur yang sedang gue tiduri.

'ANJIM SAKIT BANGET' gue kaget karena rasa sakit yang gue rasain lebih parah saat gue jalan "eeeeh, lo mau ngapain??? Kaki lo masih belum sembuh" Puimek membantu gue berdiri.

"Gue mau ke P'Joss" Puimek menggeleng "ngga boleh, lo harus istirahat Winn" gue masih bersikeras untuk jalan, akhirnya Puimek pun membantu.

"Woi woi mau kemana kalian" ucap Gun dan New yang baru masuk ke kamar dengan kantong plastik penuh makanan "berisik" balas gue.

Gun dan New langsung membantu gue.

.

Saat gue udah sampai dibawah, ternyata P'Joss sedang duduk di ruang tamu "P'Joss" saat gue panggil, ia langsung noleh "Win? Lo udah gapapa kan?" Gue mengangguk "P' makasih banget ya, coba aja tadi P' ngga ada" P'Joss tersenyum lalu mengusap rambut gue "iyaa."

"Guyss~~ kita mau beli cemilan, kalian ada yang mau nitip~?" Suara Jane berhasil menarik perhatian kita semua.

Entah apa yang gue rasakan saat ini, entah gue marah, kesal atau cemburu saat melihat Jane memeluk lengan Bright.

"Bisa-bisanya kalian pergi beli cemilan? Bright lo ga peduli sama si Win?" Puimek tanya dengan nada sedikit kesal "Win? Dia baik-baik aja kan? Terus..?" Gue memutar bola mata malas "yaudah Puimek, biarin aja" gue menggenggam tangan Puimek mencoba untuk tenangkan dia.

"Kalau ngga ada yang mau nitip yaudah kita duluan yaa" Jane menarik lengan Bright lalu keluar dari villa.

.

Apa cuman gue yang ngerasa kalau Bright berubah seperti awal kita ketemu?

Setiap kali mata kita bertemu, dia selalu menatap gue dengan tatapan yang susah dijelaskan. Dia juga ngga pernah ngomong sama gue.

Padahal dia yang salah, kenapa malah gue yang jadi penjahat dicerita ini?

Dan soal gue kerja, gue tentu saja masih kerja dengannya.

Gue sempat berpikir untuk berhenti, tapi gue ngga tau cara membuka percakapan dengan dia, kita udah seperti orang asing.

Apa ini akhir dari cerita kita?

Apa dari awal dia memang cuman mainin perasaan gue?

Dan gue jatuh ke permainan bejatnya?

Gue ngga mau egois, gue emang jatuh hati ke dia, selama ini dia bersikap seakan-akan gue adalah dunia dia, tapi pada akhirnya semua itu hanyalah permainan yang dibuat-buat.

Bego nya lagi, gue dibutakan oleh sikap manisnya yang hanya sesaat.

Apakah dia memang merencanakan ini?

Membawa gue melayang begitu tinggi lalu menghempas gue begitu saja?

Kalau iya, berhasil.

Apa yang dia rencanakan berhasil, gue benar-benar hancur saat ini.

.

HALAH SI BRAIT KESEL BAT PEN TAK HIH 😀🔪

Eheuheueh makasih udh mau baca sampai sejauh iniii 😭😭💛

shadow || Brightwin ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang