"Om... om Bright kenapa sih suka banget masuk rumah sakit? Ano jadi pusing mikirinnya," ucap Keano dengan wajah polos.
Seketika seisi ruangan tertawa, termasuk Bright yang terkekeh mendengar ocehan bocah kecil itu.
Hari ini Bright sudah sadar sepenuhnya. Wajahnya memang masih terlihat pucat, tapi setidaknya ia sudah bisa mengobrol dan bercanda dengan semua orang.
"Ya wajarlah, No. Om Bright kan cowok. Sukanya main berantem-beranteman," sahut Gavin.
"Shut! Jangan dikasih tahu gitu, Vin. Dia masih kecil," tegur Edwin.
"Ano, nggak usah dipikirin. Nanti malah makin pusing," timpal Devan sambil mengusap kepala Ano.
"Ano lucu banget, sih. Jadi pengen gue bawa pulang," kata Aksa gemas.
Bright mengelus rambut Ano pelan.
"Ano, om nggak apa-apa kok. Maaf ya udah bikin Ano pusing gara-gara om."
"Iya om, nggak apa-apa. Soalnya kalau om masuk rumah sakit terus, Aunty Alea sedih mulu. Kasihan..."
Semua orang langsung saling pandang.
"Ni anak pinter amat ngomongnya," gumam Devan.
"Iya, gemes banget. Jadi pengen culik aunty-nya aja," celetuk Edwin.
Seketika Bright menatap Edwin dengan tatapan tajam.
Edwin langsung mengangkat kedua tangannya.
"Iya-iya, elah. Bercanda doang. Posesif amat, sih."
Gavin malah menepuk bahu Ano.
"Ano, nanti kalau udah gede harus bandel ya kayak kita. Rasanya mantap, tau."
Plak!
"Aih! Sia téh meuni goblok!" Aksa menjitak kepala Gavin.
(Aih, kamu mah goblok banget!)
Ano menggeleng cepat.
"Enggak mau ah. Nanti aunty nangis terus kalau aku bandel."
"Nah tuh! Anak kecil aja lebih pinter. Lo yang udah tua malah goblok," kata Devan sambil ngakak.
Semua kembali tertawa memenuhi ruangan.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka.
Alea masuk sambil membawa satu kantong plastik besar berisi makanan.
"Eh... lagi pada jenguk Bright ya? Maaf ya, gue nggak tahu kalau ada kalian," ucap Alea sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Santai aja kali."
"Oh iya, Bright mau makan kan? Yaudah yuk, guys, kita keluar," ajak Aksa.
"Iya dah. Takut ganggu," sambung Gavin.
Bright langsung mengusir mereka.
"Hussh! Sana keluar semua."
"Iya, iya, Tuan Pasien."
Begitu semua keluar, ruangan langsung terasa jauh lebih tenang.
Alea menaruh kantong plastik di atas meja lalu mulai mengeluarkan satu per satu isinya.
Bright memperhatikan Alea tanpa berkedip.
"Kamu habis dari mana?"
"Abis dari luar. Beli makanan sama susu buat Ano."
"Dianterin siapa?"
"Aku naik taksi."
Bright langsung mengernyit.
KAMU SEDANG MEMBACA
POSSESIVE BOYFRIEND[END]
RomanceSEBELUM BACA, FOLLOW DULU YUPS! 💋 "Ada yang punya pacar posesif, bahkan sampai menyeramkan? I'm Alea... and I'm okay." Alea, gadis cantik yang disegani di Civaree School. Di balik tatapan tajam dan sifatnya yang super judes, ternyata ia menyimpan h...
![POSSESIVE BOYFRIEND[END]](https://img.wattpad.com/cover/227310075-64-k844180.jpg)