29

6.3K 646 25
                                        

Akhirnyaaaa...
Vote nya goal juga.

Cuma iseng aja kok.
Ney jarang n hampir nggak pernah pasang-pasang target kayak gitu wkwkwk 😁😁😁

Happy Reading






Tak lama pintu kamarku terbuka lalu tertutup.
Aku diam dengan posisiku berbaring  membelakangi pintu.

Aku merasakan sudut ranjang di belakangku melesak karena beban tubuh.

" El, aku minta maaf. Kamu benar, seharusnya aku lebih memahami kamu. Kamu istriku, sudah seharusnya aku juga lebih mementingkan kenyamanmu. Maaf ya "
Aku membalikkan tubuhku sambil  tersenyum.
" Kamu jadi pergi? "
Dean mengangguk. Seketika senyumku hilang.
" Tapi cuma aku sama Beno kok. Clara di sini tetep di bengkel " buru-buru Dean menyela.

Aku bangun dari berbaringku.
" Berarti dia masih kerja di sini ya? " Tanyaku.
Dean tampak berpikir. Seperti sedang mempelajari ekspresiku.
" Kamu pengen banget ya dia keluar dari sini? "
Aku mengangguk.

" Dean.." Ragu aku mengatakannya. Yang aku khawatirkan dia lebih percaya Clara daripada aku. Tapi, setidaknya aku akan mencoba.
" Clara itu..suka sama kamu. Cinta sama kamu "
Dean menghela nafas.
" Aku tahu. Aku juga tidak akan capek untuk bilang sama kamu kalau aku nggak akan balas perasaan dia "

" Ya kamu berkali-kali bilang seperti itu "
Dean mengangguk.
" Tapi Dean..Clara, pernah bilang padaku kalau dia sangat menginginkan kamu. Bagaimana kalau suatu saat dia memiliki kamu ketika ada kesempatan? " aku menggigit bibir.
" Jadi, karena itu kamu pengen Clara nggak kerja di sini lagi? "
Aku mengangguk.

Tanpa kuduga Dean malah tersenyum.
" Baiklah, setelah dari Malang nanti akan kupikirkan bagaimana agar Clara tidak lagi kerja di sini. Aku nggak mungkin kan main pecat tanpa ngasih solusi. Kasihan dia kalau tiba-tiba nggak ada penghasilan "
Meski aku kurang setuju karena bagaimanapun Clara sudah dewasa. Sudah bisa mencari kerja sendiri tidak bergantung pada Dean terus. Tapi aku nggak boleh egois. Dean sudah baik padaku. Lagipula aku tidak tahu masa lalu mereka seperti apa. Kenapa Clara sangat bergantung pada Dean dan Dean begitu susah untuk lepas tangan.

" Yaudah, aku berangkat dulu ya. Kasihan Beno dari tadi nungguin "
Dean mengusap kepalaku. Lalu beranjak dari ranjang.
" Kamu nggak usahlah ke cafe. Biar Tori yang urus. Dikurang- kurangin naik kendaraan dan capeknya. Lahiran tinggal sebulanan lagi kan " Dean tersenyum.
Aku mengangguk.
" Aku sebenarnya bosen kalau di rumah terus "
" Kamu kan bisa ngobrol sama Mbok Mini "
Dean meraih jaketnya di atas ranjang lalu memakainya.

" Dedek, Papa berangkat dulu ya. Jagain Mama.."
Dean mengusap perutku.
Seharusnya Dean mengecup keningku kan setelahnya? Ya memang harusnya seperti itu. Tapi Dean nggak tuh.

Aku mengantar kepergian nya sampai teras.

❤❤❤❤

" Janinnya sehat. Tinggal nunggu beberapa Minggu lagi. Tapi itu bukan patokan ya. Karena bayi tau kapan waktu terbaik dia mau keluar. Bisa maju dari ha pe el, bisa juga malah mundur "
Kata dokter langganan yang kami kunjungi.

" Rencana mau lahiran di mana, Bu?"
" Di klinik bersalin dekat rumah saya, Bu "
Aku dan Dean sudah melihat-lihat semua tempat dan sudah memilih di mana nantinya tempat untukku melahirkan. Dean menyuruh untuk memilih yang paling nyaman menurutku.

" Bapaknya bisa bantu Ibu juga lho. Berhubungan suami istri-nya di seringin aja Pak. Biar mudah nanti buat lahirannya.."
Bukan cuma Dean, wajahku juga merah menahan malu. Boro- boro Bu Si Bapak nengok dedek nya. Kami aja pisah ranjang. Sama sekali nggak berhubungan intim. Alasannya kalau  nggak karena dia yang kayaknya sekarang jaga jarak banget buat ngehargain perasaan aku yang dulu aku bilang masih butuh waktu, ya mungkin dia udah nggak selera sama bodiku yang udah kayak ikan buntal ini.

MISTAKES ( S E L E S A I )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang