Bab 26: The Box from Tiffany & Co.

85 9 0
                                        

Aroma antiseptik yang bercampur dengan wewangian terapi peppermint terasa begitu kaku di dalam ruang kerja praktiknya. Keheningan yang ditinggalkan oleh rombongan Bapak Soeryo beberapa saat lalu seolah menggantung kencang di udara.

Shaqueilla berdiri kaku di depan meja kerjanya. Matanya menatap draf draf dokumen keputusan konsorsium Soeryo Capital yang tergeletak di atas meja kayu ek. Pilihan yang ditawarkan Pak Soeryo-menyetujui peresmian hubungan dengan Julian Soeryo sebagai syarat mencairkan dana hibah lima ratus miliar rupiah untuk proyek klinik BSD-terasa bagaikan perasan ancaman yang paling dingin.

Dada Shaqueilla naik turun teratur, menahan amarah yang hampir meluap. Proyek perluasan pediatric care BSD adalah hasil perjuangan klinisnya selama lima tahun terakhir. Dan melihat impian murni itu diperjualbelikan demi menundukkan posisinya dalam persaingan bisnis antar keluarga membuat hatinya terasa teriris.

Pintu kayu ek ganda ruang kerjanya terdorong perlahan. Labibah melangkah masuk dengan wajah pucat, tangannya gemetar memegang draf berkas medis.

"Shaqui..." panggil Labibah lirih, matanya menatap draf draf Soeryo Capital di atas meja. "Gue tadi sempat lihat Pak Soeryo sama dua pengacaranya keluar dari sini. Muka beliau dingin banget. Ada masalah apa sama pendanaan BSD?"

Shaqueilla membuang napas panjang dari hidungnya, merapatkan jas putih dokternya. "Pak Soeryo membekukan seluruh dana lima ratus miliar buat proyek BSD, Bih. Beliau ngasih ultimatum... gue harus putus sama Issa dan terima Julian sebelum jam lima sore ini kalau mau dananya dicairkan."

Labibah membelalakkan matanya kaget, menutup mulutnya dengan tangan. "Gila! Itu sih pemerasan terang-terangan! Pak Soeryo beneran mau membunuh proyek klinik anak cuma buat bikin Issa kalah di bursa?"

"Iya," jawab Shaqueilla singkat, suaranya dipenuhi oleh keteguhan yang amat kaku. Ia melangkah mendekati mejanya, menyambar lembaran dokumen dari Soeryo Capital tersebut, lalu melemparkannya tepat ke dalam tempat sampah ukir di samping meja. "Tapi mereka salah besar kalau mikir gue bakal menjual harga diri dan perasaan gue cuma demi draf investasi kotor kayak gitu."

Labibah menatap sahabatnya dengan rasa cemas dan kagum yang bercampur. "Terus langkah lo apa, Shaqui? Peletakan batu pertama minggu depan bisa berantakan kalau pendanaannya mendadak kosong."

Shaqueilla meraih ponsel pribadinya dari atas meja. "Gue yang bakal cari konsorsium pengganti. Prameswari Corp punya jaringan donor yayasan medis yang cukup luas. Gue nggak bakal biarkan proyek ini bergantung sama keluarga Soeryo."

Namun, tepat sebelum Shaqueilla sempat menggeser layar ponselnya, panggilan masuk terenkripsi dari nomor pribadi Issa mendadak menyala di layar gawai.

Shaqueilla menatap nama Issa yang tertera di layar. Kehangatan yang instan seketika mengalir menembus kepanikan di dadanya. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.

"Halo, Sa?" sapa Shaqueilla seramah dan setenang mungkin, menutupi getaran emosinya.

"Kamu ada di ruang kerja, Shaqui?" suara bariton Issa mengalun rendah dan hangat di seberang saluran. Ada ketenangan mutlak dari vokal pria itu yang seketika menenteramkan saraf-saraf Shaqueilla yang tegang.

"Iya, Sa. Gue baru selesai nemuin tamu," jawab Shaqueilla jujur. "Lo gimana? Sidang arbitrase Singapura sudah mulai?"

"Mas Raden dan tim hukum internasional gue yang memimpin pendaftaran berkasnya pagi ini," pangkas Issa mantap. "Posisi kita sangat aman. Dan soal Tamu dari Soeryo Capital yang baru aja keluar dari ruangan lo..."

Shaqueilla menahan napas sejenak. "Lo udah tahu?"

"Gue tahu," sahut Issa, suara baritonnya mendingin sejenak sebelum melembut penuh afeksi. "Tim intelijen gue langsung melapor begitu mobil Pak Soeryo parkir di pelataran Kencana. Buka pintu ruang kerja kamu sekarang, sweetheart."

Rumor Has ItCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang