Bab 20: Healing Old Wounds

140 20 0
                                        

Cahaya fajar menyingsing tipis di balik tirai sutra penthouse The Langham, membiaskan garis-garis lembut berwarna merah muda keemasan di sepanjang dinding kaca raksasa. Keheningan pagi di lantai teratas itu terasa begitu pekat, seolah menyerap seluruh hiruk-pikuk metropolis Jakarta yang perlahan mulai terbangun di bawah sana.

Shaqueilla terbangun lebih dulu. Bulu matanya bergoyang pelan sebelum matanya terbuka sepenuhnya. Rasa hangat yang nyaman langsung menyergap inderanya. Lengan kekar Issa masih melingkar erat di pinggangnya, mengikat tubuh mereka dalam dekapan yang seolah menolak menyisakan jarak udara sedikit pun. Wajah tampan aristokrat pria itu terlihat rileks dalam lelap, jauh dari raut dingin dan kaku yang biasa ia tunjukkan di hadapan para komisaris korporasi.

Shaqueilla tidak bergerak. Ia membiarkan dirinya menikmati momen langka ini—momen di mana ia tidak perlu mengenakan perisai Dokter Prameswari atau bersiap menghadapi kejaran jurnalis bisnis. Pengakuan jujur Issa semalam tentang alasan sebenarnya di balik perpisahan mereka lima belas tahun lalu telah melunturkan sisa-sisa cangkang keras di hatinya. Rasa sakit tua yang pernah mengendap kini benar-benar telah sirna, berganti menjadi pemahaman yang utuh dan rasa hormat yang mendalam atas perjuangan pria di sampingnya.

Jemari lentik Shaqueilla terangkat pelan, mengusap helai rambut hitam tebal Issa yang sedikit berantakan di keningnya. Sentuhan halus itu membuat Issa bergerak kecil. Kelopak matanya terbuka perlahan, menampilkan sepasang manik mata elang yang seketika melunak begitu menangkap sosok Shaqueilla di depannya.

"Pagi, sweetheart," suara bariton Issa terdengar sangat serak khas bangun tidur, bernada rendah dan amat intim.

Shaqueilla mengulas senyum tipis yang hangat. "Pagi, Sa. Ketinggalan jam berapa ini?"

Issa tidak langsung menjawab. Pria itu justru memajukan wajahnya, mendaratkan kecupan lambat di kening Shaqueilla, lalu turun ke kelopak matanya, dan berakhir di sudut bibir wanita itu. Tangannya di pinggang Shaqueilla merapat, menarik tubuh berbalut piyama sutra krem itu makin menempel pada dada bidangnya yang bertelanjang.

"Nggak peduli jam berapa," gumam Issa di depan bibir Shaqueilla, napas hangatnya membelai kulit pipi sang dokter. "Gue cuma mau kayak gini sebentar lagi."

Shaqueilla terkekeh pelan, rasa hangat membuncah di dadanya. Ia membiarkan tangannya merayap naik, meremas kain kaos kelabu yang dikenakan Issa. "Lo ada janji sama Mas Raden dan Ibu jam delapan pagi di Menteng, ingat? Katanya mau menyelesaikan masalah ini dari akarnya?"

Issa menghentikan kecupannya, menatap mata jernih Shaqueilla lurus-lurus. Binar mata pria itu berubah menjadi sangat dalam, sarat akan keseriusan yang tidak bisa diganggu gugat.

"Iya. Gue ingat," kata Issa, nadanya melembut namun membawa keteguhan yang mutlak. "Tapi sebelum gue melangkah ke Menteng buat berhadapan sama Ibu dan Mas Raden, ada satu hal yang harus gue selesaikan sama lo di sini, Shaqui."

Shaqueilla mengerutkan dahinya tipis, menatap Issa heran. "Selesaikan apa lagi, Sa? Bukannya semalam kita udah obrolin semuanya?"

Issa menghembuskan napas panjang. Pria itu perlahan merubah posisi duduknya, menyandarkan punggung tegapnya pada headboard tempat tidur berbalut beludru abu-abu gelap. Ia menarik Shaqueilla ikut duduk di sampingnya, meraih kedua tangan wanita itu dan menggenggamnya erat di atas pangkuannya.

Tatapan Issa menembus langsung ke dalam manik mata Shaqueilla, memancarkan kejujuran yang begitu murni hingga membuat dada Shaqueilla berdesir pelan.

"Semalam gue udah jelasin alasan politis di balik keputusan gue lima belas tahun lalu," Issa memulai, suaranya baritonnya mengalun sangat jernih dan berwibawa di dalam kamar yang tenang itu. "Tapi ada satu bagian dari perpisahan itu yang belum pernah gue akuin secara jujur ke lo, Shaqui. Bagian dari ego masa muda gue sendiri."

Rumor Has ItCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang