Part 26 - Good Bye Peter Pan

532 66 42
                                        

Setelah semua yang terjadi padaku belakangan ini, aku baru sadar, aku melupakan satu hal yang dulu sempat membuatku hancur. Yaitu kenyataan kalau rumah Bogor akan di jual maka itu juga menandakan kalau kenangan terakhir Al akan hilang. Dan hari ini, telepon tadi pagi kembali membuatku teringat akan hal itu lagi. Akan kenyataan kalau akhirnya, sudah waktunya rumah kenangan itu akhirnya akan berpindah pemilik. Karena setelah beberapa bulan belakang ini di pasarkan, ada seseorang yang akhirnya setuju untuk membeli rumah itu.

"Jadi kemarin saudara Om kan nggak jadi beli rumah itu, Yuki. Karena memang ternyata lokasinya kurang cocok. Terus kemarin, ada temennya Rio yang kebetulan tertarik. Dan setelah ngobrol-ngobrol dan harganya ketemu yang cocok, akhirnya dia deal untuk ambil rumah itu dan bersedia untuk kasih DP. Makanya Tante mau telepon Yuki, mau tuker pikiran sekali lagi, menurut Yuki gimana," jelas Tante Esther di telepon.

Ucapan Tante Esther jelas membuatku terdiam beberapa saat. Mencerna ucapannya satu persatu. Tentang rumah itu yang akhirnya akan benar-benar terjual kali ini. Mengingat kembali ucapanku waktu pertama kali keluarga Al memberitahukan rencana penjualan rumah itu. Dan di saat itu, aku bilang kalau aku memang sudah ikhlas kalau rumah itu di jual, dan aku cuma berharap untuk tetap bisa menganggap keluarga Al sebagai keluarga padahal aku sendiri langsung menangis dan sakit se-sakit-sakitnya saat meninggalkan mereka, menyadari kalau aku akan melepaskan rumah itu. Tapi sekarang ketika semuanya terjadi, aku bahkan tidak tau apa yang saat ini aku pikirkan.

"Yuki? Masih di sana, kan?"

Aku buru-buru mengembalikan konsentrasiku pada telepon Tante Esther. "Eh, iya, Tante, iya. Nng... Bagus dong Tante kalau akhirnya ada yang serius mau ambil rumahnya. Yuki ikut seneng. Terus gimana, Tante? Kapan mau akad jual belinya? Terus Tante langsung pindah setelah akad atau gimana?"

"Rencananya sih mau akad dua minggu dari sekarang, dan dia nggak kasih Tante batasan waktu kok mau keluar kapan, karena emang ini juga nggak akan dia langsung tinggalin, kan. Tapi Tante dan Om udah tentuin kalau bulan depan Tante dan Om akan balik ke Pontianak, soalnya udah kelamaan juga minta di undur terus untuk kerjaan Om di sana."

"Oh gitu, Tan. Berarti udah mau mulai beres-beres ya sekarang?"

"Iya. Makanya kalau Yuki oke dan akhirnya berarti kita bisa deal, Tante mau minta Yuki ke rumah. Kita perpisahan dulu, ya. Lagian kan udah lama juga Tante nggak ketemu Yuki. Kalau Yuki mau, gimana kalau kamu kesini Minggu lusa, Nak? Kebetulan Markus juga besok dateng."

Suara Tante Esther yang lembut membuatku tersenyum. Aku kembali menatap cincin Al yang ada di jari manisku. "Iya, Tante. Yuki bisa, kok. Minggu Yuki ke rumah Tante, ya."

Dan telepon pun terputus. Meninggalkan aku di ruangan kerjaku dalam keheningan. Siapa sangka kalau ini akhirnya terjadi, kan? Kenyataan kalau akhirnya, kenangan terakhir tentang Al, akhirnya akan aku lepaskan. Aku kembali menatap cincin pemberian Al dan mengelusnya perlahan. Menyadari kalau akhirnya mungkin suatu saat, cincin ini juga tidak akan lagi ada di jariku entah karena alasan apa. Mungkin karena hal sesepele ketika nanti sudah tidak muat lagi karena aku yang gemukan, atau aku yang ceroboh dan menghilangkannya walaupun ini rasanya tidak mungkin, bisa juga juga ketika aku akhirnya memilih untuk memakai cincin ini lagi karena akhirnya ada cincin lain yang menggantikannya. Cincin lain yang menggantikannya?

Aku melirik ke arah ponselku dan meraihnya kembali. Kemudian membuka WhatsApp dan melihat salah satu pesan yang dari tadi belum aku baca, bahkan dari seminggu yang lalu mungkin. Itu dari Stefan.

Ragu-ragu, aku pun menyentuh nama itu dan membuka chat itu kemudian. Menampilkan begitu banyaknya pesan masuk sejak seminggu yang lalu, ketika terakhir aku membalas chat-nya untuk membahas soal nama baptis anak Terry yang akhirnya aku dan dia sepakati. Kami memberikan Carly nama baptis Adelaide yang terinspirasi dari nama Santa Adelaide, seorang ratu yang cantik dan saleh, yang lemah lembut pada rakyatnya dan selalu rendah hati. Dan ternyata Terry suka banget dengan nama itu. Kemudian setelah pembahasan seputar Terry yang setuju setelah aku beri tahu tentang nama barusan, aku sudah tidak membalas lagi. Sedangkan Stefan, well... selain terus menerus masih datang ke rumah setiap pagi dan malam, dia juga tidak pernah jemu untuk mengirimkan aku berbagai macam chat yang bahkan jarang sekali aku balas semenjak aku meng-unblock-nya dari WhatsApp.

RemainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang