Part 15 - Removing the Mask

462 60 13
                                        

Satu buah paper bag diletakan Ludri di atas mejaku. Membuat senyumku terkembang dan langsung mengucapkan terimakasih sebelum Ludri meninggalkan ruangan. Aku membuka paper bag itu dan mengintip isinya. Didalamnya ada dua kotak, satu dengan isi beef quesadilla, dan satunya lagi adalah caesar salad. Kemudian ada sebotol orange juice dan satu buah apel disana. Asli, aku terkesima banget dengan isi breakfast package ini. Dan hal ini sukses membuat pagiku jadi terasa amat baik.

Aku tau ini dari siapa. Karena yang mengirimkan juga baru saja mengirimku pesan lewat WA. Dan orang itu sudah pasti ya Stefan, siapa lagi, kan?

'Morning, Yuk. Udah sarapan? Mudah2an belum, ya. Karna kiriman breakfast dari aku udah mau sampe bentar lagi. Semoga suka, ya. Have a good day.'

Jelas saja senyumku langsung merekah membacanya. How toughtful. Aku hari ini juga kebetulan banget lagi nggak sarapan banyak. Cuma minum almond milk aja barusan di rumah karena nggak sempet mau sarapan apa-apa. Jadi mendadak happy, nih.

Sebelum aku sempat membalas pesan Stefan untuk mengucapkan terima kasih, ponselku sudah lebih dulu bergetar dengan nama Bang Edo muncul di layar.

"Halo Bang," sapaku saat menerima teleponnya.

"Halo, Onty Yuki!" suara Ian menyambutku. Membuatku pagiku yang sudah baik, menjadi makin baik lagi.

"Halo Sayang Onty, lagi apa, Sayang? Onti kangen banget sama Ian."

"Ian juga kangen sama Onty. Onty ke lumah Ian ya. Ian juga mau kasih liat Thor ke Onty. Main sama Ian ya nanti malem?"

Senyumku jadi semakin lebar. Senang sekali rasanya dirindukan sama bayiku yang satu itu. "Aduh, senangnya di kangenin anak gantengnya Onty. Oke deh, nanti malem Onty ke rumah Ian, ya."

"Iya. Onty, Onty, ajak Uncle Stefan ya. Ian juga mau kasih liat Capten Amelica Ian yang baru. Ajak Uncle Stefan ya, Onty."

Dan setelah itu, suara Ian berganti dengan suara Bang Edo yang juga mengucapkan hal yang hampir sama dengan anaknya. Mengundangku untuk main ke rumahnya malam ini karena kebetulan Mama dan Papa juga akan kesana. Dan dia juga memintaku untuk membawa Stefan ikut ke rumahnya.

"Wah, kalau ajak Stefan gue nggak janji ya, Bang. Kan dia juga kerja, dan lagi sibuk banget belakangan ini," jawabku pada Edo.

"Lo tanya dulu sih, Yuk. Ian tuh nanyain Stefan terus dari kemarin, lo tau sendiri kalau maunya nggak diturutin, bisa ngambek sampe besok-besok. Ya? Gue tunggu lo berdua ntar malem."

Mau nggak mau, sesuai dengan request Pangeran kecilku itu, aku akhirnya memutuskan untuk menelepon dan mengajak Stefan untuk kerumah Edo nanti malam. Sekalian juga mengucapkan terima kasih karena dia sudah mengirimkanku sarapan barusan.

Setelah nada sambung terdengar beberapa saat, telepon diangkat.

"Halo," suaranya yang berat itu menyambutku.

"Halo, Stef. Pagi," balasku padanya. "Kamu lagi sibuk nggak, Stef? Bisa ngobrol sebentar?"

"Pagi juga, Yuk. Enggak kok, nggak lagi sibuk. Ohiya, gimana sarapannya? Udah sampe, kan?" tanya Stefan diujung telepon.

"Iya, udah. Makasih ya sarapannya, Stef. Ini aku makan bentar lagi."

"Sama-sama, Yuk. Terus ada apa?"

"Ini, aku mau nanyaian kamu, hari ini sepulang kantor, aku mau ke rumah Edo, dan Ian nanyain kamu, minta aku ajak kamu. Jadi kalau kamu nggak ada kerjaan, kamu mau ikut ke rumah Edo? Tapi itu juga kalau kamu bisa, ya. Kalau nggak bisa, jangan dipaksa."

RemainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang