Kepopuleran One Dream meningkat pesat setelah kemenangan mereka di Indonesian Music Awards bulan lalu.
Kepopuleran itu tentu juga didapatkan oleh RN Entertainment, dimana kini banyak sekali remaja yang berminat menjadi seorang Idola di bawah naungan RN Entertainment.
"Queen?"
Rena sedari tadi duduk mengadahkan kepalanya menikmati sinar hangat matahari yang menerpanya.
Kriss menghela nafas lalu duduk di samping Rena, memperhatikan tiap lekuk wajah CEO-nya itu.
Kriss tersenyum, "Gak silau?"
Rena menggeleng, "Hangat."
"Gak silau? Hangat." Ejek Kriss menanggapi jawaban Rena yang tidak nyambung dengan pertanyaannya.
Rena yang mendengar itu langsung tertawa, membuka matanya dan mendapati wajah kesal Kriss.
"Gimana persiapan kuliah?" Tanya Rena yang kini sudah duduk dengan tegap.
Kriss kembali menghela nafas, "Saya satu fakultas sama sahabat."
Mata Rena membelak samar, "Sahabat? Kamu gak pernah cerita. Wahh, seru dong bisa barengan lagi sama sahabat kamu di kampus nanti?"
"Emm... Mungkin. Intinya sih, ribet."
Belum sempat Rena bertanya, Galang dan juga para member One Dream memasuki ruang rapat di kantor kecil mereka.
"Gimana? Siap?" Tanya Galang.
Para member One Dream mengangguk semangat. Tentu, mereka bersemangat untuk lagu baru mereka.
One Dream dengan arahan Galang pun memasuki ruang latihan tari untuk melatih gerakan mereka. Sementara Rena duduk memperhatikan mereka dari ruang rapat. Sesekali mengepalkan tangan dan menggerakkannya untuk menyemangati Galang serta para member One Dream.
Saat Rena berniat berdiri untuk mengambil minum, matanya teralihkan pada kertas kecil berwarna kuning di atas meja.
Minggu ada waktu? Traktir saya ice cream ya Queen!
- member favorit Queen, Kriss -
Rena menatap Kriss di ruang latihan. Lelaki itu tersenyum lebar, lalu mengedipkan salah satu matanya. Membuat Rena ikut tersenyum, berusaha menahan tawa melihat tingkah konyol Leader One Dream itu.
***
Minggu yang dijanjikan Rena pada Kriss telah tiba. Walaupun Kriss hanya berkata ingin dibelikan ice cream, Rena sadar benar kalau yang Kriss minta adalah waktunya.
"Gue kecepetan kali ya?" Gumam Rena yang tengah duduk di kursi kedai ice cream yang cukup terkenal.
Rena melirik jam tangannya. Benar, ia tiba 20 menit lebih awal dari yang mereka sepakati.
Sementara itu, di lain tempat ada Kriss yang sedang berjalan di tepi jalan, hendak menuju kedai dimana Rena berada.
"Bahagia lo?"
Suara itu tidak asing. Benar-benar akrab di telinganya. Bagaimana tidak? Lebih dari 3 tahun pemilik suara itu ada untuknya.
Kriss yang kini berdiri di tepi penyebrangan jalan, mengurungkan niatnya untuk melangkahkan kaki.
Kriss menoleh ke kanan, "Kenapa lo di sini?"
Kay tersenyum tipis, tidak ada ketulusan di sana. Kay melirik Kriss sinis, "Berani banget lo bahagia?!"
Mendengar ucapan Kay, Kriss hanya ikut tersenyum tipis, "Kenapa? Apa gue harus ikutan hidup semenyedihkan elo?"
Kay mencengkeram kerah kemeja Kriss,
"Apa lo gak pernah ngerasa bersalah?"
"Buat apa? Dengan sifat egois itu, lo gak akan maafin gue."
Kay berdecih dan menatap Kriss dingin,
"Apa lo tau yang bikin gue makin benci sama lo Kriss? Elo—gak pernah sadar ego yang lo punya lebih tinggi."
Setelah berkata seperti itu, Kay berjalan penuh emosi melewati penyebrang jalan. Sementara Kriss hanya menatap Kay yang makin menjauh dengan perasaan tak tentu.
Apa sebenarnya, Kriss lah yang egois?
Lampu lalu lintas masih berwarna merah. Tentu saja, lampu pejalan kaki masih hijau.
Namun, dari kejauhan sebuah truk melaju sangat kencang bagaikan tidak berniat untuk berhenti.
"KAY!"
Teriakan itu terlontar. Memanggil si pemilik nama yang masih berada di tengah jalan.
Kay yang sedang memakai earphone, samar-samar mendengar suara Kriss. Kay menoleh ke belakang, melihat Kriss berlari ke arahnya.
"Kay!"
Dengan gesit Kriss mendorong menarik lengan Kay.
Kay berbalik arah dan langsung mendorong Kriss, "Apaan sih lo?"
'BRAKK!!'
Kriss yang baru saja didorong oleh Kay, kini tubuhnya terasa seakan remuk akibat tubrukan truk.
"KRISS!"
Kay membelakkan matanya, segera ia berlari menghampiri Kriss yang sudah terpental jauh dengan darah segar yang mengalir tanpa henti.
Kriss menatap hamparan langit biru. Mencoba menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Tidak, ia harus tetap terjaga.
Kriss melirik Kay yang kini berdiri di dekatnya. Lelaki bersimpuh darah itu tersenyum, tertawa ringan di sela rasa sakitnya.
"Ganggu banget sih lo? Gak tau apa kalo hari ini gue mau nge-date?" Lirihnya dengan senyum tipis.
Mata Kay seakan mengabur akibat air mata yang ia bendung, "Kriss? Jangan tutup mata! Lo harus tetep sadar!"
Kriss tidak mampu lagi menahan kelopak matanya yang makin berat. Samar-samar ia melihat orang mulai berkerumun di dekatnya.
Bayangan Rena, Galang dan para member One Dream mengisi kepalanya. Satu tetes air mata berhasil keluar, sebelum semua benar-benar gelap.
Kalah. Kriss tidak kuat menahan berat beban di kelopak matanya.
'Apa ini sudah waktunya untuk berpisah?'
- BERSAMBUNG -
Kejar target banget buat cerita satu ini. Semoga readers masih pada suka ya?
Kay itu siapa sih?
Tunggu kelanjutannya di chapter 25 ya!
KAMU SEDANG MEMBACA
BATAS MIMPI [✔]
Fiksi RemajaBerawal dari pemikiran sempit Rena, seorang pecinta musik pop Korea yang berharap di negerinya juga terdapat idola-idola seperti halnya di Korea Selatan yang dicintai banyak orang. Demi mewujudkan impiannya membangun agensi khusus idola tanah air, i...
![BATAS MIMPI [✔]](https://img.wattpad.com/cover/252888861-64-k810167.jpg)