Pagi di kawasan pesisir Seminyak menyajikan pemandangan yang tampak sempurna dari balik teras privat resor. Cahaya matahari membias keemasan di atas permukaan kolam renang yang jernih, membawa desir angin laut yang hangat dan menenangkan. Namun, bagi Shaqueilla, penerbangan dini hari kembali ke Jakarta dari Bali telah menyisakan rasa lelah yang menggantung tipis di pelipisnya.
Ia baru saja melangkah keluar dari area kedatangan Bandara Soekarno-Hatta dua jam yang lalu, menyusuri jalanan tol yang relatif lengang dengan sedan hitam privat. Beruntung, penerbangan komersial pertama itu membawanya mendarat mulus tanpa ada mata yang mencurigai kepulangannya. Tetapi bayangan pesan singkat Julian Soeryo kepada Ibunya—pesan yang sempat diceritakan oleh Rosalind lewat telepon singkat saat Shaqueilla masih berada di dalam taksi udara—terus merayap bagaikan serangga kecil di kepalanya.
Shaqueilla duduk di meja kerjanya di Kencana Medical Center, membenarkan letak jas putih dokternya. Di luar pintu ruangan yang tertutup rapat, koridor lantai tiga terasa tenang seperti biasa. Aroma antiseptik bercampur wangi bunga kamboja dari pot porselen di sudut meja menemani jemarinya yang lincah menggeser layar iPad, meneliti grafik kadar trombosit pasien anak yang dirawat sejak kemarin sore.
Ia mencoba fokus. Tugas klinis adalah perisai utamanya dari segala riak dunia luar.
Pintu ruang praktiknya diketuk dua kali secara tergesa. Tanpa menunggu sahutan penuh, Labibah melangkah masuk dengan napas sedikit memburu. Wajah sahabatnya itu tidak lagi memancarkan rasa ingin tahu kasual seperti biasanya, melainkan kepanikan yang nyata.
"Shaqui," panggil Labibah pendek. Ia mengunci pintu dari dalam, berjalan cepat mendekati meja kerja Shaqueilla. "Lo udah buka media sosial belum?"
Shaqueilla mendongak, merapikan stetoskop di lehernya. "Belum, Bih. Gue baru selesai visite pasien PICU lima belas menit yang lalu. Ada apa sih? Muka lo kok panik banget?"
"Ini bukan panik biasa, Shaqui. Ini darurat tingkat tinggi!" Labibah menyodorkan layar ponselnya tepat ke hadapan Shaqueilla. "Instagram Story-nya Issa. Yang diunggah sejam lalu dari Bali!"
Shaqueilla memicingkan matanya, menatap layar ponsel Labibah. Sebuah foto estetis beresolusi tinggi terpampang di sana. Foto itu diambil dari sudut meja sarapan privat di teras vila yang menghadap langsung ke lautan lepas. Di atas meja, terdapat cangkir porselen berisi kopi hitam, piring buah tropis, dan sepasang kacamata hitam berbingkai penyu milik Issa yang tergeletak santai di samping tatakan cangkir.
Takarir di bawah foto itu sangat singkat dan terkesan kasual: "Morning coffee before the investment summit."
"Terus?" Shaqueilla mengerutkan dahi, berusaha bersikap netral meski detak jantungnya mendadak berakselerasi. "Itu cuma foto sarapan biasa di Bali, Bih. Apa yang aneh?"
"Foto sarapan biasa?" Labibah mendengus, jemarinya melakukan gerakan zoom in pada permukaan kacamata hitam berbingkai penyu yang tergeletak di atas meja tersebut. "Lo lihat pantulan di lensa kacamata hitamnya, Shaqui! Lihat baik-baik!"
Shaqueilla memajukan tubuhnya, menatap lekat-lekat hasil pembesaran gambar tersebut.
Di atas permukaan lensa kacamata hitam berdesain cermin yang mengilap itu, pantulan sinar matahari membias samar. Namun, di sudut kanan lensa, siluet seorang wanita bergaun katun tipis berwarna gading dengan rambut hitam tebal yang terurai terbalik tercetak secara amat presisi. Wanita dalam pantulan itu sedang menunduk, memegang cangkir teh dengan posisi tangan yang memperlihatkan jam tangan berantai halus di pergelangan kirinya.
Darah Shaqueilla rasanya membeku seketika.
Itu adalah dirinya.
Foto itu diambil kemarin sore di vila privat The Bulgari Resort Bali, tepat sebelum kepanikan kedatangan ayahnya dan menteri energi pecah di lounge VIP. Issa mengambil foto cangkir kopinya secara tidak sengaja saat Shaqueilla sedang duduk di seberang meja. Dan lensa kacamata hitam yang cembung itu menangkap pantulan siluetnya dengan sangat jelas untuk siapa pun yang memiliki mata jeli dan fitur pembesar gambar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumor Has It
FanfictionBagi lingkar sosial kelas atas Jakarta, perpisahan Shaqueilla Latisha Prameswari dan Issa Ghazafar Djojohadikusumo di hari kelulusan SMA lima belas tahun lalu adalah tragedi romansa terbesar dekade itu. Mereka adalah golden couple-sempurna, dipuja...
