Part 3 - Happiness Comes Only Once in a Lifetime

652 81 6
                                        

Layar dari ponselku yang kuletakan di atas bantal disebelahku kembali berkedip-kedip. Aku menengok sebentar untuk membaca nama peneleponnya. Tetapi setelah mengecek siapa nama peneleponnya, aku kembali mengalihkan pandanganku pada laptop yang ada di pangkuanku dan kembali bekerja seperti tadi, tidak mengacuhkan telepon itu sampai kedip-kedip di layar berhenti dan telepon baursan masuk kedalam daftar missed call.

Buat yang ingin tau siapa peneleponnya, which I think all of you should have known, yang meneleponku adalah Stefan. Ini adalah telepon ke tujuh belasnya untukku sejak tadi pagi aku bertemu dengannya didepan rumah sampai jam setengah dua belas malam ini aku sudah duduk lagi di kasur kamarku hendak tidur. Tapi tidak sekalipun aku mau mengangkat teleponnya. Selain karena hari ini aku sedang konsentrasi mengoreksi rundown acara engagement party yang baru saja dikirim Joy di e-mail-ku, aku juga masih belum ingin mengangkat dan mendengar suaranya saat ini. Tapi dianya nggak berhenti menelepon, ini aja dia lagi nelepon lagi. Dengan gondok, aku membalik ponselku sehingga layarnya ada di posisi tertutup. Bingung aku, udah nggak pernah diangkat, masih aja dia usaha. Aku bahkan sampai mematikan dering dan vibrate saking kesalnya karena telepon-telepon Stefan yang tak berakhir. Ganggu konsentrasi orang lagi kerja tau, nggak!

Barusan setelah membahas kehamilan Terry, topik perlahan berubah menjadi tentang aku dan Stefan. Terry dan Manda kembali membahas tentangku dan Stefan, dan membuat aku jadi teringat kembali siapa itu Stefan dan apa posisi Stefan dalam hidupku saat ini. And even though I smile or laugh with everything they said about me and Stefan, I still hate it inside, obviously.

"Akhirnya ya, Yuk, lo nerima Stefan juga. Setelah pengorbanan cowok itu nungguin lo empat tahun, ngelamar ditolak-tolak terus, akhirnya sukses juga. Badak juga, ya, dia. Lo tau nggak, Yuk, laki gue aja sampai bilang lo itu hebat, lho. Soalnya lo udah bikin cowok macem Stefan jadi tobat," kata Terry. Aku cuma nyengir garing, tapi dalam hati aku nyeletuk, tobat darimana?!

"Gitu, ya?"

"Iya, Yuk. Stefan itu ya, udah baik, tajir, lawyer gitu lho, deket sama ortu lo, dan fisiknya juga nggak perlu dijelasin, secara produk import, blasteran Indo-Jerman, em? Wah, udah elonya cantik–even though I hate to admit that," sela Manda sambil memasang wajah seakan penuh sesal setelah mengucapkan pujian padaku, membuatku tertawa, well, that's what besties do. Kemudian dia kembali melanjutkan, "Stefannya juga ganteng, masa depan keturunan lo pasti cerah banget, deh."

Sekali lagi aku cuma senyum. Whatever you say ya, ladies. Kalau aja kalian tau, laki-laki yang kalian puja-puja itu kayak gimana aslinya, kalian juga pasti sama muaknya kayak gue.

Kemudian Terry kembali menyambung omongan Manda dengan wajah serius bak jubir-jubir partai yang lagi kampanyein paslon-paslon mereka. "Dan selain itu juga, Yuk, Stefan itu tulus banget sama lo. Dia bener-bener memperjuangkan elo sampai sebegininya. Dia bener-bener pantang menyerah buat dapetin elo. And that is sweet, you know. Duh, kurangnya apa, sih, tuh laki. Ya nggak, Bun?"

Kurangnya, Ter? Karena dia bukan Al. Itu kurangnya.

Ingatanku mendadak berputar ke saat yang hampir sama seperti tadi siang. Saat aku dan kedua sahabatku sedang membahas hal yang serupa, tapi tentang orang yang berbeda.

Jelas aja berbeda. Karena kali itu, kami membahas tentang Al. Laki-laki yang aku cintai.

Ketika kedua sahabatku membahas Al, senyum dan tawaku betul-betul bahagia. Dan seperti orang-orang yang jatuh cinta bilang, I can even felt a butterfly in my stomach. Jadi itu sungguhan. Bukan hanya untuk topeng dihadapan kedua sahabatku, seperti yang aku lakukan tadi siang saat Terry dan Manda membahas Stefan.

"Gila, itu temen Kakak lo ganteng banget, sih, Yuk? Gue mau nomor HP-nya, dong!" Manda terus menjerit-jerit heboh saat aku baru tiba di kantin setelah kelas komunikasi massa selesai. Semalam, seperti rencana saat aku menjemput Edo di bandara waktu itu, Edo akan mengantarku ke Bandung karena dia juga ingin bertemu dengan Nisa, pacarnya. Saat Al dan Edo mengantarku sampai kost-kostan, mereka sempat bertemu dengan Terry dan Manda. Dan sampai saat ini, Manda masih terus mengidolakan Al dan membahas Al berulang-ulang kali.

RemainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang