Chapter 3

84 17 5
                                        

Rena mengulurkan tangan, "Rena."

Lelaki itu mengerutkan kening bingung, lalu dengan ragu menjabat tangan gadis asing di hadapannya.

Rena menjabat erat tangan lelaki itu,
"Saya suka kamu."

"Hah?" Dengan cepat lelaki itu melepas paksa jabatan di tangannya.

Saat lelaki itu hendak meninggalkan Rena, gadis itu menahan lengannya. Menimbulkan rasa ngeri terhadap gadis asing di depannya ini.

"Wait! Tadi saya liat dance kamu."

"Terus kenapa? Mbak ini siapa?" Tanya lelaki itu tidak nyaman.

Rena tersenyum lebar, merogoh brosur yang ada di tasnya, lalu memberikan brosur tersebut pada lelaki tersebut.

"Ini apa?"

"Brosur!" Jawab Rena semangat.

"Iya gue juga tau ini brosur. Tapi brosur apa?" Tanya lelaki itu yang sudah tambah kesal dengan kehadiran Rena.

"Buat jadi idol!" Jawab Rena antusias.

Lelaki itu memutar bola matanya malas dan hendak pergi meninggalkan Rena, namun lagi-lagi kepergiannya ditahan oleh gadis tersebut.

"Please baca ya! Di situ udah saya cantumin nomor saya. Kamu bisa hubungin saya di situ. Dan besok minggu kan? Besok saya tunggu kamu di taman dekat perpustakaan kota jam sepuluh pagi! Oke?"

Lelaki itu hanya menatap aneh gadis di depannya. Belum sempat ia menjawab ucapan panjang lebar dari gadis asing di depannya, gadis itu sudah mengangkat panggilan telepon lalu melambaikan tangan ke arahnya sebelum berlalu pergi dari hadapannya.

"Rena?" Ujarnya mengingat nama seorang gadis asing tadi seraya melihat brosur yang baru saja ia dapat.

***

Galang memasuki kamarnya. Rasa bersalah menyeruak dalam dadanya karena tanpa sadar telah meninggalkan Rena sendirian di tempat ramai itu.

Segera ia mengecek ponselnya. Terdapat banyak panggilan tak terjawab serta pesan dari Rena. Dengan cepat ia menekan tombol memanggil di layar ponselnya.

'Galang?! Lo dimana?'

"Sorry, Ren. Tadi gue disuruh balik sama Nyokab. Lo masih di sana?" Jawab Galang dengan alibinya.

'Masih. Wait, wait! Sampai besok ya!'

Galang mengerutkan keningnya heran, "Ngomong sama siapa lo?"

'Hah? Apa Lang?'

"Gak jadi. Cepetan gih lo pulang! Keburu malem."

'Oke! Nanti gue kabarin pas nyampe rumah, biar lo gak khawatir!'

"Dih, pede amat."

Tanpa menjawab ucapan terakhir dari Galang, Rena sudah memutuskan sambungan telepon mereka.

Galang hanya tersenyum tipis menyadari Rena tidak marah sedikit pun padanya. Pikirannya mulai bergelayut memikirkan bagaimana bisa ia berteman dengan gadis itu.

Bahkan semasa SMA dulu mereka tidak pernah bertegur sapa. Hanya karena hampir setiap hari bertemu di wilayah perpustakaan, membuat mereka menjadi dekat seperti saat ini.

***

"Ihhh! Ayo Lang, cepetan dikit!"

Galang hanya mengikuti Rena dengan langkah kaki malas. Membuat Rena lagi-lagi dengan tidak sabaran menarik pergelangan tangannya dan berlari secepat yang gadis itu mampu.

BATAS MIMPI [✔] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang