Semua sudah selesai sesuai dengan rencana. Rumah Gemuk sudahdihias sedemikian rupa dengan dominasi warna putih dan silver. Sambil mengambil foto dari hasil dekor sekeliling, akutersenyum bangga. Iya, aku memang selalu gini kok setiap selesai mempersiapkan wedding dari semua capeng-ku. Seneng ajagitu kalau sudah berhasil mewujudkan impian mereka akan pernikahan yang indahbagai di negeri dongeng atau mungkin mereka yang ingin pernikahan tradisionalyang terkesan mewah dan elegan. Semuanya adalah mimpi. Jadi ketika aku berhasilmewujudkannya, kemudian melihat wajah bahagia mereka ketika melihat hasilnyabagaikan mendapat kejutan yang mereka dambakan, rasanya hangat dan aku jugajadi ikut bahagia sekali.
"Kak Yuki, ada telepon," suara Ivana menyadarkanku. Aku pun menerima ponsel yang dia sodorkan dan membaca peneleponnya. Terry.
"Halo Bu Ter," sapaku dan langsung dibalas Terry dengan sapaan girang.
"Halo! Gue mau ceki-ceki nih, gue udah booked hotel sama tiket pesawat. Besok gue nyampe ya, Bok. Tolong sambut gue dengan karpet merah."
"Mana bisa, Neng. Gue besok sibuk. Kan gue udah bilang, kawinannya besok."
"Ya sore gitu lho, Yuk. Masa nggak bisa sih kita ketemuan dulu pas jeda antara pemberkatan dan resepsi? Gue pesawat pagi, kok. Makan siang dulu deh di Bebek Tepi Sawah. Gue lagi ngidam banget Bebek Tepi Sawah, nih."
"Kaga bisa, oncom. Udah deh, lo sama Manda aja dulu. Lusa baru kita main bareng. Kan gue juga udah extend ini biar bisa pulang bareng."
"Iya sih, jadi besok kita nggak ketemuan, nih? Nggak asik banget, masa udah di satu kota, ketemuan juga enggak."
"Ya kan lusanya ketemu, Bu. Repot deh lo, kayak di Jakarta nggak pernah ketemu aja," ledekku pada Terry. Tapi tiba-tiba ku teringat. "Eh Ter, besok ajak main Stefan juga ya. Soalnya besok kan gue pasti sibuk banget, terus..."
"Wait, wait, wait, ada Stefan disitu?!" Terry terkejut.
"Ada. Kemarin dateng. Katanya janjian sama Agung. Emang Agung nggak cerita?"
"Enggak! Rese nih si Agung, nggak bagi-bagi kabar bahagia gini ke bini nya. Ih, aduh, jadi kalian lagi liburan bareng, nih? Ya ampun, seneng deh daku mendengarnya."
"Nggak usah norak deh. Biasa aja kali."
"Ya nggak bisa biasa dong, Yuk. Ini adalah sebuah perkembangan yang sangat baik, sebuah berita yang sangat patut untuk gue tagih cerita lusa. Awas lo ya! Gue minta tolong agar di ceritakan sejelas-jelasnya, selengkap-lengkapnya, dan sebenar-benarnya. Nggak boleh ada yang dilewatin, ditutup-tutupin, apalagi di sensor-sensorin. Nggak terima gue."
"Berisik! Udah deh ya, gue masih mau kerja nih, Nyet. Udah ya, bye!"
Dan aku pun menutup telepon dari Terry dan hendak kembali memasukan ponsel kedalam kantong celana. Tapi sebelum sempat ku masukan kedalam saku, ponselku sudah kembali berbunyi. Dan kali ini, nama Stefan yang muncul di layar.
"Halo," lagi-lagi aku menyapa si penelepon lebih dulu.
"Hai, gimana? Udah bisa aku culik?" tanyanya.
Aku tertawa. "Bisa. Mau diculik kemana, nih?"
"Keluar aja. Aku udah diluar."
Dan aku pun menuruti ucapannya dan berjalan keluar dari Rumah Gemuk. Dan terperangah ketika melihatnya kini sudah ada di depan dengan VW Safari putih yang entah di sewanya dari mana. Asli lucu banget. Sudah lama banget aku pengen coba naik VW ini, cuma selama ini kalau aku ke Bali pasti karena kerjaan atau bersama Manda dan Terry, dan kalau adanya Cuma tiga cewek pasti ogah banget diajak naik mobil terbuka dan panas-panasan gini di Bali kan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Remain
Romansa"Don't go where I can't follow." Mungkin itu yang selama ini ada di benak Yuki (30yo) setiap kali bayangan Al hadir dibenaknya. Yuki mencintai Al, sangat mencintai laki-laki itu, bahkan lebih dari dia mencintai dirinya. Sehingga ketika Yuki sudah me...
