Part 8 - The Saddest Chapter

509 59 6
                                        

Kebaya baby pink bermodel Sabrina dan songket ungu yang amat cantik itu sudah berbalut di tubuh rampingku ini dengan sempurna. Wajahku juga sudah dipercantik dengan make up yang tetap terkesan natural dan rambut yang di sanggul modern. Aku tersenyum menatap pantulan wajahku didepan cermin ketika Om Dave, MUA langganan Mama, selesai mendandaniku.

"Ih, anak gadis lu cantik ya, Bu. Lihat, deh. Mirip Dian Sastro," ucapnya pada Mama yang sedari tadi duduk disebelahku, menemaniku dirias dan bersiap-siap.

Mama tersenyum dan mengangguk. "Iya, dong. Memang anakku itu cantik banget, Dave. Dari bayi udah cantik, eh tapi sekarang tiba-tiba udah gede, mau nikah. Ah, mama jadi pengen nangis, udah ah, mama mau ngurusin diluar dulu," kata Mama sambil berusaha menghalau tangisnya dan buru-buru keluar dari kamarku.

Aku tersenyum, merasa terharu dengan suasana ini dan juga karena Mama yang barusan hampir menangis. Tapi aku buru-buru mengipas wajahku, berharap itu bisa membantu agar air mataku yang mulai merebak bisa segera kering dan tidak merusak eye makeup-ku yang sudah dibuat sebagus ini oleh Om Dave.

Hari ini adalah hari pinangan tapi juga pertunanganku dengan Al sebelum kami melaksanakan pernikahan lima bulan lagi. Nggak tau sih sebutannya apa, pertunangan bisa, pinangan juga bisa. Soalnya kata Mama, seharusnya pertunangan itu dilakukan paling tidak satu bulan sebelum pernikahan, sedangkan ini masih lima bulan sebelum pernikahan, jadi lebih persis seperti acara lamaran formil atau pinangan, karena keluarga besar Al untuk pertama kalinya datang untuk bertemu dengan keluarga besarku untuk secara resmi meminangku kepada kedua orang tuaku. Setelah itu aku dan Al juga akan tetap mengucapkan janji pertunangan dan bertukar cincin pertunangan nanti sekalian.

Awalnya aku mau mengadakan pertunangan satu bulan sebelum pernikahan di restoran atau dimana gitu, tetapi ternyata Al tidak bisa karena dia harus pindah praktek dulu ke cabang klinik gigi baru di Bandung. Jadinya kami tidak punya waktu untuk mengatur pertunangan nanti-nanti, dan terpaksa dibatalkan. Dan dari pada nggak ada acara pra-nikah sama sekali, aku dan Al sepakat untuk mengganti pesta pertunangan dengan acara pinangan sekaligus pertunangan yang dilaksakan di rumahku saja dan mengundang hanya kerabat dekat saja. Itu juga semuanya yang mengatur adalah aku sendiri dengan bantuan Manda, dan Terry juga Kak Nisa dan Mama. Karena memang semuanya sangat mendadak, makanya aku dan Al memutuskan untuk menggelarnya dengan sangat sederhana dan memutuskan untuk tidak mengatur acara lamaran dengan yang ribet-ribet.

"Yuk," Terry dan Manda yang masuk kedalam kamarku menggantikan Om Dave yang baru keluar, mendadak terpana didepan pintu.

"Eh, sini, masuk, temenin gue dong," panggilku pada mereka.

"Yuki, ya ampun! Yuk, lo cantik banget..." ucap Manda disambut dengan anggukkan Terry. Kedua sahabatku juga tampak cantik dengan menggunakan kebaya yang sama berwarna ungu dengan rambut di sanggul modern. Keduanya menghampiriku dan duduk di kasur dekat denganku.

"Iya. Lo cantik banget, deh, Yuk. Ih, gue jadi iri..." kata Terry.

"Lo kalau iri sama Yuki, minta dilamar juga dong. Kan udah ada Agung ini. Susah amat, ya, nggak, Yuk?" ujar Manda.

"Iya, Ter. Minta dilamar, dong. Dari dulu, elo kan emang yang paling ngebet nikah. Masa kebalap sama gue?"

"Iya, sih. Tapi, ah, ngarepin Agung ngelamar, mah, susah. Lo berdua enak, cowoknya jauh lebih tua. Udah sama-sama mapan. Gue? Sepantar gitu. Susah, Yuk, Man. Otaknya masih childish banget." Keluh Terry membuatku dan Manda jadi tertawa.

Aku mengelus lengan Terry dan tersenyum padanya. "Bukan gitu, Ter. Agung itu masih merasa belum siap ngelamar elo, karena dia nggak mau lo hidup susah sama dia kalau kalian nikah sementara dia belum jadi apa-apa begini. Sabar aja, kali. Gue yakin, kok, dia pasti bakal ngelamar elo kalau waktunya udah tepat,"

RemainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang