Chapter 5

46 12 1
                                        

Galang menatap sinis Rena yang tengah duduk berhadapan dengannya.

"Ngambek mulu lo." Cicit Rena sembari menyeruput minuman sodanya.

Tanpa menjawab ocehan Rena, Galang meraih minuman soda yang dibelikan oleh Rena, lalu meneguk habis isinya.

"Udah diminum, berarti udah gak marah kan?" Tanya Rena riang.

"Siapa bilang gue gak marah? Parah lo pake acara ngunciin gue." Sinis Galang.

"Yaelah, Lang. Udah tiga hari yang lalu masih aja dibahas." Ujar Rena lirih.

"Awas aja lo!" Ketus Galang.

"Yee, sapa suruh lo nyebelin!"

"Elo Ren yang ngeselin."

"Loh kok gue sih, Lang? Jelas-jelas elo yang duluan nyekek gue!"

"Miting bego, bukan nyekek!"

"Tuh kan emang lo yang ngeselin!" Ucap Rena sewot.

Mereka berdua pun kembali diam. Alias mendiamkan satu sama lain. Namun tidak berselang lama, keduanya saling lirik. Tersenyum kecil, lalu tertawa.

"Ihhh dasar nyebelin!" Ujar Rena menghampiri Galang dan menjewer telinga lelaki itu.

Galang yang masih tertawa, ikut mencubit pipi Rena. Memberi hukuman satu sama lain.

Cahaya cerah matahari pagi menerobos tiap kaca jendela gedung bekas toko roti yang kini mereka sebut sebagai-- kantor.

Beruntung Bunda Rena memberikan hak atas bangunan tersebut padanya. Yaitu sejak 3 tahun lalu, tepat satu hari setelah Bundanya menutup toko.

"Hari ini kan?" Tanya Galang memecah keheningan.

Sejak candaan mereka tadi, tidak lama setelah itu mereka kembali melanjutkan kegiatan yang sudah mereka tetapkan sebagai --bekerja, tanpa gaji.

"Iyap! Hari ini." Jawab Rena untuk pertanyaan Galang.

"Udah lo kirim?" Tanya Galang sekali lagi.

"Ini, lagi ngirim." Balas Rena seraya menunjukkan layar laptopnya pada Galang.

Galang tersenyum tipis melihat 4 email yang baru saja terkirim ke para kontestan pilihannya dan juga Rena.

Mengingat akan hari dimana mereka melakukan audisi. Berkali-kali mereka berdebat menentukan siapa yang masuk dalam semua kriteria. Galang yang terus menyadarkan Rena untuk tidak terpana pada visual peserta, dan Rena yang mengejek Galang habis-habisan saat Galang mendapat kedipan manja dari salah satu peserta.

"Seminggu lagi, kita bisa ketemu mereka!" Ucap Rena riang.

"Empat biji mau lo apain?" Tanya Galang asal ceplos.

"Iya ya? Cuman empat." Lirih Rena.

"Emang mau lo buat berapa sih?"

Rena terdiam beberapa saat memikirkan jawaban dari pertanyaan Galang.
"Lima." Ujar Rena seraya memperlihat semua jari tangan kanannya.

Galang mengerutkan kening,
"Kurang satu doang dong berarti?"

Pertanyaan itu dijawab anggukan riang khas Rena.

"Buat apa?" Tanya Galang.

Jujur saja, Galang pikir sudah cukup 4 orang yang terpilih itu. Suara keempat orang terpilih itu benar-benar sangat nyaman didengar.

Galang saja sempat berpikir kenapa mereka tidak ikut audisi besar saja seperti Indonesian Idol. Bukankah itu lebih menjanjikan dibanding audisi yang Rena buat? Bukankah akan lebih susah jika harus mencari satu orang lagi?

BATAS MIMPI [✔] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang