Chapter 9

49 13 2
                                        

Sama halnya dengan hari biasa, usai pekerjannya di restoran barbeque, Rena langsung menuju kantornya yang sudah direnovasi.

Minggu lalu benar-benar hari yang melelahkan bagi Rena, Galang dan juga para Trainee. Namun rasa lelah tergantikan dengan senyum penuh kebahagiaan bagi mereka, karena berhasil menyelesaikan kegiatan mendekor kantor bersama.

"Cantiknya." Gumam Rena saat memasuki kantor.

"Tumben agak awal lo dateng?" Sahut Galang yang sedang menuruni tangga.

"Pelanggannya gak terlalu banyak sih hari ini." Jawab Rena santai.

Galang mengangguk paham menanggapi jawaban Rena.
"Gak capek?"

"Ya enggaklah! Sejak kapan gue bisa capek?" Ucap Rena bernada sombong sembari mengibaskan rambutnya yang terikat.

Setelah melemparkan senyum cerianya, Rena menaiki tangga menuju ruang kerjanya. Saat memasuki ruangan tersebut, mata Rena langsung tertuju pada tanaman di dekat jendela.

"Panas ya?" Lirih Rena seraya meraih air mineral di dalam tasnya, lalu menuangkan sedikit isinya ke dalam pot tanaman tersebut.

"Queen!" Teriak seseorang dibalik pintu.

Sontak, Rena langsung membuka pintu untuk melihat siapa yang mengetuknya.

"Kriss? Tumben datengnya awal banget? Ada apa?"

Mata beredar mengintip ruang kerja Rena. Senyum tipisnya terukir saat melihat tanaman pemberiannya benar-benar diterima dan diletakkan di dalam ruang kerja Rena.

"Ada apa, Kriss?" Tanya Rena celingukan mencari ke arah mana mata Kriss.

"Enggak. Itu... Semuanya udah dateng. Saya manggil Queen, biar Queen gak kelewatan evaluasi." Jawab Kriss menjelaskan.

"Oh ya? Ya udah, ayo kita ke bawah!" Seru Rena bersemangat.

Mereka berdua pun berjalan menuruni tangga.

"Kenapa kamu manggil saya Queen?" Tanya Rena tanpa menghentikan langkah kakinya.

"Saya bukan orang sopan. Gak terbiasa manggil pake sebutan 'Kak'. Selain itu, itu juga bikin saya ngerasa deket sama Queen."

Rena mengangguk paham. Tersenyum mendengar jawaban dari Kriss.

"Padahal pertama kali ketemu, liat saya aja kamu ogah." Ledek Rena.

Kriss menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Yaaa... Siapa yang gak ngeri? Tiba-tiba ada yang dateng bilang suka."

Rena tertawa renyah mengingat kejadian yang Kriss maksud. Sampai tak terasa, mereka sudah sampai di anak tangga terakhir.

"Ayo, Kriss!" Ajak Rena semangat, dengan tangan menepuk punggung lelaki tersebut.

Kriss yang merasakan tepukan bersahabat di punggungnya, melebarkan senyum malu-malu di bibirnya.

"Bisa gila gue." Desisnya sembari mengikuti langkah kaki Rena ke ruangan latihan vokal.

***

Hari ini adalah hari yang ditetapkan sebagai evaluasi bulanan. Hingga kini semuanya berkumpul di ruang vokal untuk dicek perkembangan mereka.

"Semuanya beneran hampir lengkap." Dercak kagum Geppy melihat seisi ruang vokal yang kini bahkan sudah dilengkapi peralatan untuk merekam suara.

"Padahal sudah saya bilang ke Jay buat ambil lagi semua ini." Lirih Rena menatap Jay yang berdiri tak jauh darinya.

"Saya ambil lagi buat apa, Kak? Gak mungkin kan saya balikin semua ke tokonya? Gak mungkin juga saya taroh di dalem kamar. Lagian Kak, ini tuh juga hadiah dari Papa saya, tanda makasih karena bikin anak sulungnya gak mageran lagi." Jawab Jay menjelaskan.

BATAS MIMPI [✔] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang