bw.31 *end*

7.1K 459 31
                                        

*Win POV*

Setelah kejadian dimana Bright memaksa gue untuk menjadi pacarnya dan gue ngga dibolehin untuk menolak, hari-hari gue selanjutnya menjadi semakin.. biasa aja sih. AHAHAHAHA.

"Masak apa yang?" Gue membeku saat Bright memeluk gue dari belakang sambil menaruh dagunya di pundak gue.

"Sejak kapan lu panggil gue pakai panggilan yang" dia melepaskan pelukannya, gue binggung tapi ngga begitu peduli in.

Sampai dia memutar kedua pundak gue, membuat gue menghadap ke dia.

"Gue ngga boleh panggil pacar gue sayang?" Dia menaikkan alis, gue menelan ludah dengan susah payah.

Gue semakin gugup saat dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang gue.

"Kenapa gugup banget sih? Gemes tau ngga" dia terkekeh sambil mencubit pipi gue.

"Pipi lo kenapa merah banget? Lo malu sama pacar sendiri?" Sial. Gue yakin pipi gue makin merah.

Dia mengecup bibir gue sekilas "gemes gue" dengan muka tidak berdosa, dia mengusap rambut gue dengan bar-bar.

Toktoktok

Bright menoleh kearah pintu utama "siapa itu yang?" Gue memutar bola mata malas "emang gue punya indra ke-enam?" Gue lalu lanjut memotong sayur-sayuran lalu menaruh di air mendidih.

"Yaudah, gue buka dulu ya yang" Bright lalu pergi membukakan pintu.

Cukup lama untuk Bright membuka pintu.

"Siapa?" Gue langsung tanya saat dia akhirnya kembali dengan kantong ditangannya.

.

*Bright POV*

"Maaf mas, ngga nerima sumbangan" ucap gue setelah membuka pintu.

Ternyata itu Kevin.

"Kenapa lo disini?" Pertanyaan Kevin berhasil membuat gue mengerutkan kening "woy lo salah dialog! Itu dialog guee" itu membuat kita diam-diaman untuk sesaat.

'Si author kurang kasih sayang nih, makanya ngga fokus' batin Bright.

"Tau aja woy! Author emang lagi kurang kasih sayang"
/nangis dipojokan gunung

"Jadi, lo ngapain kesini?" Tanya gue, dia malah tersenyum "lo udah sehat banget ya" gue binggung "ternyata benar ya, lo emang kuat banget" lanjutnya.

"Nih gue mau balikin baju sama celana lo yang ketinggalan di tempat gue bulan lalu" gue berusaha untuk mengingat kejadian bulan lalu.

Gue ngga ingat.

"Makasih ya, ntar gue kasih nasi kotak deh" Kevin langsung melemparkan plastik yang ia genggam ke muka gue.

"Ampun bang" gue terkekeh pelan.

"Lo mau masuk atau mau jagain rumah gue?" Lanjut gue, dia hanya menggeleng "Bright, gue hanya minta satu hal sama lo" gue mengerutkan kening karena dia berubah menjadi sangat serius.

"Jangan-jangan lo mau ngutang? Gue ngga ada uang" dia menatap gue dengan tatapan datar "gue serius" katanya.

"Gue hanya minta lo untuk jagain dan cintai Win dengan sepenuh hati lo, jangan pernah bikin dia nangis, apalagi bikin dia sakit" gue terdiam, maksudnya apa?

"Iya, gue emang suka sama Win dan sekarang gue merelakan orang yang gue cintai untuk orang lain, jadi gue ngga mau ngelihat Win nangis kalau lagi bareng lo" jujur gue sedikit kaget.

shadow || Brightwin ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang