Rese ah! Umpatku sambil melempar tissue yang sudah kuremas-remas kedalam tong sampah di sisi kasur setelah kugunakan untuk membersihkan hidungku tapi kemudian aku buru-buru mencabut dua lembar tissue lagi di box-nya karena aku kembali bersin. Sudah seharian penuh aku terpaksa diam di tempat tidur karena flu berat akibat hujan-hujanan Jumat kemarin, dan Sabtunya juga full ngurusin nikahan dari pagi sampai tengah malam membuatku nggak punya waktu istirahat dan langsung drop begini.
Dan sialnya lagi, udah flu begini, si Min nggak ada di rumah. Dia pulang dulu ke rumah Ibunya dan katanya sih pulangnya nanti malam. Jadi dari tadi aku cuma bisa diam di kamar, nonton TV, sambil dengerin geledek sendirian karena di luar lagi gede banget. Sendirian sakit-sakit gini sedih banget, deh. Sementara rasanya pulang ke rumah Mama juga tak sanggup. Dan aku juga nggak mau telepon Mama, pasti Mama nanti bakal panik banget dan semuanya jadi makin ribet. Padahal aku cuma flu doang.
Saat aku sedang menenggak air putih, ponselku berdering. Aku meraihnya dari nakas dan membaca nama peneleponnya. Si Terry. Apalagi nih anak? Jangan bilang ribut lagi!
"Halo," jawabku dengan suara bindeng setelah menggeser bulatan hijau di layar.
"Halo darlin'. Lagi apa lo Minggu gini? Nyalon, yuk? Gue lagi nungguin Agung futsal, nih. Boring banget, jadi mending kita 'cus nyalon aja," suara Terry terdengar ceria. Oh, bagus deh, berarti tuh anak nggak ribut sama lakinya lagi. Tapi untuk tawarannya jalan hari ini, aku terpaksa harus nolak, nih. Lagi beler gini gimana caranya mau keluar? Padahal enak banget kali ya kalau di pijit pas badan lagi sumeng gini. Tapi sayangnya, aku terlalu sakit untuk keluar rumah.
"Nggak bisa, gue lagi pilek nih gara-gara lo. Ajak Manda aja sana."
"Manda lagi ikut Bang Tama ke Bandung. Waduh, sakit lo ya? Pantes suaranya bindeng gitu. Udah ke dokter belom? Terus udah makan apa, Yuk?"
"Belom, si Min lagi nggak dirumah, jadi nggak ada yang masak. Gue juga mau ke doket nggak kuat. Pala gue sakit banget. Mana lemes banget lagi nih gara-gara meriang."
"Yaudah kalau gitu gue kesana deh, ya? Lagian gue juga nggak ngapa-ngapain disini."
"Eh jangan!" buru-buru aku melarang. "Bumil nggak boleh deket-deket orang sakit, ah. Gue nggak mau lo ketularan."
"Nggak pa-pa kali, Yuk. Kasian banget elo lagian sendiri gitu. Lagian juga si Agung masih lama kok futsalnya. Gimana?"
"Nggak usah, gue juga cuma flu biasa, kok. Nggak pa-pa," ucapku sambil bersin-bersin.
"Flu biasa tapi bersin-bersin gitu. Yaudah kalau gitu lo tunggu aja ya, gue kirimin orang buat ngurusin lo. Oke? Oke. Bye!"
"Eh, nggak usah... Ter? Ter!" telepon sudah diputus Terry. Aduh, ngapain lagi ini anak nyuruh orang kesini? Siapa juga yang mau disuruh kesini, kan? Ah, udahlah biar aja. Aku udah teler banget, mau tidur. Kepalaku sudah senat-senut, dan badanku makin menggigil lagi karena diluar hujannya makin lebat. Dan mataku yang rasanya panas ini sudah tidak sanggup lagi untuk terbuka, jadi emang paling enak di tidurin aja lah. Nanti kalau ada yang dateng baru deh aku bukain. Sekarang, tidur dulu emang paling enak, kan...
-0-
"Yuk, Yuki? Yuk, bangun Yuk," suara yang familiar bergema ditelingaku. Sinar lampu kamar menyilaukan mataku yang perlahan mulai terbuka seraya suara si pemanggil namaku semakin jelas terdengar. Aku juga bisa merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhku lewat tangan kananku. Aku kenapa, ya?
"Yuk, bangun. Minum obat dulu, Yuk," suara itu lagi-lagi menyadarkanku. Aku perlahan menoleh dan sedikit terkejut melihat dia kini sudah ada di sisi tempat tidurku.
Aku juga bisa melihat kalau ternyata kehangatan di tangan kananku ini ternyata berasal dari tangannya yang menggenggam tanganku dengan erat. Tangan besarnya yang biasanya dingin itu kini mendadak jadi hangat. Nyaman banget rasanya, makanya tanpa sadar aku juga mengeratkan genggaman tanganku di tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Remain
Romance"Don't go where I can't follow." Mungkin itu yang selama ini ada di benak Yuki (30yo) setiap kali bayangan Al hadir dibenaknya. Yuki mencintai Al, sangat mencintai laki-laki itu, bahkan lebih dari dia mencintai dirinya. Sehingga ketika Yuki sudah me...
