Suara alunan kuartet gesek yang memainkan komposisi karya Vivaldi bergema melintasi atap tinggi Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski. Ruangan megah berkapasitas ribuan orang itu tampak anggun dipenuhi lampu gantung kristal yang membiaskan cahaya keemasan ke atas meja-meja bundar berbalut kain linen putih. Ratusan tamu undangan—mulai dari pejabat kementerian kesehatan, jajaran direksi rumah sakit terkemuka, para profesor senior, hingga perwakilan ikatan dokter dari berbagai daerah—hadir dalam ajang tahunan National Medical Excellence Awards.
Malam ini adalah malam pembuktian dedikasi murni, jauh dari riuk-rendah spekulasi bursa saham atau intrik politik dinasti yang biasanya mengepung Jakarta.
Di salah satu meja utama bagian depan, Shaqueilla duduk dengan postur tegak yang amat anggun. Ia membalut tubuhnya dengan terusan sutra crepe berwarna hijau zamrud gelap berpotongan lurus yang menutup bahu hingga melambai jatuh ke lantai. Rambut hitam tebalnya disanggul rendah bergaya chignon rapi, memperlihatkan sepasang anting mutiara air laut yang berkilau lembut. Di jari manis tangan kirinya, berlian emerald-cut lima karat itu melingkar indah, namun ia dengan sengaja memutar posisi matanya ke arah dalam telapak tangan agar pendar batu mulia itu tidak menyengat mata kamera media medis yang berseliweran.
Di sebelah kirinya, Labibah duduk mengenakan kebaya katun berwarna merah muda pupus, memegang draf brosur acara seraya menyikut pelan lengan Shaqueilla.
"Shaqui," panggil Labibah berbisik seraya condong ke depan. "Muka lo kencang banget dari tadi. Padahal lo yang ada di puncak nominasi utama malam ini. Santai sedikit, dong."
Shaqueilla menarik napas panjang melalui hidung, mengulas senyum tipis yang dipaksakan. Tangannya yang mengapit serbet kain di pangkuan terasa agak dingin.
"Gue santai kok, Bih," sahut Shaqueilla pelan, matanya melirik ke arah deretan piala kristal di panggung utama. "Gue cuma... kepikiran laporan gugatan Pengadilan Niaga yang diajukan Papa kemarin sore. Gue belum sempat bicara lagi sama Papa sejak inciden di rumah Menteng."
Labibah menghela napas, menatap sahabatnya dengan tatapan prihatin yang tulus. "Papa lo memang keras kepala banget kalau udah urusan akuisisi bisnis. Tapi malam ini, tempat ini milik lo, Shaqui. Lo di sini bukan sebagai anak Prameswari Corp, tapi sebagai Dokter Shaqueilla yang menyelamatkan belasan anak kritis di ruang PICU Kencana. You earned this spot."
"Makasih ya, Bih," puji Shaqueilla tulus, jemarinya mengusap lembut punggung tangan Labibah.
Di meja sebelah kanan mereka, Rosalind Prameswari duduk mendampingi beberapa direktur senior Kencana Medical Center. Ibunya tampil sangat memesona dengan kebaya brokat lavender kustom, namun tatapannya sesekali bergulir ke arah Shaqueilla dengan kerinduan dan ketegangan yang tertahan. Meskipun Baskara Prameswari memilih absen dari acara malam ini sebagai bentuk protes atas pembangkangan putrinya, Rosalind tetap hadir demi melihat putri tunggalnya menerima penghargaan paling bergengsi di dunia medis tersebut.
Saat acara pembukaan dimulai dengan sambutan dari Ketua Ikatan Dokter Indonesia, Shaqueilla mengalihkan pandangannya melintasi lautan tamu undangan di ruangan raksasa tersebut.
Di barisan paling belakang ballroom—di balik keremangan cahaya lampu utama yang sengaja diredupkan untuk sesi presentasi video—sebuah sosok tegap berdiri bersandar santai di samping pilar marmer besar.
Issa Ghazafar.
Lelaki itu mengenakan setelan jas dua potong berwarna hitam kaku tanpa dasi, dengan kemeja katun putih yang dua kancing atasnya dibiarkan terbuka. Posturnya yang tinggi dan tegap membuatnya mencolok di antara staf keamanan VIP yang bersiaga di sudut ruangan. Issa sengaja tidak mengambil kursi undangan di meja depan untuk menghindari kejaran jurnalis bisnis atau memicu gesekan baru dengan Rosalind di depan umum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumor Has It
Fiksi PenggemarBagi lingkar sosial kelas atas Jakarta, perpisahan Shaqueilla Latisha Prameswari dan Issa Ghazafar Djojohadikusumo di hari kelulusan SMA lima belas tahun lalu adalah tragedi romansa terbesar dekade itu. Mereka adalah golden couple-sempurna, dipuja...
