"Yuki, tambah ikan bakarnya. Makan pakai sambal. Itu sambal dabu-dabunya Om yang bikin, lho. Enak nggak?" Om Jerry mendorong mangkuk sambal dabu-dabu kehadapanku dan bertanya padaku dengan amat ramah. Aku menyambutnya senang sambil ngangguk-ngangguk.
"Iya, Om. Tante udah cerita barusan. Katanya Om yang buat sambelnya. Enak, Om. Enak banget. Yuki minta resepnya, dong." Papanya Al memang jago banget masak. Dulu aku juga pernah nyobain lemang dan ikan bumbu kuningnya. Enak banget, deh. Aku aja sampai makan dua kepala ikannya waktu itu saking enaknya.
"Hahaha. Bisa aja kamu, Yuk. Oke, oke, nanti Om kasih tau resepnya apa saja, ya? Tapi ini nambah dulu, biar banyak makan disini."
Aku tersenyum pada Om Jerry sembari mengambil sambal dan menuangkannya ke piringku. Om Jerry ini memang baik dan selalu menyenangkan. Dia lucu, humoris, dan gaul banget walaupun udah setengah abad lebih usianya. Waktu pertama kali aku akan bertemu dengan Om Jerry di Pontianak waktu itu, aku sempat tegang dan ketakutan. Aku takut kalau Bapaknya Al adalah orang yang kaku dan super serius seperti Al. Eh, waktu dia baru saja sampai rumah, Om Jerry sudah teriak dari depan pintu: "Al, Bapak bawa duren!" dan aku langsung tau kalau Om Jerry adalah orang yang menyenangkan.
Kemudian obrolan pertama kami adalah ketika Om Jerry bertanya, "Yuki, barusan kamu lihat Al ketakutan nggak waktu di pesawat?"
Sambil mengulum senyum, aku menganggukkan kepala. "Iya, Om. Barusan Al pucat banget, malah sampe keluar keringet dingin waktu pesawat take-off dan landing. Tanganku sampe di genggam kenceng banget. Terus pas diatas juga diem aja kayak patung."
Om Jerry tertawa keras-keras. Dia merangkul leher putranya dan mengacak-acak rambut Al. "Ternyata masih sama kamu sama Bapak, ya? Takut terbang. Kasian Yuki, nasibnya sama kayak Ibumu, ketemu laki-laki seperti kita yang cemen, naik pesawat aja ketakutan. Yuki, maaf kalau anak Om ini malu-maluin, ya." Al cuma senyum-senyum malu aja dibegitukan sama Bapaknya. Sementara aku tertawa bersama Tante Esther.
Kemudian sambil makan duren, Om Jerry bercerita sejarah kenapa dia dan putra sulungnya yang cuma nyengir-nyengir malu disebelahku itu bisa sama-sama takut naik pesawat. Saat itu Al masih berusia delapan tahun, dan Om Jerry mendadak dapat telepon kalau salah satu sahabat karib Om Jerry yang ada di Jakarta meninggal. Awalnya satu keluarga mau ke Jakarta untuk melayat, tetapi saat itu Tante Esther sedang mengandung Rio, sedangkan Markus juga baru tiga tahun. Makanya yang bisa ikut menemani Om Jerry untuk ke Jakarta naik pesawat hanyalah Al. Lalu katanya, sepulangnya dari Jakarta, ketika mereka sudah sampai dan akan landing di Supadio, pesawat tergelincir karena bandara Supadio saat itu landasannya masih pendek. Untungnya hanya tergelincir satu meter lebih sedikit, dan semua penumpang selamat. Tapi tetap saja, sejak saat itu, dua-duanya jadi trauma naik pesawat, bahkan terbawa sampai sekarang.
Memang selalu menyenangkan setiap kali aku bisa berkumpul bersama keluarga Al. Karena keluarga Al adalah salah satu dari segelintir keluarga yang kutahu sangatlah harmonis dan bahagia. Bapak dan Ibunya selalu tetap romantis walaupun sudah menikah puluhan tahun, kalau nggak salah sudah jalan tiga puluh delapan tahun di tahun ini. Al dan kedua adiknya juga selalu akrab walaupun tiga-tiganya punya karakter yang berbeda. Al yang dewasa dan pendiam, Markus yang jahil dan konyol, juga si bungsu yang lebih muda dariku empat tahun, yang punya sikap perpaduan kedua Kakaknya, lebih easy going daripada Al, tetapi lebih kalem daripada Markus.
Yang kutahu juga, ketiga anak Om dan Tante Lamera ini pinter-pinter. Al dokter gigi, Markus pegawai pajak, sedangkan Rio punya bisnis premium leather wallet yang dijual lewat Instagram bersama teman-temannya. Dan jangan tanya fisiknya, ganteng-ganteng semua, dan lumayan mirip satu sama lain, walaupun menurutku Al tetep paling ganteng. Dan setiap aku ada diantara keluarga mereka, kehangatan keluarga selalu terasa melingkupi seakan aku adalah bagian dari keluarga ini juga. Dan saat ini aku bersyukur bisa ada di tengah-tengah mereka lagi walaupun Al sudah tidak ada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Remain
Romance"Don't go where I can't follow." Mungkin itu yang selama ini ada di benak Yuki (30yo) setiap kali bayangan Al hadir dibenaknya. Yuki mencintai Al, sangat mencintai laki-laki itu, bahkan lebih dari dia mencintai dirinya. Sehingga ketika Yuki sudah me...
