Part 13 - The Pandora Box

434 62 12
                                        

The last meeting of the day, done!

Aku baru saja selesai final meeting untuk pernikahan salah satu client-ku yang akan diadakan akhir di bulan ini. Client-ku sudah pulang duluan, dan setelah me-wrap up semua hal bersama team ku yang ikut meeting, kami pun hendak meninggalkan café tempat meeting dan kembali ke kantor.

"Kak Yuki, gue udah suruh Ipul buat beli nasi rames Padang, tuh. Kan kita belum sempet makan siang, jadi makan sore aja lah," kata Misael ketika kami sama-sama berjalan keluar dari café dan menuju dimana mobilku di parkirkan.

Aku melihat waktu yang ditunjukan jam tanganku. Jam empat sore, dan kita memang belum sempat makan berat akibat meeting yang cukup lama karena client terakhir kami ngaret dua jam. Maka aku pun mengangguk pada Misael. "Iya dong. Gue nasinya setengah dan pake rendang, kan?" tanyaku sambil menekan tombol car key untuk membuka pintu mobil.

"Iya. Si Ipul juga udah ngomong duluan barusan 'Mbak Yuki pakai rendang, nasi setengah, nggak pake timun kan, Mas?' gitu. Kayaknya Ipul udah pantes naik gaji, tuh."

Aku tertawa sambil menekan car key. Tapi sebelum aku membuka pintu, ponselku bergetar. Buru-buru aku mencari ponselku dari dalam tas. Dan ketika membaca namanya, aku jadi agak terkejut. Tante Esther?

"Halo, Tante Esther," sapaku sambil agak menjauh dari mobil, membiarkan semua anak-anak kantor untuk masuk lebih dulu kedalam mobilku.

"Halo, Yuki, apa kabar, Nak?" suara lembutnya menjawabku kemudian.

"Baik, Tan. Tante apa kabar?"

"Baik juga, Sayang. Ohiya, Yuk, kalau Tante telepon sekarang, Tante ganggu Yuki, nggak?"

"Enggak, Tante. Yuki baru aja selesai meeting. Jadi udah free. Ada apa, Tante?"

"Oh gitu, kalau gitu Tante minta waktunya bentar ya, Nak. Tante cuma mau ajak Yuki ketemuan, mau ada yang Tante dan Om bicarakan dengan Yuki. Kalau ada Yuki ada waktu."

Aku mengerutkan kening. Ibu dan Bapaknya Al mau mengajakku bicara? Ada urusan apa, ya? "Hmm... Boleh, Tante. Mau kapan, Tante? Yuki pasti usahakan biar bisa."

"Kalau sekarang aja supaya bisa sekalian makan malam gimana, Nak? Kebetulan Tante lagi di Jakarta, nih. Baru dari Harapan Kita, si Om abis kontrol jantung. Kalau kita searah, kita ketemu aja."

"Boleh, Tante. Yuki udah free juga, kan. Mau ketemu dimana, Tan?"

Dan setelah menyetujui tempat bertemu antara aku dan Tante Esther, aku kembali ke mobil dan menyodorkan kunci mobil pada Misael yang duduk di kursi penumpang depan. "Mis, gue masih ada urusan, jadi lo pada balik aja pakai mobilnya. Ntar gue balik kantor naik taksi aja. Kalau gue belum balik sampai jam pulang kantor, kunci mobilnya taruh di dalam laci meja gue aja, ya."

Lalu setelah Misael menerima kunci, aku pun memesan taksi online dan berangkat ke tempat bertemunya aku dan Mamanya Al di salah satu restoran di daerah Cikini. Ternyata Ibu dan Bapaknya Al juga Rio sudah ada disana ketika aku sampai, dan ketiganya sama-sama berdiri untuk menyambutku.

"Halo, Tante, Om," aku mencium Tante Esther dan menyalam Om Lamera tanpa lupa mencium tangannya. Kemudian ganti menyalam Rio. Lalu setelah memesan makanan untuk kami semua, aku kembali menatap Tante Esther yang juga menatapku lebih dulu.

"Yuki, maaf ya Tante jadi minta Yuki ketemu dadakan gini. Nggak pa-pa kan, Nak? Nggak ganggu urusan-urusan Yuki, kan?"

"Enggak, Tante. Yuki juga udah nggak ada kerjaan apa-apa lagi di kantor. Lagian juga kan kebetulan Tante sama Om di Jakarta, kalau di Bogor juga susah nyari tempat di tengah-tengahnya. Ohiya, terus ada apa ya, Tante?"

RemainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang