Telepon Terry padaku dan Manda langsung membuat kami berdua berkumpul dirumahnya sore ini. Barusan, ketika aku masih di Bunga Rampai untuk mengontrol dekor untuk resepsi pertunangan client-ku nanti malam, tiba-tiba si Terry telepon sambil nangis-nangis. Aku jelas aja kaget denger dia udah nangis-nangis di telepon gitu. Jarang banget Terry begini. Ini pasti lagi ribut sama Agung, deh. Aduh itu pasangan satu, kalau udah ribut, yang gempar pasti seisi dunia.
"Halo, Ter, lo kenapa? Kok nangis?" tanyaku panik dan khawatir.
"Gue benci banget sama Agung, Yuk. Benci banget gue. Nggak kuat gue sama dia. Capek gue, Yuk. Punya suami bisanya nyakitin hati gue terus," ucap Terry ditengah-tengah tangisnya.
"Heh, kok ngomongnya gitu, sih? Ributnya karena apa lagi, sih?"
"Ya karena si Agung, tuh! Sekarang dia nggak pulang-pulang ke rumah. Kesel banget gue! Kalau emang mau ninggalin dari dulu, ya bilang aja."
"Hush, hush, nggak boleh ngomong gitu, ah. Kasian si bayi, Ter. Gini, deh, gue ke rumah lo sekarang, ya."
"Iya. Cepetan, ya, Yuk. Pliss banget cepetan."
"Iya, Sayang. Iya. Tunggu, ya," jawabku kemudian memanggil Misael untuk mengantarkanku dengan motor. Karena udah jelas kalau pake mobil, jam makan siang begini, mana ujan pula, dari Menteng ke Setiabudi sama aja nyari mati. Nggak akan gerak.
Dan sesampainya aku di rumah Terry, aku menekan bel pintu rumahnya, dan ternyata Manda yang membukakan. "Lo udah disini?" tanyaku sambil masuk kedalam rumah.
"Iya. Kebetulan banget gue lagi nyalon di GI. Yaudah gue buru-buru aja kesini pas di telepon sama si bumil tuh. Kok lo basah gini, deh? Naik motor lo ya?"
"Iya. Gue barusan dianterin si Misael kesini pake motor, Man. Ujan-ujanan deh gue jadinya. Si Terry mana? Diatas ya?" Aku melepas blazer kemudian meninggalkannya di sofa ruang tamu bersamaan dengan tasku. Kemudian naik ke lantai dua menuju kamar Terry bersama Manda. "Masih nangis tuh anak, Man?"
"Masih, lah. Nangis mulu dari tadi. Gue nanya berantemnya gara-gara apa, nggak dijawab."
"Yaampun, tuh laki bini, ya. Kalau berantem udah kaya mau perang saudara aja tau, nggak."
"Emang, tuh. Lo omongin, deh."
Aku dan Manda kemudian masuk kedalam kamar Terry, menemukan Terry sedang tiduran di kasurnya sambil memeluk Neyna dengan terus menangis. Aku dan Manda menghela nafas melihat Terry seperti itu. Kemudian kami sama-sama menghampiri dan duduk di kasurnya.
"Terry... Lo sama Agung kenapa lagi, sih? Masih yang gara-gara kemarin itu?" tanyaku lembut. Memang seminggu yang lalu, Terry dan Agung juga sempat berantem karena Agung ketahuan beli motor. Dan emang si Terry yang hormonnya lagi kacau balau semenjak hamil ini, langsung ngamuk aja dan hampir kabur ke rumah Manda kalau nggak dibujuk-bujuk Agung untuk tetep dirumah.
Tapi Terry menggeleng. "Bukan. Lain lagi. Tapi tau, ah. Capek gue ceritanya, Yuk."
"Ih elo. Cerita, dong. Nggak kasian liat gue ujan-ujanan kesini cuma buat nyamperin elo?"
Terry kemudian melihatku yang sudah basah kuyup dan akhirnya menghela nafas panjang. Dia kemudian duduk dan sambil menangis mulai bercerita. Ternyata masalahnya itu dimulai karena Agung yang sedang mulai shooting film terbarunya mulai jadi jarang pulang. Jadi jarang ada untuk Terry. Kalau pulang dan kecapekan, dia biasanya jadi berubah jutek. Kalau Terry tanya, jawabnya seolah-olah terganggu. Sementara Terry juga lagi hamil dan Ibu hamil itu mood-nya jelas aja sepuluh kali lebih sensitif. Puncaknya barusan, ketika Terry yang meminta Agung untuk menemani cek kehamilan, Agungnya bilang nggak bisa karena harus shooting over-time. Dan Terry langsung marah-marah, bilang kalau Agung mulai nggak ada waktu buat dia, nggak perhatian, nggak memikirkan Terry yang lagi hamil. Sementara Agung juga yang kayaknya lagi pusing dan capek jadi balas marah. Akhirnya mereka ribut di telepon sampai sekarang Agung nggak telepon-telepon Terry lagi dan juga nggak pulang ke rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Remain
Romance"Don't go where I can't follow." Mungkin itu yang selama ini ada di benak Yuki (30yo) setiap kali bayangan Al hadir dibenaknya. Yuki mencintai Al, sangat mencintai laki-laki itu, bahkan lebih dari dia mencintai dirinya. Sehingga ketika Yuki sudah me...
