Bab 29: The Misdirection

69 10 0
                                        

Sinar matahari pagi menyelinap halus di antara tirai linen krem di ruang kerja dokter spesialis anak Kencana Medical Center. Aroma samar kopi hangat yang baru saja diseduh menyatu dengan harum lembut bunga lily putih yang bertengger manis di dalam vas porselen sudut meja. Di luar pintu yang terkunci rapat, aktivitas rumah sakit baru saja dimulai, tetapi di dalam ruangan bernuansa pastel itu, keheningan terasa begitu menenangkan.
Shaqueilla duduk bersandar di kursi kerjanya, jemari tangannya yang lentik meneliti laporan perkembangan fisik pasien anak dari ruang PICU melalui layar iPad. Di jari manis tangan kirinya, pendar berlian emerald-cut lima karat membias lembut kena pendar lampu meja. Sementara di jari manis tangan kanannya, berlian Tiffany Novo Round Brilliant empat karat dari kotak biru ikonik itu melingkar sangat anggun, memantulkan kilau pelangi tiap kali jemarinya menggeser layar.
Dua hari lalu, perundingan ksatria di kediaman Menteng berjalan sangat intens namun berujung melegakan. Baskara Prameswari—setelah melihat keteguhan Issa, restu mutlak dari Mas Raden dan Tante Amalia, serta hibah bersih tujuh ratus lima puluh miliar rupiah untuk proyek klinik BSD—akhirnya menerima kenyataan bahwa putri tunggalnya bukan lagi bidak bisnis yang bisa disetir. Hubungan mereka dan Issa kini telah memegang komitmen utuh di balik pintu tertutup.
Namun, dunia luar belum sepenuhnya tahu.
Suara ketukan tergesa pada pintu ganda kayu ek memecah keheningan ruangan. Tanpa menunggu sahutan penuh dari Shaqueilla, Labibah melangkah masuk seraya menggenggam erat ponsel pintarnya. Wajah sahabatnya itu memancarkan kombinasi antara cemas, geli, dan kepanikan yang membuncah.
"Shaqui!" panggil Labibah setengah berbisik seraya menutup pintu rapat-raptan dan menguncinya dari dalam. "Lo harus lihat ini sekarang juga. Sumpah, grup-grup sosialita sama platform media sosial lagi keos banget pagi ini!"
Shaqueilla meletakkan iPad-nya ke atas meja kayu ek, mengulas senyum santai. "Ada apa lagi sih, Bih? Kan foto Story kopi kemarin udah lewat dua hari. Orang-orang arisan masih bahas berlian Tiffany itu?"
"Justru itu masalahnya!" Labibah berjalan cepat mendekati meja, menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Shaqueilla. "Gara-gara foto kopi tanpa takarir itu, ditambah foto lo minggu lalu pas rapat sama perwakilan konsorsium properti... publik dan akun-akun gosip elit Jakarta mendadak bikin spekulasi salah arah yang kelewat liar!"
Shaqueilla memicingkan matanya, menatap layar gawai sahabatnya. Sebuah unggahan dari akun pengamat gaya hidup dan bursa saham dengan puluhan ribu pengikut terpampang di sana. Unggahan itu menampilkan kolase dua foto: foto Story kopi Shaqueilla yang memperlihatkan berlian Tiffany Novo, disandingkan dengan foto Shaqueilla sedang berjabat tangan sopan dengan Adrian Danunegoro—putra mahkota Danunegoro Land, raksasa konglomerat properti nasional—di pelataran hotel tempat simposium medis diselenggarakan tiga hari lalu.
Takarir di bawah unggahan tersebut tertulis sangat yakin dan penuh dramatisasi:
"A New Chapter in High Society: Apakah Ini Pemilik Sebenarnya dari Berlian Tiffany Novo?
Setelah rumor mengenai hubungannya dengan Issa Ghazafar dianggap meredup pasca-perselisihan bursa Prameswari Corp dan Djojohadikusumo Group, Dr. Shaqueilla Latisha Prameswari tertangkap kamera menghadiri pertemuannya dengan Adrian Danunegoro (Danunegoro Land).
Berdasarkan informasi lingkaran dalam, keluarga Danunegoro dikabarkan baru saja menyetujui komitmen aliansi proyek properti kesehatan bernilai triliunan rupiah dengan keluarga Prameswari. Cincin berlian Novo di jari manis sang dokter cantik diduga kuat merupakan tanda pertunangan privat dari klan Danunegoro.
Publik dan netizen sangat menyayangkan berakhirnya ikatan antara Shaqueilla dan Issa Ghazafar. Kisah 'Golden Couple' yang dipuja-puja sejak masa SMA itu tampaknya kini benar-benar telah mati dan terkubur oleh kerasnya pertempuran bursa saham."
Shaqueilla tertegun sejenak membaca narasi konyol di layar tersebut. Ibu jarinya mengusap permukaan berlian Tiffany Novo di jari manis tangan kanannya.
"Adrian Danunegoro?" Shaqueilla tertawa renyah, sebuah tawa geli yang amat jujur. "Bih, Pak Adrian itu umur empat puluh lima tahun, udah punya istri dan tiga anak! Kami jabat tangan kemarin murni karena Danunegoro Land itu kontraktor utama pembangunan struktur fisik klinik BSD!"
"Gue tahu! Gue tahu banget kalau Pak Adrian itu cuma kontraktor!" seru Labibah seraya menepuk jidatnya sendiri. "Tapi publik kan nggak tahu! Orang-orang cuma mencocokkan foto lo jabat tangan sama foto berlian di Story lo! Terus gara-gara berita gugatan Pengadilan Niaga kemarin sempat bocor halus, netizen langsung ngambil kesimpulan kalau hubungan lo sama Issa udah hancur total dan lo dijodohin sama klan properti lain!"
Labibah mengusap layarnya ke bawah, memperlihatkan ribuan tanggapan netizen dan ibu-ibu arisan yang dibanjiri rasa prihatin konyol.
"Duh, sedih banget. Gue padahal tim garis keras Shaqueilla-Issa dari zaman SMA. Ternyata hubungan mereka beneran mati gara-gara perang saham."
"Tapi berlian Tiffany Novo dari Adrian Danunegoro itu gila sih mewahnya. Ya wajar sih kalau Shaqueilla akhirnya milih move on dari Issa yang terlalu dingin dan sibuk di bursa."
"Sayang banget ya, padahal Issa udah bela-belain beli Patek Philippe Ref 2499 pair set. Ternyata pada akhirnya Shaqueilla berlabuh di keluarga Danunegoro."
"Ibu-ibu arisan Menteng lagi heboh banget nih! Katanya Tante Rosalind udah mulai pesan ruang ballroom buat pertunangan sama Danunegoro Land bulan depan!"
Shaqueilla memijat pelipisnya pelan, menggeleng-gelengkan kepala. "Rumor salah arah ini makin nggak masuk akal. Masa Mama dibilang udah mesen ballroom buat pertunangan sama Pak Adrian?"
"Namanya juga gosip sosialita, Shaqui," pangkas Labibah seraya mengempaskan tubuhnya di kursi seberang meja. "Kalau ada celah sedikit aja, mereka langsung rakit cerita roman picisan! Sekarang pertanyaannya... lo mau diam aja atau mau klarifikasi? Soalnya kasihan Issa, di X nama dia lagi disayang-sayangkan banget seolah-olah dia cowok yang gagal mempertahankan cinta pertamanya!"
Shaqueilla meraih ponsel pribadinya yang tergeletak di samping cangkir teh. Saat layar menyala, notifikasi pesan terenkripsi dari Issa baru saja mendarat.
Shaqueilla membuka pesan tersebut:
"Pagi, Dokter Prameswari. Gue baru tahu dari Sekretaris Hendra kalau ternyata pagi ini gue resmi digantikan oleh Adrian Danunegoro di mata publik."
Shaqueilla tidak bisa menahan tawa kecilnya. Pria itu menyikapi rumor konyol tersebut dengan ketenangan yang diwarnai candaan kasual.
Shaqueilla mengetik balasan:
"Selamat pagi, Pak COO. Maaf ya, ternyata reputasi kamu sebagai mantan pasangan emas resmi dinyatakan 'mati dan terkubur' pagi ini oleh netizen."
Hanya butuh tiga detik bagi Issa untuk membalasnya:
"Mati dan terkubur? Menarik. Boleh gue tahu sejak kapan calon istri gue dilamar sama kontraktor proyeknya sendiri?"
Shaqueilla tersenyum manis, membalasnya lagi:
"Nanti malam kan Malam Gala Anniversary perusahaankamu, Issa. Biarkan saja publik merasa prihatin seharian ini. Biar kejutan kita malam nanti makin berkesan."
Di seberang sana, Issa mengetik balasan singkat yang dipenuhi oleh kehangatan murni:
"Gue tunggu kamu di Malam Gala nanti, sweetheart. Gaun merah anggur itu udah bersiap di penthouse."
Shaqueilla meletakkan ponselnya kembali, menatap Labibah dengan binar mata jernih yang dipenuhi rasa percaya diri yang tinggi.
"Gue nggak bakal ngeluarin klarifikasi apa pun pagi ini, Bih," pangkas Shaqueilla mantap. "Biarkan aja akun gosip dan grup arisan itu sibuk mengasihani Issa atau mengira gue bertunangan sama Pak Adrian. Malam Gala Djojohadikusumo Group nanti malam bakal jadi panggung di mana semua narasi salah arah itu dihancurkan secara elegan."
Sementara itu, di sebuah restoran di kawasan Kebayoran Baru.
Sesi minum teh pagi arisan Grand Matriarchs berlangsung dalam atmosfer yang luar biasa riuh. Sepuluh wanita dari klan konglomerat tertua di Jakarta duduk di sekeliling meja mahoni bundar. Suara denting cangkir porselen buatan Inggris dan bisik-bisik yang dipenuhi rasa prihatin menguasai ruangan.
Tante Widya Soeryo—yang kemarin sempat dipermalukan oleh berita hibah tujuh ratus lima puluh miliar dari Issa—pagi ini tampak sangat bersemangat. Wajahnya memancarkan kepuasan terselubung saat memegang ponsel mewahnya.
"Aduh, Jeng Rosalind..." ujar Tante Widya seraya menatap Rosalind Prameswari yang duduk anggun di seberang meja dengan kebaya katun sutra berwarna gading. "Saya baru saja baca berita di media sosial. Katanya Shaqui beneran bertunangan sama Adrian Danunegoro ya? Berarti cincin berlian Tiffany Novo yang diunggah kemarin itu murni dari klan Danunegoro?"
Rosalind menyesap teh hangatnya secara sangat perlahan, meletakkan cangkirnya kembali ke atas tatakan dengan ketukan yang teramat halus. Wajah pimpinan wanita keluarga Prameswari itu tampak sangat tenang, tidak sedikit pun menunjukkan kepanikan atau ketegangan.
"Masyarakat di media sosial memang selalu punya imajinasi yang terlalu aktif, Widya," sahut Rosalind halus, suaranya mengalun dingin dan berwibawa. "Pak Adrian itu mitra kerja Prameswari Corp untuk urusan struktur fisik bangunan. Tidak ada hubungan personal apa pun di luar urusan profesionalisme medis."
Tante Lydia—adik kandung Rosalind—ikut menyela seraya tersenyum tipis. "Iya, Mbak Widya. Jangan suka menelan mentah-mentah berita gosip akun X. Lagi pula, nanti malam kan seluruh keluarga besar kita diundang ke Malam Gala Anniversary Djojohadikusumo Group di Ritz-Carlton. Nanti kita lihat sendiri bagaimana situasi sebenarnya."
"Tapi Jeng Rosalind..." desak wanita sosialita lain dari klan manufaktur, "publik kan kasihan sekali sama Issa Ghazafar. Di berita-berita bursa pagi ini, Issa dibilang gagal mempertahankan hubungan pribadi dengan Shaqui akibat perang saham kemarin. Katanya Issa sampai mengurung diri di kantornya dari kemarin sore!"
Rosalind menyunggingkan senyuman tipis yang sangat anggun—sebuah senyuman penuh arti dari seorang ibu yang tahu betul bahwa calon menantunya saat ini sedang memegang kendali mutlak atas seluruh permainan tersebut.
"Issa Ghazafar bukan pria yang mudah dikasihani, Jeng-jeng sekalian," tegas Rosalind penuh keteguhan. "Saran saya, simpan saja rasa prihatin kalian untuk nanti malam. Siapa tahu Malam Gala nanti memberikan kejutan yang sangat berbeda dari apa yang kalian baca di internet pagi ini."
Clarissa dan Natasha yang duduk di meja sebelah saling berpandangan dengan cemas. Senyuman penuh percaya diri dari Rosalind Prameswari membuat mereka sadar bahwa rumor salah arah yang sedang heboh di internet pagi ini mungkin hanyalah sebuah ketenangan sebelum badai kejutan yang sesungguhnya meledak nanti malam.
Siang hari di Djojohadikusumo Tower, SCBD.
Atmosfer di lantai empat puluh dua terasa begitu sibuk namun sangat terkontrol. Para eksekutif dan tim acara Malam Gala Anniversary sedang bergerak melengkapi detail akhir persiapan helatan raksasa yang akan dihadiri oleh ribuan tamu VIP nanti malam.
Di dalam ruang kerja COO yang luas, Issa Ghazafar berdiri di tepi jendela kaca raksasa yang menghadap ke arah pencakar langit metropolia. Pria itu telah mengenakan kemeja katun putih yang dua kancing atasnya dibiarkan terbuka santai, dengan lengan baju yang tergulung kaku hingga sebatas siku. Sepasang mata elangnya menatap pemandangan kota di bawah sana dengan ketenangan yang mutlak.
Pintu ruang kerja diketuk dua kali. Sekretaris Hendra melangkah masuk membawa sebuah folder dokumen dan iPad pribadinya.
"Pak Issa," sapa Hendra membungkuk sopan. "Tim Public Relations internal kita baru saja melaporkan bahwa tren perbincangan di media sosial mengenai rumor aliansi Dokter Shaqueilla dengan Danunegoro Land telah mencapai puncak kurva perbincangan."
Issa tidak mengalihkan pandangannya dari jendela. "Berapa banyak yang percaya bahwa hubungan saya dan Shaqueilla sudah berakhir?"
"Hampir delapan puluh persen publik dan pengamat sosialita meyakini narasi tersebut, Pak," jawab Hendra seraya menahan senyuman tipis. "Beberapa jurnalis hiburan bahkan sudah memasang stan kamera khusus di area karpet merah Ritz-Carlton nanti malam untuk mengabadikan momen kedatangan Anda dan Dokter Shaqueilla secara terpisah."
Issa berbalik secara perlahan, menyandarkan punggungnya pada meja kerja mahoni mewahnya. Pria itu memutar-mutar pena Montblanc di antara jemarinya, seraya menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin dan berkuasa.
"Biarkan mereka memasang kamera di karpet merah, Hendra," pangkas Issa dengan suara bariton yang mantap dan datar. "Dan pastikan tim keamanan siber kita tidak menyentuh atau menghapus satu pun artikel salah arah tersebut sampai jam delapan malam nanti."
Hendra terpana sejenak, lalu mengangguk paham. "Baik, Pak Issa. Pihak manajemen Ritz-Carlton juga sudah mengonfirmasi bahwa area presidential suite untuk persiapan Dokter Shaqueilla sore ini telah steril sesuai instruksi Anda."
"Bagus," kata Issa. "Kamu bisa kembali bekerja."
Setelah Hendra melangkah keluar, Issa meraih ponsel pribadinya dari meja. Pria itu menatap layar gawainya yang menampilkan foto Story kopi Shaqueilla. Ibu jari Issa mengusap lembut gambar jemari manis Shaqueilla yang melingkar berlian Tiffany Novo.
Dunia luar mungkin berpikir bahwa cinta pertama mereka telah mati dan terkubur oleh kerasnya perang bursa saham. Namun nanti malam, di bawah pendar lampu gantung kristal Grand Ballroom Ritz-Carlton, Issa Ghazafar akan memastikan bahwa seluruh dunia menyaksikan bagaimana ia menggandeng wanita yang dicintainya melintasi karpet merah—sebagai pasangan yang tak tergoyahkan dan tak dapat diintervensi oleh siapa pun.
Pukul lima sore.
Hujan gerimis tipis menyirami kawasan Pacific Place saat sedan hitam privat milik Issa berhenti tepat di pelataran khusus VIP The Ritz-Carlton Jakarta.
Shaqueilla melangkah keluar dari mobil, didampingi oleh dua staf pribadi atelier yang membawakan kain pelindung gaun malamnya. Ia mengenakan terusan katun kasual berwarna gading, membiarkan rambut hitam tebalnya terurai rapi.
Seorang head butler berjas kaku membungkuk hormat menyambutnya di depan pintu lift privat.
"Selamat sore, Dokter Shaqueilla," sapa sang butler sangat sopan. "Bapak Issa Ghazafar telah menyiapkan Presidential Suite di lantai tiga puluh lima untuk persiapan riasan dan gaun Anda. Tim penata rambut dan rias profesional sudah bersiap di dalam."
"Terima kasih," jawab Shaqueilla ramah dengan senyuman anggunnya.
Shaqueilla melangkah masuk ke dalam lift privat yang melaju halus menuju lantai teratas. Di dalam Presidential Suite yang sangat luas dan mewah dengan pemandangan lanskap kota Jakarta yang membentang keemasan dinaungi senja, tim penata rias terkenal langganan keluarga Prameswari sudah menunggu.
Selama dua jam berikutnya, proses transformasi berjalan dengan ketelitian tinggi. Riasan wajah Shaqueilla dibuat sangat elegan—menonjolkan kejelasan mata jernihnya, tulang pipinya yang halus, serta pemulas bibir berwarna merah anggur lembut (burgundy-nude) yang memancarkan aura wibawa murni seorang calon ratu dinasti. Rambut hitam tebalnya ditata dalam bentuk gelombang klasik Hollywood yang jatuh sempurna melintasi bahu kirinya.
Pukul tujuh malam tepat.
Shaqueilla melangkah ke dalam ruang ganti suite untuk mengenakan gaun malam pilihan Issa dari atelier Madam Evelyn.
Gaun malam berbahan sutra velvet berwarna merah anggur pekat (midnight burgundy) itu membingkai tubuhnya dengan keindahan yang amat memukau. Potongan off-shoulder-nya memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang halus tanpa terkesan vulgar. Struktur korset tersembunyi menegaskan lekuk pinggangnya yang ramping, sementara bagian bawah gaun menjuntai indah membentuk ekor kecil yang menyapu lantai karpet.
Di pergelangan tangan kirinya, jam tua Patek Philippe Ref. 2499 berbahan rose gold melingkar anggun. Dan di kedua jari manis tangannya, berlian emerald-cut lima karat dan berlian Tiffany Novo empat karat memancarkan pendar berkilau yang amat dahsyat di bawah pendar lampu kristal ruangan.
Shaqueilla berdiri di depan cermin raksasa, menatap pantulan dirinya. Ada getaran kebahagiaan yang begitu murni mengalir di seluruh pembuluh darahnya.
Pintu privat suite bergeser terbuka.
Issa melangkah masuk.
Lelaki itu tampil dalam balutan tuxedo klasik hitam buatan kustom dari rumah mode Italia yang membalut tubuh tinggi tegapnya secara sangat sempurna. Kemeja ata pique putih bersih dengan kancing manset platina, dipadukan dengan dasi kupu-kupu hitam yang terikat rapi di kerahnya. Penampilannya memancarkan dominasi, ketampanan aristokrat, dan wibawa mutlak dari seorang pimpinan tertinggi korporasi.
Melihat Shaqueilla berdiri di tengah ruangan dalam balutan gaun sutra burgundy, langkah kaki Issa seketika terhenti.
Sepasang mata elang pria itu menyempit tajam. Binar pemujaan, gairah, dan rasa kepemilikan yang amat pekat terpancar jelas di dalam matanya. Issa melangkah mendekat tanpa suara, berhenti tepat satu jengkal di hadapan Shaqueilla.
"Kamu luar biasa cantik, Shaqui..." suara bariton Issa mengalun rendah, sangat serak, dan penuh dengan kepastian mutlak.
Shaqueilla mendongak, menyunggingkan senyuman manis paling tulus dalam hidupnya. Tangannya terangkat merapikan posisi dasi kupu-kupu di kerah kemeja Issa.
"Kamu juga sangat tampan malam ini, Pak COO," pangkas Shaqueilla halus.
Issa merangkulkan tangan kanannya di pinggang ramping Shaqueilla, menarik wanita itu rapat ke dadanya yang tegap. Pria itu menunduk, mendaratkan ciuman yang amat lambat, panas, dan dipenuhi oleh rasa memiliki yang tak terbatas di bibir Shaqueilla.
Shaqueilla membalas pagutan itu dengan pasrah, melingkarkan lengan kanannya di bahu tegap Issa. Ciuman di atas ketinggian lantai tiga puluh lima itu menyerap seluruh kelelahan fisik dan rasa jenuh atas rumor salah arah yang mengepung mereka sepanjang hari.
Ketika Issa menarik bibirnya perlahan, ia merengkuh jemari tangan kiri dan kanan Shaqueilla, menatap dua cincin berlian yang berkilau sempurna di jemari wanita itu.
"Siap buat meruntuhkan seluruh rumor konyol di karpet merah nanti malam, sweetheart?" bisik Issa rendah di dekat telinga Shaqueilla.
Shaqueilla menatap mata elang pria yang sangat dicintainya, mengangguk dengan keberanian murni. "Gue siap, Sa. Mari kita tunjukkan pada dunia siapa kita yang sebenarnya."
Issa menyunggingkan senyum tipis yang amat menawan, mengapit lengan kanan Shaqueilla di lengan kirinya yang kekar. Mereka berdua melangkah bersama keluar dari Presidential Suite, menuju lift privat yang akan membawa mereka langsung ke area Grand Ballroom.
Pukul delapan malam tepat.
Area foyer dan Grand Ballroom The Ritz-Carlton Jakarta dipenuhi oleh ribuan tamu undangan paling berpengaruh di Indonesia. Lampu-lampu gantung kristal raksasa membiaskan cahaya keemasan yang amat megah ke atas lantai marmer yang dilapisi karpet merah tebal.
Ratusan pejabat kementerian, para duta besar negara sahabat, jajaran direksi bursa saham, serta seluruh lingkaran keluarga besar dinasti old money—termasuk Baskara Prameswari, Rosalind, Mas Raden, Tante Amalia, serta keluarga Soeryo dan Danunegoro—telah berkumpul di dalam ruangan.
Di sepanjang area photowall dan karpet merah utama, belasan jurnalis bisnis dan fotografer media hiburan kelas atas berdiri siaga dengan kamera-kamera ber lensa panjang mereka. Mereka sedang menunggu kedatangan pimpinan puncak acara malam ini.
Bisik-bisik mengenai rumor salah arah antara Shaqueilla dan Adrian Danunegoro masih terdengar riuh di antara kelompok-kelompok tamu yang memegang gelas sampanye mereka.
"Lihat tuh, Pak Baskara Prameswari duduk satu meja sama Bapak Soeryo dan Pak Danunegoro di meja depan," berbisik seorang wanita sosialita bergaun sutra biru. "Beneran fix kan ya berarti Shaqueilla itu dijodohin sama Adrian Danunegoro? Kasihan Issa Ghazafar..."
Tiba-tiba, suara pembawa acara utama di atas panggung utama bergema tajam melalui sistem tata suara megah ruangan, memotong seluruh perbincangan:
"Hadirin yang terhormat, marilah kita sambut kedatangan Chief Operating Officer Djojohadikusumo Group, Bapak Issa Ghazafar Djojohadikusumo, bersama pendamping beliau malam ini!"
Pintu ganda raksasa Grand Ballroom bergeser terbuka lebar secara bersamaan.
Lampu sorot putih raksasa dari langit-langit ballroom seketika menyapu area pintu masuk utama, menyinari dua sosok yang berdiri di sana.
Seluruh ruangan mendadak hening total. Seribu pasang mata tamu undangan, para jurnalis, dan seluruh keluarga besar di meja depan seketika membeku di tempatnya.
Di bawah pendar lampu sorot yang menyengat, Issa Ghazafar berdiri tegap dalam balutan tuxedo hitam mewahnya. Dan di sampingnya, dengan jemari tangan kiri yang menggandeng erat lengan tegap Issa, berdiri Dokter Shaqueilla Latisha Prameswari dalam balutan gaun malam sutra velvet burgundy yang amat memukau.
Di kedua jari manis tangan Shaqueilla, berlian emerald-cut lima karat dan berlian Tiffany Novo empat karat berkilau amat dahsyat diterpa kilatan puluhan lampu kilat kamera jurnalis yang seketika meledak tanpa henti!
Klak! Klak! Klak! Klak!
Kilatan lampu kamera membanjiri karpet merah bagaikan hujan cahaya.
Rumor salah arah mengenai Adrian Danunegoro, spekulasi bahwa hubungan mereka telah mati, dan seluruh bisikan miring arisan seketika hancur berkeping-keping di udara dalam hitungan sepersekian detik!
Issa menoleh menatap Shaqueilla di sampingnya, memberikan senyuman paling menawan dan berkuasa yang pernah disaksikan publik. Pria itu mengapit jemari Shaqueilla makin erat, lalu melangkah bersama wanita yang dicintainya menyusuri karpet merah menuju pusat ballroom—sebuah penampilan pasangan paling fenomenal yang menandai kemenangan mutlak atas cinta dan posisi mereka di hadapan dunia.
Namun, tepat saat mereka baru melangkah lima meter di atas karpet merah di bawah sorotan ratusan kamera, seorang pria berjas kaku dari barisan tamu VIP mendadak melangkah maju memotong jalur jalan mereka secara lancang.
Pria itu adalah Julian Soeryo—dengan wajah memerah dipenuhi rasa dendam yang belum padam dan memegang sebuah dokumen rahasia di tangannya!

Rumor Has ItCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang