Chapter 18

33 9 0
                                        

Musik video debut One Dream menjadi tranding YouTube di Indonesia. Nama grup bentukan RN Entertainment itu juga ada di pencarian teratas berhari-hari lamanya.

Naasnya, ketenaran itu bukan karena masyarakat tertarik pada bakat mereka. Melainkan mereka mendatangi channel RN Entertainment dengan hujatan yang tiada hentinya.

Jaka memasuki gerbang sekolahnya. Banyak pasang mata menatapnya remeh, bahkan tidak segan mereka menyindir Jaka.

'Malu banget gua! Di sekolah ini ada salah satu Manusia Halu!'

'Ganteng sih..... Tapi Halu'

'Bikin malu nama sekolah'

Rasanya air mata Jaka sudah siap untuk terjun saat mendengar hujatan mereka. Namun ia masih ingin terlihat tegar dan kuat.

Tiba-tiba, Jaka merasakan sebuah tangan merangkul pundaknya ringan. Membawa Jaka lebih dekat dengannya. Jaka pikir, itu adalah salah satu siswa yang ingin mengejeknya, ternyata ia salah dengan tebakannya.

Jaka meliriknya, "Kak Jay?"

"Jangan didengarin!" Sahut Jay.

Jaka tersenyum lega karena Jay ada untuknya. Ia juga tidak menyangka Jay mau berada di dekatnya. Karena biasanya Jay akan memberi jarak antara mereka berdua saat berada di lingkungan sekolah.

"Kelas lo di mana?" Tanya Jay.

Jaka menggelengkan kepala, "Gak usah diantar Kak. Aku bisa sendiri."

Jay terkekeh, "Siapa yang bilang gue bakal ngaterin lo?"

Jaka mengerutkan keningnya, "Terus?"

"Biar kalo lo digangguin, gue bisa langsung dateng belain."

Jaka tersenyum hangat, "10 IPA 2 Kak!"

Jay mengangguk, "Oke!"

Memang semenjak kedatangan Jay, suara bising orang yang menyindir Jaka meredam. Dapat Jaka rasakan aura Jay yang disegani oleh banyak siswa-siswi di sini.

Keluarga Jay yang memiliki pengaruh besar di dunia industri dan ekonomi, membuat sosok Jay turut disegani.

"Makasih Kak." Ucap Jaka sebelum berpisah dari Jay yang merupakan kakak kelasnya.

Lelaki berdarah campuran Kanada itu tersenyum tipis, "Aman."

***

Rena berjalan gontai menuruni anak tangga rumahnya. Hari sudah pagi, ia harus segera berangkat menuju restoran tempatnya bekerja.

"Lihatkan akhir dari impian bodoh kamu?"

Suara sengit yang tak asing lagi itu menampar kedua gendang telinga Rena. Membuat gadis itu reflek menghentikan langkah kakinya.

"Rena berangkat dulu Yah."

Saat Rena hendak melangkahkan kembali kakinya, Ayahnya sudah berdiri tepat di depannya.

"Apa kamu gak mikirin masa depan anak-anak itu? Apa mau kamu mereka jadi orang halu kayak kamu?!"

Bibir Rena bergetar, menahan tangis yang seakan ingin meledak di depan Ayahnya. Namun ia harus kuat. Dia tidak boleh kalah dari air matanya sendiri.

"Rena percaya semuanya bakal membaik." Lirihnya tanpa berniat menatap sang Ayah.

'Plak'

Tidak habis pikir dengan isi kepala anaknya, Ayah Rena tidak sengaja menampar Rena untuk kedua kalinya.

BATAS MIMPI [✔] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang