'Tuan Gamaliel, Tuan Bryan sudah sadar!'
Kata dari suster yang menghubunginya itu, langsung mengundang Gamaliel untuk segera berlari kembali ke ruangan Bryan. Akhirnya ... akhirnya setelah sekian lama, Bryan sadar.
"Bry ...." Gamaliel berujar begitu lirih tatkala membuka pintu dengan kasar, ia melihat Bryan yang sedang terduduk bersandar pada bantal yang diberdirikan. Membuat lelaki itu memberikan atensi dengan pandangan yang sulit didefinisikan.
Beberapa saat keduanya mematung, bertatapan dengan lekat. Mengikat perasaan yang bercampur dengan erat.
Kalau dikatakan rindu, sudahlah pasti Gamaliel rindu. Hanya saja Gamaliel masih terpaku, masih tak percaya bahwa Bryan benar-benar sudah kembali setelah kondisinya yang dari kemarin sering memburuk.
"Gama ... kamu mau berdiam diri di sana sampai kapan?" tanya Bryan dengan suaranya yang serak, tapi cukup untuk membawa Gamaliel kembali dari tenggelaman perasaannya.
Dan dengan ragu Gamaliel melangkah, "Bryan ...."
"Ya, Gama?"
"BRYAN!"
Bryan melotot kaget karena tiba-tiba Gamaliel meraung menyebut namanya. Belum lagi dengan terjangan tiba-tiba dari Gamaliel yang memeluknya sembari menangis dengan keras. Lelaki Indonesia itu terus menyebut namanya di tengah isakan yang masih belum ada niatan untuk mereda.
Gamaliel dapat merasakan tulang-tulang di balik kulit Bryan yang semakin menonjol, sekian lama tertidur pasti mengakibatkan lelaki itu menjadi kurus. Sedangkan Bryan yang dipeluk begitu hanya bisa tersenyum tipis sembari mengelus punggung Gama yang sempit.
Hati keduanya menghangat, merasakan ada rasa sesak karena terlalu senang akan kehadiran masing-masing. Mereka saling merindukan, dan akhirnya benar-benar dipertemukan dengan keadaan yang sama-sama sadar.
"I miss you, so bad." Bryan berkata dengan lirih, tepat berada di samping telinga Gama. Membisikinya dengan segenap hatinya. Ia tak bohong.
Si lelaki Indonesia mengangguk karena ia memang merasakan hal yang sama.
"Akhirnya kamu kembali," balas Gama. Tangisannya sudah reda, meninggalkan sisa isakan yang sebisa mungkin ia tahan.
"Ya, I'm home."
-
Bryan tak tahu ada angin apa pada Gamaliel yang tiba-tiba menjadi menempel padanya. Manja itu ... seperti bukan gaya Gama sama sekali.
Apalagi sebelum ia koma, bukankah mereka ada masalah? Bukankah Gamaliel lari dari kekangannya?
... Kenapa tiba-tiba?
Apa karena Gamaliel mengasihaninya? Ia tahu, kondisinya saat ini benar-benar mengenaskan. Sangat jauh dari kata baik-baik saja. Tapi, jika Gamaliel hanya mengasihaninya alih-alih memberikan cinta yang sebenarnya, untuk apa?
Tidak, Bryan berpikir begini bukannya ingin merelakan Gama. Ia hanya kaget akan perubahan Gama yang menjadi drastis setelah dirinya bangun. Gamaliel pun tak membahas masalah sebelum ini, seolah tak pernah ada hal buruk yang terjadi pada keduanya.
Hari sudah malam, Gamaliel telah terlelap di sampingnya. Memeluknya dengan erat, yang mana dibalas oleh rangkulan dari lengannya. Memang, Gamaliel tertidur bersamanya, di sisinya. Tepatnya di atas ranjang rumah sakit yang untungnya cukup untuk kedua lelaki ini tidur.
Ia juga lelah, otaknya belum bisa dibuat berpikir terlalu keras. Oleh karena itu, Bryan ikut memejamkan matanya. Berharap jika ia bangun keesokan harinya, Gama masih berada di sampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE FEELINGS
RomanceBryan Johnson, lelaki berdarah Amerika itu ikut dengan ayahnya ke Indonesia guna melihat anak adopsiannya--katanya--ia bertemu dengan Andreas bersaudara yang ternyata tinggal bersama paman dan ayahnya yang miskin. Pantas saja ayahnya ingin mengadops...
