Nama One Dream dan RN Entertainment melonjak cepat setelah penampilan panggung dan wawancara mereka waktu itu. Semakin banyak orang yang mencari tahu tentang One Dream dan tentunya para membernya.
"Kriss, Bapak tau betul jadwal kamu sekarang padat. Tapi jangan sampai lupa, sebentar lagi kamu akan ada ujian kelulusan."
Kriss hanya tersenyum saat gurunya itu berbicara, "Iya, Pak. Saya gak akan lupa kewajiban saya sebagai murid."
Pak Broto—salah satu guru yang menjadikan Kriss sebagai murid kesayangan itu tersenyum, "Bagus, itu yang saya suka dari kamu. Lalu gimana? Emang agensi dan manajer kamu ngasih kelonggaran? Bukannya jadwal manggung kalian sekarang makin padat ya?"
Benar, semenjak hari itu memang jadwal panggung One Dream sangat padat. Bahkan ada satu hari di mana mereka tampil di empat acara berbeda.
Kriss tersenyum, "Agensi dan manajer saya baik kok, Pak. Bapak gak perlu khawatir."
"Baiklah kalau begitu, sekarang kamu masuk ke kelas supaya tidak terlambat jam pertama, ya?"
Kriss mengiyakan perintah Pak Broto dengan sopan, lalu pergi menuju kelasnya yang memang cukup jauh. Yaitu di ujung sekolah di lantai dua.
Langkah kaki Kriss yang baru setengah perjalanan terhenti. Sebuah tangan menarik tas punggungnya, membuat tubuh Kriss tertarik ke belakang.
"Kay?!" Pekiknya saat lelaki itu kembali mengusik dirinya.
Kay tersenyum sinis, "Seneng lo? Bisa tenar kayak gini lo seneng?!"
Kriss menghela nafasnya malas, "Mau lo apasih?"
"Setelah lo permaluin gue, sekarang lo enak ya hidup jadi Idol? Inget ya Kriss! Lo tuh cuman sebagian dari Manusia Halu! Kalian gak akan pernah awet. Lo kira masyarakat mau nerima Idol kayak kalian?" Sengit Kay panjang lebar.
Andai saja Kriss bukanlah seorang publik figur, sudah habis Kay di tangannya. Mengingat kini ia adalah bagian dari One Dream dan RN Entertainment, tentu Kriss harus menjaga image mereka—dimulai dari dirinya sendiri.
Kriss tersenyum remeh menanggapi Kay, "Terserah lo. Minggir, gue mau lewat!"
***
"Kita harus ngurangin tawaran manggung deh kayaknya, Lang."
Galang yang sedang sibuk dengan setumpuk berkas perusahaan, mengalihkan pandangannya fokus kepada Rena.
"Bener. Kasihan juga One Dream. Pasti mereka capek. Kita juga harus mikirin Kriss sama Geppy yang bentar lagi ujian."
Rena mengangguk setuju, "Jelas mereka capek."
"Lo gak capek?"
Rena yang baru saja bersiap merapikan dokumen, kembali fokus pada Galang. Gadis menggelengkan kepala, "Enggak kok, Lang. Gue gak capek sama sekali."
Senyum manis Rena menghilangkan kekhawatiran di dalam hati Galang.
"Lo juga udah banyak keluar tenaga. Lo CEO dan lo pegang tanggung jawab penuh sebagai manajer mereka."
Rena menatap Galang teduh, "Lo juga capek kan? Lo kerja dan lo juga ngurusin One Dream. Belum lagi otak lo kebagi buat ujian perguruan tinggi yang gak lama lagi diadain."
"Bener, sih." Lirih Galang.
Rena tersenyum, "Gue udah gak kerja di restoran. Gue udah fokus sama One Dream dan agensi. Gue hebat kan?"
Mendengar jawaban Rena, Galang menganggukkan kepalanya perlahan.
"Iya lo hebat. Paket lengkap, paket komplit! CEO, manajer, musisi, dan satu lagi... Penyemangat yang kayak obat."
KAMU SEDANG MEMBACA
BATAS MIMPI [✔]
Roman pour AdolescentsBerawal dari pemikiran sempit Rena, seorang pecinta musik pop Korea yang berharap di negerinya juga terdapat idola-idola seperti halnya di Korea Selatan yang dicintai banyak orang. Demi mewujudkan impiannya membangun agensi khusus idola tanah air, i...
![BATAS MIMPI [✔]](https://img.wattpad.com/cover/252888861-64-k810167.jpg)