3 Tahun yang Lalu...
Kriss dan Kay berjalan di tepi jalan raya. Keduanya saling bergurau dan sesekali melantunkan lagu yang nantinya mereka tampilkan.
"Kriss! Bentar lagi mulai!" Pekik Kay setelah mengecek ponsel.
Kriss mengerutkan keningnya, "Loh? Bukannya lo bilang jam empat?"
Kay mengutuki dirinya, "Ternyata jam setengah empat."
"Lahh bego." Ucap Kriss asal.
Dengan cekatan Kriss menarik lengan Kay untuk berlari ke tempat tujuan mereka. Tempat audisi.
"Sorry banget! Gue gak tau kalo mulainya jam setengah empat!" Pekik Kay di sela langkah kaki mereka.
Bagaikan hilang akal, Kriss yang kesal akibat kecerobohan Kay hanya bisa berfikir untuk mempercepat langkah kakinya.
"Kriss?! Lampu masih ijo!" Pekik Kay sekali lagi.
Lampu untuk pengendara masih hijau, namun Kriss tetap bertekad untuk menyebrangi jalanan.
"Buruan Kay!" Balas Kriss meneriaki.
'Bruk!'
Sialnya, Kay tersandung kakinya sendiri. Membuat pegangan tangannya pada Kriss terlepas.
"Kay! Ngapain sih lo?! Ayo! Buruan!"
Melihat Kay yang tidak kunjung berdiri, membuat Kriss semakin kesal. Kriss berlari lebih dulu menyebrangi jalanan.
'BRUK!!'
Jantung Kriss seakan membeku. Lelaki itu membalik tubuhnya, dan dapat ia lihat dengan jelas Kay jatuh dengan luka-luka di kakinya akibat tertabrak motor besar.
"Kay." Lirih Kriss nyaris tak terdengar.
Kay mengangkat tangannya mengarah pada Kriss, berusaha meminta bantuan sahabatnya.
Kriss melihatnya. Namun, bukannya datang menghampiri, kini kaki beku Kriss melangkah mundur, semakin jauh dari Kay.
Dengan cepat Kriss melarikan diri, tetap pada tujuannya untuk pergi ke audisi yang akan dimulai sebentar lagi.
"Maaf, maafin gue Kay." Gumam Kriss yang masih berlari sekencang yang ia mampu.
Air mata yang jatuh segera ditepis olehnya, ia tidak boleh terlambat, pikirnya.
"Maafin gue."
***
Rena menyeka keringat di pelipis Kriss. Lelaki itu sudah terbaring selama 9 hari lamanya.
"Kriss? Kamu kenapa? Kok banyak keringat gini? Please jangan kenapa-napa." Lirih Rena sembari menyeka keringat Kriss dengan perasaan yang tak karuan.
Ini kali pertama dalam 9 hari melihat Kriss dalam kondisi berkeringat tanpa sebab. Membuat rasa khawatir Rena bertambah puluhan kali lipat.
"Please, bangun." Lirihnya sekali lagi.
Rena menggenggam tangan Kriss dan menundukkan kepalanya.
"Saya janji bakal beliin es krim sebanyak yang kamu mau. Please bangun, Kriss."
"Beneran?"
Rena mengangguk, "Bener."
"Queen?"
Rena yang masih berlinang air mata, kini kembali menatap Kriss yang tengah berbaring.
Matanya membulat sempurna melihat Kriss membuka mata. Bahkan, Kriss kembali memanggilnya.
"Kriss?! Kamu sadar? Beneran? Saya panggil Dokter ya?"
Kriss mencekal tangan Rena, membuat gadis itu tertahan dan kembali memperhatikannya.
"Kenapa pergi?" Tanya Kriss lirih.
Rena menggeleng, "Saya mau panggil Dokter buat periksa keadaan kamu sekarang."
Kriss menggeleng, "Jangan pergi."
Sempat tertegun, namun Rena kembali menyadarkan dirinya. Segera Rena menekan tombol yang menghubungkan ruangan ini dengan tim medis.
"Queen sendirian?"
Rena mengangguk. Kembali ia menumpahkan air mata. Membuat Kriss mengulurkan tangan mengusap pipi Rena.
"Maaf." Lirih Rena.
Kriss menatap bingung Rena. Namun, belum sempat ia bertanya, tim medis datang untuk memeriksa keadaan Kriss.
Dengan cepat Rena menjauh dari ranjang Kriss, mempersilahkan tim medis agar lebih leluasa memeriksa.
"Galang? Kriss udah sadar." Ucap Rena yang kini menelfon Galang.
Dari jauh, dapat Kriss lihat senyum manis dan teduh Rena. Namun, kini pikirannya kembali terpaku pada mimpinya akan kejadian 3 tahun lalu.
"Queen!" Pekik Kriss.
Rena bergegas menghampiri Kriss yang kini terlihat serius, "Kenapa Kriss? Ada yang sakit? Kriss kenapa, Dok? Mama kamu? Mama kamu masih di jalan? Ada apa?"
Kriss menatap Rena cemas, "Kay?"
Rena mengerutkan keningnya, "Kay?"
"Apa Kay baik-baik aja? Kay ada dimana? Dimana Kay dirawat?"
***
"Nyari gue, lo?"
Kriss yang kini duduk bersandar di ranjangnya, memperhatikan kondisi Kay lekat-lekat.
"Ada yang luka?" Ucap Kriss balik bertanya.
Kay menarik kursi di dekat ranjang Kriss dan mendudukinya. "Untungnya gue selamet. Kenapa? Lo nyesel nolongin gue?"
"Kaki lo?"
Kay menghela nafas, lalu mengangkat kakinya tinggi.
"See? Masih utuh." Jawab Kay seraya mengangkat kedua kakinya bergantian.
Keduanya saling terdiam. Kay memilih untuk tidak memulai pembicaraan, dan Kriss hanya melihat ke kaki Kay yang baik-baik saja, tidak terluka.
"Gak bakal ilang kaki gue. Ngapain sih lo plototin mulu?" Ketus Kay yang masih asik membuang muka.
Kriss tersenyum kecil, "Dulu gue ninggalin lo."
Kay mulai memperhatikan Kriss, menanti kata apa yang akan Kriss lontarkan.
"Maaf." Lirih Kriss.
Kay hanya diam untuk beberapa saat. Lelaki itu kembali membuang muka, lalu berdecih, "Maaf lo pending tiga tahun."
Kay melirik Kriss, "Gue yang dorong lo sampe lo kayak gini."
Kriss tertawa kecil, "Mungkin karma."
"Tapi gue gak sengaja." Balas Kay.
Giliran Kriss yang kini berdecih, "Gak sengaja lo sampe bikin gue koma."
Keduanya kembali saling diam, saling lirik satu sama lain, lalu berakhir dengan pecahnya tawa ringan.
Untunglah, entah itu ego ataupun gengsi, keduanya retak untuk hari ini. Akan lebih baik bukan jika ini terjadi 3 tahun lalu?
- BERSAMBUNG -
*
*
Sampai jumpa di next chapter!
KAMU SEDANG MEMBACA
BATAS MIMPI [✔]
Roman pour AdolescentsBerawal dari pemikiran sempit Rena, seorang pecinta musik pop Korea yang berharap di negerinya juga terdapat idola-idola seperti halnya di Korea Selatan yang dicintai banyak orang. Demi mewujudkan impiannya membangun agensi khusus idola tanah air, i...
![BATAS MIMPI [✔]](https://img.wattpad.com/cover/252888861-64-k810167.jpg)