Hal. 6 | Padepokan Bag. 2

260 21 2
                                        

Tanpa pikir panjang, Sakar langsung membawa Bayuaji masuk ke dalam Padepokan. Namun kakek itu memarahi Sakar dan melarangnya masuk.

Sakar telah menjelaskan beragam alasan, tetapi kakek itu selalu melarang. Dari nada bicaranya, kakek itu sangat serius melarang mereka masuk.

"Kau tak kuzinkan membawanya masuk!"

"Tapi, eyang Pur ...." Sudah berkali-kali dirayu, tetap saja eyang Pur terus melarangnya.

Di saat itu, ketika Bayuaji pertama kali melihat padepokan. Hatinya terpukau dengan latihan keras murid-murid di sana. Dalam benaknya terlintas niat untuk berlatih di tempat ini. Niat itu muncul tanpa keraguan sedikit pun.

"Tolong turunkan aku, tuan ...." sahut Bayuaji.

Seketika Bayuaji bersujud memohon di depan eyang Pur untuk mengajarinya silat. Apapun akan dilakukannya, termasuk merendahkan harga dirinya demi bisa dilatih di sana.

"Tolong ... biarkan aku tinggal disini! Aku ingin menjadi seorang pendekar!" Bayuaji memohon serius dengannya. Namun eyang Pur menolaknya begitu saja. Nampaknya di padepokan itu tidak mau menerima murid lagi.

Walaupun tertolak begitu saja, Bayuaji tidak akan menyerah dengan mudah. Ia terus memohonnya dalam keadaan harga diri yang sudah terbuang. Begitu pula dengan eyang Pur, ia juga terus menolaknya.

"Sakar ... bawakan dia nasi bungkus lalu usir dari sini!"

"Tidak ... tunggu dulu ... aku harus menjadi kuat!"

Sakar merasa bersalah ketika mengusir Bayuaji. Namun, ia tetap menuruti perkataan gurunya. Dengan berat hati, ia mengantar Bayuaji keluar gerbang padepokan dan memintanya pergi.

"Maafkan aku, ji ... eyang Pur bukan bermaksud seperti itu,"

"...,"

"Jadilah bocah yang baik ... jangan mencuri lagi ya ...!"

Setelah itu, Sakar pergi meninggalkanya. Meskipun sudah diusir, Bayuaji tak kunjung pergi. Lagipula, ia tidak punya tempat untuk pulang lagi.

Hari telah berlalu, Bayuaji masih saja berada tepat di depan gerbang. Hingga murid-murid padepokan di sana memperhatikannya. Sudah pasti, mereka bertanya-tanya kenapa Bayuaji tak kunjung pergi dari sana. Lalu mereka pun memutuskan untuk menanyakannya.

"Halo ... kau kan bocah yang sudah diusir? Kenapa masih disini?"

"Namaku Bayuaji ... aku ingin berlatih di sini! Aku ingin menjadi kuat!" jawab Bayuaji.

"Salam kenal ... namaku Ujang,"

"Kalau aku Juna ... dan yang masih latihan disana Hasta!"

Kemudian Bayuaji menceritakan ambisinya kepada Ujang dan Juna. Ia memberitahu semuanya, termasuk persoalan kematian ayahnya dan sumpah balas dendamnya.

Menanggapi ceritanya, mereka ikut sedih mendengar itu. "Jadi ... kau ingin balas dendam? Bukannya kata eyang ... balas dendam itu buruk ...?" tanggap Ujang.

"Kasihan sekali ... Ini kuberi kau klepon ...rasanya enak tahu!" Juna dan Ujang memberi simpati kepada Bayuaji.

Bersambung

Jangan lupa vote, comment, dan follow agar tidak ketinggalan halaman terbaru!

Donasi: https://trakteer.id/aprizaprasetio

Tanggal rilis: 30 Oktober 2020

Author: Apriza Prasetio

JAWARACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang