Tangannya dengan lembut membelai punggungku saat aku tidur sambil membaringkan kepalaku di dadanya. Suaranya yang berat dan menenangkan itu terus berbicara, menceritakan semua yang aku pinta padanya bagai sedang mendongeng. Menceritakan apa saja tentang dirinya yang selama ini aku belum tau. Sedangkan aku yang sudah setengah tidur terus mendengarkannya dalam keheningan sambil memeluknya.
"Itu loh, tendon aku pernah sobek. Jadi sejak itu aku berhenti wall climbing lagi. Padahal seru banget. Kapan-kapan kamu mau temenin aku wall climbing lagi?" tanya Stefan.
"Mau. Tapi nemenin doang ya, nggak main," sahutku. "Terus, kamu pernah student exchange ke Belanda, ya?"
"Iya. Netherland. Waktu SMA. Selama enam bulan aku di sana. Ternyata menyenangkan juga. Kenal banyak orang baru, belajar banyak culture asing yang aku nggak tau sebelumnya. Jadi aku... Yuk? Yah, tidur, ya?"
Aku sedikit membuka mataku saat mendengar panggilannya sambil menahan ngantuk. "Hmm?"
"Kamu ngantuk?"
"Dikit."
"Nggak mau tidur aja? Udah jam satu juga. Tidur aja, Yuk."
Aku kemudian menggeleng sambil merapatkan tubuhku dalam rengkuhannya. "Aku mau dengerin cerita kamu. Kamu tau banyak hal tentang aku, tapi aku enggak."
Stefan pun tertawa. "Jadi? Aku harus cerita apa lagi? Aku juga udah kehabisan bahan, nih. Kamu mau aku cerita apa lagi?"
"Mmm... Cerita kenapa dan kapan kamu mulai suka sama aku."
Ucapanku berhasil membuatnya tertawa pelan. "Mau cerita itu? Nggak nyesel nanti dengernya?"
Aku menggeleng.
"Oke. Sebenernya aku suka sama kamu dari pertama kita ketemu pas nikahan Terry dan Agung itu, Yuk. Dari awal, aku udah suka sama kamu."
"Kenapa?"
"Soalnya kamu cantik."
Kini, aku yang mendenguskan tawa dengan mata yang masih terpejam. "Jawaban apa itu? Basi banget."
"Ih, beneran, Yuk. Aku suka kamu karena kamu cantik. Tinggi, putih, rambut kamu panjang, dan... Tulang belikat kamu itu loh, ouwww!" dia langsung berseru kesakitan saat aku memukul perutnya.
"Males banget dengernya ih, Sef. Stop. Geli tau nggak," ujarku membuatnya tertawa.
"Ye, aku jujur banget lho, Yuki. Aku suka sama kamu pertama kali dari fisik kamu. Semua orang juga pertama kali bisa suka pasti dari fisik dulu lah. Cuma, ketika aku kenal kamu lebih jauh dan denger cerita tentang hidup kamu, sesuatu jadi beda. Aku seperti ngelihat diri aku di kamu. Kamu rapuh, aku juga. Kamu sendirian, aku juga. Dan mungkin, aku bukan cuma jatuh cinta sama kamu, tapi juga jatuh cinta dengan diri aku yang aku temukan di kamu. When I see you, I want to fix myself and yours too. And eventually, If I'm lucky enough, I can make you fall in love with me and make you mine."
Aku tidak menjawab apapun, hanya mengangkat kepala menatap Stefan yang juga tersenyum padaku dan mengecup bibirku kemudian. Membuatku tersenyum dan semakin merapatkan tubuhku dalam pelukannya. Tangan Stefan mengusap punggungku dengan lembut. Mengantarkan aku dalam tidur malam ini, malam yang indah ini.
-0-
Jalan tol terlihat lancar, aku menikmati perjalanan siang ini dengan ditemani lagu Westlife yang berputar di airPod-ku. Namun di tengah asik-asik mendengar lagu, ponselku bergetar, nama Manda muncul bersama dengan pesannya yang masuk ke group kami bertiga. Foto Neyna yang sedang asik main pasir di pantai. Aku tersenyum dan buru-buru menyimpan foto keponakanku itu ke galeri. Manda di Bali?
KAMU SEDANG MEMBACA
Remain
Romantik"Don't go where I can't follow." Mungkin itu yang selama ini ada di benak Yuki (30yo) setiap kali bayangan Al hadir dibenaknya. Yuki mencintai Al, sangat mencintai laki-laki itu, bahkan lebih dari dia mencintai dirinya. Sehingga ketika Yuki sudah me...
