Hal. 13 | Wabah Penyakit Bag. 4

128 13 3
                                        

Pria pemegang golok tertawa. Ia menggenggam kaki kanan pria berkerudung lalu menariknya. Lantas pria itu kaget, begitu pula dengan bu Yeni, Bayuaji, Juna, Ujang, Hasta.

"Jangan remehkan kami ...!"

Ia menarik kerambit tadi lalu mengubah arah tebasan ke perut.

Prook! Pria berkerudung memegang tangannya dan membantingnya. Wanita pemegang kerambit tangannya terpelintir dan berputar. Namun, putaran itu tidak membuatnya terbanting. Ia berputar 180 derajat dan kembali ke posisi semula.

Pria pemegang golok kembali berdiri. Ia memasang sergap golok. Begitupun dengan wanita pemegang kerambit, ia juga memasang sergap kerambit.

Pria berkerudung nampak tersenyum. Walaupun posisinya seharusnya terpojok. Belum lagi pendekar berbadan besar tadi masih belum menunjukkan kebolehannya. Ia masih duduk di dekat pintu dan menonton berlangsungnya pertarungan.

Pertarungan 2 orang melawan 1 orang, memang tidak adil. Pasalnya ini adalah bukanlah ajang kompetisi, melainkan pertarungan sungguhan.

"Hahahaha!" tawa pendekar berbadan besar.

Pria berkerudung terlihat tenang. Ia menghela napas lalu melepas sendal jepitnya.

Ia memposisikan tangan dan kakinya seperti kera berjalan. Berjalan ke kiri, kembali ke kanan, lalu mundur lagi, napasnya ditarik dengan cepat.

"Begitu ya, kau sedang melakukan seni pembuka rupanya ...."

Seni pembuka adalah rangkaian gerakan unik dari setiap aliran. Tujuannya untuk menghargai dan menghormati leluhur mereka serta musuh yang akan dihadapi. Gerakan ini dilakukan biasanya sebelum melakukan jurus silat.

"Jumping-vortex!"

Dengan gerakan cepat, pria berkerudung melompat tinggi lalu merangkul kepala pria pemegang golok. Ia memutar kepalanya hingga terjatuh.

"Aaaaah ...!" teriak pria pemegang golok.

Pria berkerudung kembali melompat tinggi lalu merangkul wanita pemegang kerambit. Ia juga memutar kepalanya hingga terjatuh.

Mereka berdua terjatuh pingsan. Hidung dan mulutnya mengeluarkan darah.

"Boleh juga kau, tuan ...!"

Melihat jurusnya, pendekar berbadan besar tersenyum lebar. Sorot matanya sama menyeramkan seperti pendekar bersabuk jingga yang pernah ditemui Bayuaji sebelumnya.

"Gerakan-gerakan itu ..., sudah jelas itu aliran yang jarang terlihat! Aliran Cakar Kera!"

Pria berkerudung mengabaikan perkataannya. Ia kembali melompat tinggi, lalu merangkul kepalanya.

Namun, pendekar itu tidak terjatuh. Ia masih dalam posisi duduk dan tetap bertahan.

Bayuaji dan yang lain kaget melihatnya. Pasalnya pria berkerudung telah menjatuhkan pendekar tadi dalam satu serangan. Sedangkan sekarang malah tidak bergerak sama sekali.

Pria berkerudung melepaskan rangkulannya. Ia memasang sergap silatnya. Karena pria yang sekarang ia hadapi nampaknya lebih berbahaya.

"Sunem dan Nadam ..., kau berhasil mengalahkannya ...!" ujar pendekar berbadan besar.

Pria berkerudung memegang kerudungnya. Ia membuka kerudung itu. Ternyata, pria berkerudung itu adalah eyang Pur.

Bersambung ....

Catatan Penulis: "Jangan cuma baca ya, tapi dukung juga dengan cara vote dan komentar. Biar tidak ketinggalan halaman terbarunya, pastikan kalian sudah follow!"

Dukung dengan donasi: https://trakteer.id/aprizaprasetio

Tanggal publikasi: 8 November 2020

Karya JAWARA adalah karya orisinil dari Apriza Prasetio yang terinspirasi dari budaya-budaya Indonesia, khususnya silat dan kepercayaan masyarakat.

JAWARACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang