Bab 28: Internet Meltdown

126 13 0
                                        

Pagi di kawasan Dharmawangsa diwarnai oleh semburat cahaya matahari yang menembus dedaunan rimbun di pelataran sebuah kafe privat berlangganan para elit ibu kota. Suasana tempat itu biasanya dinaungi ketenangan eksklusif-alunan musik jazz instrumen pelan, denting cangkir porselen, dan obrolan berbisik tentang portofolio investasi. Namun pagi ini, udara di dalam ruangan tersebut seolah dipenuhi oleh radiasi sinyal ponsel yang bekerja tanpa henti.

Layar gawai pintar milik puluhan anggota grup percakapan high society Jakarta menyala serentak. Efek berantai dari unggahan Story kopi pagi Shaqueilla kemarin yang memperlihatkan pendar berkilau berlian Tiffany Novo Round Brilliant-ditambah deretan fakta mengenai hibah fantastis tujuh ratus lima puluh miliar rupiah dari Djojohadikusumo Foundation-telah mencapai titik didihnya.

Di salah satu meja bundar bagian dalam, Clarissa dan Natasha duduk bersama dua rekan sosialita muda mereka. Di atas meja kayu mahoni yang dipoles kilap, tiga buah ponsel tergeletak dengan layar yang terus bergetar tanpa jeda, menampilkan ratusan notifikasi masuk dari berbagai grup WhatsApp keluarga besar dan lingkaran arisan crazy rich Jakarta.

"Gila, ini bener-bener gila!" seru Clarissa seraya menyambar ponselnya dengan gerakan terburu-buru. Jemari tangannya yang dihiasi cat kuku berwarna merah menyala lincah melakukan scrolling pada percakapan grup bernama Menteng & Kebayoran Elite Circle. "Liat nih, grup arisan Mama aja udah tembus dua ribu pesan dari semalem! Semua orang cuma bahas satu hal: siapa pria yang bener-bener berani ngelamar Mbak Shaqui pakai berlian buatan khusus Tiffany dan ngasih hibah 750 miliar murni!"

Natasha menyesap iced matcha latte-nya dengan wajah masam, matanya menatap layar ponselnya sendiri yang memantulkan pesan-pesan senada dari grup keluarga besar Prameswari. "Ya siapa lagi kalau bukan Issa Ghazafar? Mas Julian Soeryo aja kemarin udah langsung tarik diri gara-gara gertakan lima ratus miliarnya dibalas kontan tiga kali lipat sama Issa. Mas Julian sampai matiin HP-nya dari tadi pagi karena malu."

"Tapi lo sadar nggak sih?" potong salah satu teman mereka, seorang gadis bergaun sutra krem yang tekun mengamati tangkapan layar foto Shaqueilla. "Mbak Shaqui itu pinter banget. Dia cuma posting foto cangkir kopi sama buah jam delapan pagi, tanpa caption, tanpa tag siapa-siapa, tapi langsung bikin se-Jakarta melacak nomor seri berliannya! Akun pengamat perhiasan mewah internasional bahkan sampai bikin benang pembuka di X khusus buat bahas potongan Novo itu!"

Clarissa melempar ponselnya kembali ke meja dengan dentukan kaku, mengembuskan napas panjang yang dipenuhi kejengkelan dan rasa takjub yang tak sanggup ditutupinya lagi. "Gue tuh masih nggak habis pikir. Dulu kan kita semua yakin banget kalau Mbak Shaqui itu ditinggal gitu aja sama Issa lima belas tahun lalu. Kita semua mikir Mbak Shaqui bakal jadi perawan tua yang ditinggal nikah duluan sama klan Djojohadikusumo. Tapi sekarang? Issa malah datang bawa tim hukum Singapura, beliin dua berlian puluhan miliar, terus ngelontorin hibah 750 miliar cuma buat ngamatin proyek klinik anaknya Mbak Shaqui!"

"Makanya, lain kali nggak usah sok-sokan mengasihani Mbak Shaqui di powder room," cetus Natasha pelan, mengingat kembali bagaimana teguran dingin Shaqueilla tempo hari di restoran Dharmawangsa yang kini terasa bagaikan ramalan nyata. "Mbak Shaqui dari dulu memang beda kelas sama kita. Dia nggak pernah pamer, tapi begitu dia bergerak... satu Jakarta langsung tiarap."

Sementara itu, di lantai tiga Kencana Medical Center, atmosfer di koridor rumah sakit terasa jauh dari kepanikan sosialita, meski ruang kerja Dokter Shaqueilla Prameswari tetap menjadi pusat gravitasi dari seluruh kehebohan tersebut.

Shaqueilla duduk di belakang meja kerja kayu eknya yang rapi. Jas putih dokternya membingkai terusan katun berwarna biru pucat yang dikenakannya. Di atas meja, tiga layar iPad milik tim administrasi rumah sakit dan satu ponsel pribadinya menyalakan deretan notifikasi yang tak pernah berhenti.

Rumor Has ItCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang