Bab 19: The Ghost of the Past

120 15 0
                                        

Pintu kayu ek ganda ruang praktik itu belum sempat bergeser sepenuhnya ketika atmosfer di dalam ruangan mendadak memadat. Langkah kaki yang mantap dan teratur bergema di sepanjang lantai marmer, menembus barisan pengawal pribadi Baskara yang akhirnya terpaksa memberi jalan.

Issa Ghazafar melangkah masuk. Jas setelan dua potong berwarna abu-abu gelap yang melekat di tubuh tegapnya tampak sedikit kusut di bagian lengan—satu-satunya petunjuk bahwa pria itu baru saja menempuh penerbangan tergesa dari Bali. Sepasang mata elangnya yang dingin menyapu seisi ruangan, melewati wajah tegang Rosalind, mengunci tatapan Baskara yang berdiri kaku, hingga akhirnya mendarat pada Shaqueilla.

Ada kilatan protektif yang begitu pekat saat mata Issa mendapati jejak air mata di pipi mulus Shaqueilla. Dalam satu detik, wajah tampan aristokrat itu berubah menjadi topeng dominasi yang tak tersentuh.

"Selamat siang, Pak Baskara, Bu Rosalind," sapa Issa, suarasa bariton mengalun tenang, datar, dan memotong ketegangan ruangan dengan ketajaman yang absolut. "Maaf kalau kedatangan saya agak mendadak dan mengganggu pembicaraan keluarga."

Baskara menegakkan posturnya, menyilangkan tangan di dada dengan raut wajah yang membeku. "Kamu tidak punya sopan santun, Issa. Ini ruang kerja putri saya, dan kami sedang menyelesaikan urusan internal keluarga Prameswari."

"Urusan ini melibatkan nama saya dan Shaqueilla, Pak Baskara," sahut Issa tanpa ada getaran ragu sedikit pun. Pria itu maju tiga langkah, berdiri tepat di samping Shaqueilla, memangkas jarak di antara mereka hingga bahu mereka hampir bersentuhan. Kehadiran fisiknya yang besar dan tegap seolah langsung menjadi tameng tak kasat mata bagi wanita di sebelahnya. "Saya terbang dari Bali khusus untuk memastikan bahwa tidak ada satu pihak pun—termasuk Anda—yang menuduh atau menuduhkan kesalahan ini sepenuhnya pada Shaqueilla."

"Kamu bicara seolah kamu punya hak untuk mengatur keputusan kami," sela Rosalind, suaranya yang biasa mengalun anggun kini dipenuhi oleh keterkejutan dan kejengkelan yang ditahan. "Kalian berdua menyembunyikan hubungan ini, membohongi kami, dan sekarang foto kacamata konyol itu jadi konsumsi publik! Kamu tahu betapa berisikonya posisi Shaqueilla di rumah sakit ini?"

"Saya tahu persis risiko itu, Bu Rosalind," jawab Issa, menoleh sekilas menatap Rosalind sebelum kembali mengunci pandangannya pada Baskara. "Dan itu alasan kenapa foto tersebut sudah dihapus. Tim PR saya sedang menangani isu ini tanpa merendahkan posisi Shaqueilla sedikit pun. Tapi soal hubungan kami... saya tidak punya niat untuk menyangkalnya di depan Anda berdua."

Baskara tertawa dingin, sebuah tawa tanpa humor yang menggema kaku. "Menyangkal? Kamu pikir kamu dalam posisi bisa menawar, Issa? Kamu tahu betul bahwa Prameswari Corp sedang berada dalam posisi tawar yang jauh lebih kuat di bursa saham minggu ini. Kalau saya mau, saya bisa menggunakan perselisihan ini untuk mempercepat tekanan akuisisi terhadap perusahaan keluargamu!"

"Silakan, Pak Baskara," potong Issa cepat, matanya menatap pimpinan Prameswari Corp itu tanpa berkedip. "Lakukan apa yang harus Anda lakukan di bursa saham. Serang anak perusahaan kami, beli saham sekunder kami di Cayman Islands. Saya bakal melayaninya sebagai COO Djojohadikusumo Group di meja pasar modal. Tapi jangan pernah bawa persaingan saham itu untuk mengintimidasi Shaqueilla atau mendikte dengan siapa dia boleh berhubungan."

"Issa..." Shaqueilla berbisik pelan, tangannya yang dingin secara refleks menyentuh lengan jas Issa. Ia bisa merasakan ketegangan otot lengan pria itu yang mengeras kaku di balik kain mahal.

Genggaman jemari Shaqueilla membuat Issa menoleh. Kilatan keras di mata elang pria itu seketika melunak sewaktu menatap Shaqueilla. Tanpa memedulikan keberadaan kedua orang tua di depan mereka, Issa mengulurkan tangannya, meraih jemari dingin Shaqueilla dan menggenggamnya erat di depan mata Baskara dan Rosalind.

Rumor Has ItCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang