Bab 31: The Penthouse Sanctuary

109 11 0
                                        

Dua daun pintu lift privat penthouse The Langham bergeser terbuka tanpa suara, menyemburkan keheningan yang teramat sejuk dan hangat. Di balik dinding kaca raksasa yang melingkupi ruang keluarga di lantai teratas tersebut, hamparan lanskap metropolia Jakarta membentang luas. Deretan lampu pencakar langit di kawasan SCBD berkilau bagaikan ribuan intan bertaburan di atas beludru hitam malam, sementara lintasan cahaya merah dan putih dari deretan kendaraan bergerak lambat di jalan tol bawah sana.
Hiruk-pikuk Malam Gala Anniversary Djojohadikusumo Group yang baru saja usai di Grand Ballroom Ritz-Carlton—denting gelas porselen, kilatan ratusan lampu kilat kamera jurnalis yang meledak tanpa jeda, serta bisik-bisik riuh para sosialita yang terpana saat melihat kebenaran terkuak di atas karpet merah—seketika tertinggal jauh di luar sana.
Di dalam ruangan berlantai kayu jati gelap ini, hanya ada pendar temaram lampu dinding keemasan dan wangi lembut kayu cedar bercampur aroma pekan bunga peoni putih.
Shaqueilla melangkah keluar dari lift privat lebih dulu, membiarkan ekor gaun malam sutra velvet berwarna merah anggur pekat (midnight burgundy) menyapu karpet halus dengan bisikan lembut. Keanggunan yang dipertahankannya selama empat jam nonstop di hadapan jajaran komisaris, menteri, dan media kini perlahan melunak. Ia melepaskan sepatu hak tingginya, membiarkan jemari kakinya yang mulus menyentuh dinginnya lantai kayu, lalu menghembuskan napas panjang yang amat lega dari tenggorokannya.
Di belakangnya, pintu lift bergeser tutup.
Issa Ghazafar melangkah masuk menyusuri ruang foyer. Lelaki itu melepaskan jas tuxedo hitam kustom yang membungkus tubuh tinggi berototnya, menyampirkan kain mahal itu asal di atas lengan sofa beludru. Tangannya bergerak lincah menarik ujung dasi kupu-kupu hitamnya, melepas ikatan kaku itu dari kerah kemeja ata pique putih bersih yang dipakainya, lalu membuka dua kancing atas kemejanya.
Rahang tegas Issa yang tercukur rapi tampak sedikit mengeras oleh kelelahan sisa pertempuran bursa dan drama karpet merah. Namun, saat sepasang mata elangnya beralih terkunci pada sosok Shaqueilla yang sedang berdiri di dekat dinding kaca raksasa, binar mendingin itu seketika sirna, berganti menjadi pendar pemujaan dan gairah yang amat pekat.
Issa melangkah mendekat tanpa suara. Ketukan langkah kakinya di atas lantai kayu jati terdengar teratur, mantap, dan sarat akan dominasi murni seorang penguasa yang akhirnya kembali ke dalam benteng perlindungannya.
"Lelah, sweetheart?" suara bariton Issa mengalun rendah, serak, dan hangat, memecah keheningan penthouse.
Shaqueilla memutarkan tubuhnya perlahan. Potongan gaun off-shoulder merah anggurnya memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang halus di bawah pendar lampu temaram. Di pergelangan tangan kirinya, jam tua Patek Philippe Ref. 2499 berkilau manis. Dan di kedua jari manis tangannya, berlian emerald-cut lima karat dan berlian Tiffany Novo Round Brilliant empat karat memancarkan pendar berkilau yang menyatu indah.
Shaqueilla menyunggingkan senyuman manis paling tulus dalam hidupnya. Ada riak kebahagiaan yang begitu bening membias di mata jernih sang dokter.
"Capek sedikit, Sa," jawab Shaqueilla jujur, suarasa melembut. "Tapi rasanya... lega banget. Setelah seharian internet geger gara-gara rumor konyol Adrian Danunegoro itu, melihat muka Tante Widya sama Clarissa yang membeku pas kita jalan di karpet merah tadi... it was totally worth it."
Issa terkekeh rendah—sebuah tawa bariton yang sangat seksi dan intim dari balik tenggorokannya. Lelaki itu memangkas jarak yang tersisa di antara mereka, berhenti tepat satu jengkal di hadapan Shaqueilla.
Tangannya yang tegap dan berurat terangkat, meraih jemari kanan Shaqueilla yang melingkar berlian Tiffany Novo, lalu membawa jemari lentik itu ke bibirnya. Issa mendaratkan kecupan hangat di atas batu berlian tersebut, sebelum memindahkan bibirnya untuk mengusap kulit mulus di pergelangan tangan Shaqueilla.
"Mereka nggak bakal pernah berani menyebarkan rumor konyol itu lagi, Shaqui," pangkas Issa dengan nada suara penuh kepastian mutlak. "Malam ini seluruh Jakarta udah tahu secara resmi kalau lo cuma milik gue."
Sengatan hangat berdesir hebat di seluruh pembuluh darah Shaqueilla. Mata jernihnya bertaut lurus dengan mata elang Issa yang membara oleh binar posesif yang tajam. Di dalam penthouse sanctuary ini, tidak ada lagi kilatan kamera jurnalis, tidak ada lagi gertakan bursa saham ayahnya, dan tidak ada lagi permainan catur hukum internasional Singapura. Yang tersisa hanyalah mereka berdua—dua jiwa yang telah melewati badai lima belas tahun untuk akhirnya bersatu dalam dekapan yang tak tergoyahkan.
Shaqueilla mengulurkan kedua tangannya, merangkulkan lengannya di bahu tegap Issa. Jemarinya menyusup ke dalam helai-helai rambut hitam tebal milik pria itu.
"Makasih ya, Issa," bisik Shaqueilla tulus di depan wajah tampan aristokrat kekasihnya. "Makasih karena lo selalu ada buat memagari dan melindungi gue dari segala sisi."
"Gue nggak cuma memagari kamu, Shaqui," balas Issa rendah, matanya makin menggelap oleh gairah yang membakar secara mendalam. "Gue memuja kamu."
Issa memajukan wajahnya, menunduk dan membungkam bibir Shaqueilla dalam sebuah ciuman yang amat lambat, dalam, dan panas.
Bibir tegas Issa menginvasi peraduan manis mulut Shaqueilla dengan ritme menuntut yang penuh kerinduan murni. Shaqueilla mendesah pelan di balik pagutan tersebut, membalas ciuman pria itu dengan kepasrahan utuh, merapatkan tubuh berbalut sutra velvet merah anggurnya pada dada bidang Issa yang tegap dan hangat.
Tangan tegap Issa melingkar di pinggang ramping Shaqueilla, menarik wanita itu secara instan hingga panggul mereka bertabrakan rapat tanpa jeda serambut pun. Kehangatan tubuh Issa yang terpancar dari balik kemeja putihnya membakar seluruh sisa dingin angin malam Jakarta.
Ciuman itu makin intens dan menuntut. Issa menyesap bibir bawah Shaqueilla, memainkannya dengan hisapan-hisapan halus yang membuat lutut Shaqueilla terasa sedikit lemas. Lidah Issa menyapu rongga manis mulut Shaqueilla, mengecap kehangatan wanita itu bagaikan seorang pria yang baru saja menemukan penawar dahaganya setelah bertahun-tahun dahaga di tengah gurun.
"Mmm... Issa..." desah Shaqueilla lirih saat ciuman mereka terputus sejenak untuk memberi ruang napas. Matanya berkaca-kaca oleh pendar gairah yang mulai menyala hebat.
Issa tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Shaqueilla, mendaratkan kecupan-kecupan panas di sepanjang tulang selangka mulus wanita itu. Tangan tegapnya merayap ke bagian belakang gaun malam Shaqueilla, menemukan ujung ritsleting tersembunyi yang membingkai struktur korset burgundy tersebut.
Dengan satu tarikan halus dan terlatih dari jemari besar Issa, ritsleting gaun sutra velvet itu meluncur turun tanpa suara.
Kain mahal berwarna merah anggur itu seketika melunak, luruh dari bahu mulus Shaqueilla dan jatuh menumpuk anggun di sekeliling kakinya di atas lantai kayu jati.
Shaqueilla kini hanya berdiri dalam balutan pakaian dalam renda tipis berwarna hitam yang membingkai siluet tubuhnya yang amat sempurna—dada kencang yang naik turun teratur oleh napas yang memburu, pinggang ramping, serta paha mulusnya yang terekspos di bawah pendar temaram lampu keemasan ruangan.
Mata elang Issa menyempit tajam. Pria itu menarik napas pendek melalui hidung, menatap pemandangan indah di hadapannya dengan binar kepemilikan yang absolut. Tanpa membuang waktu, Issa meraih sisa kemeja putihnya, merenggut kancing-kancingnya hingga terbuka penuh, lalu melemparkan pakaian mewahnya itu sembarangan ke atas lantai.
Dada bidang berotot Issa yang tegap, dengan perut six-pack yang mengeras kaku dan urat-urat menonjol di lengan kekarnya, terekspos sepenuhnya di bawah pendar lampu ruangan.
Issa menyapu pinggang Shaqueilla dengan kedua tangannya, mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah dari atas lantai.
Shaqueilla tersentak pelan seraya tertawa renyah yang amat manis, merangkulkan kedua kakinya secara refleks di pinggang tegap Issa saat pria itu membawanya melangkah masuk menuju kamar tidur utama penthouse.
Kamar tidur utama itu luas, hangat, dan dipenuhi aroma terapi sandalwood yang menenangkan. Dinding kaca raksasa di sudut kamar membiaskan pendar cahaya bulan dan temaram kota Jakarta ke atas tempat tidur king size berbalut sprei katun Mesir berwarna abu-abu gelap.
Issa merebahkan tubuh Shaqueilla secara sangat perlahan di tengah tempat tidur empuk tersebut.
Sebelum Shaqueilla sempat bergerak, Issa sudah merayap naik ke atas tempat tidur, mengimpit tubuh wanita itu di antara kedua lengan tegapnya. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata jernih Shaqueilla, membiarkan helai rambut hitam tebalnya yang sedikit berantakan menyentuh kening sang dokter.
"Lo sangat indah, Dokter Prameswari," gumam Issa dengan suara bariton yang amat serak di depan bibir Shaqueilla. "Setiap kali gue menatap kamu... gue selalu sadar kenapa gue enggak pernah bisa melepaskan kamu buat pria mana pun."
Shaqueilla menyunggingkan senyuman manis paling pasrah, jemari tangannya mengusap garis rahang kokoh Issa, menelusuri leher tegap dan bahu kekar pria itu.
"Gue juga cuma milik lo, Issa," pangkas Shaqueilla dengan nada jernih yang amat jujur. "Selamanya cuma milik lo."
Pernyataan ikrar cinta mutlak yang meluncur dari bibir Shaqueilla seketika meruntuhkan sisa kendali diri Issa.
Pria itu menunduk, membungkam bibir Shaqueilla dalam sebuah ciuman yang amat panas, lapar, dan menuntut. Tangannya yang besar merayap turun ke pinggang Shaqueilla, menanggalkan kain renda hitam tipis yang masih membingkai tubuh wanita itu dengan gerakan yang sangat sigap dan protektif, melempar sisa pakaian itu ke lantai.
Kini, Shaqueilla berbaring sepenuhnya polos di bawah dominasi fisik Issa yang terbungkus celana kain gelap kustomnya.
Pendar lampu temaram kamar membiaskan siluet tubuh mulus Shaqueilla yang memukau di atas sprei abu-abu gelap. Dua berlian berharga fantastis di kedua jari manis tangannya berkilau indah, memantulkan pendar cahaya keemasan setiap kali jemarinya bergerak.
Issa menurunkan ciumannya dari bibir Shaqueilla menyusuri leher jenjangnya, mendaratkan gigitan-gigitan halus yang nikmat di tulang selangka, lalu bergerak turun menuju puncak dada kencang Shaqueilla. Pria itu penyesap salah satu puncaknya dengan bibir dan lidahnya, memainkannya dengan hisapan-hisapan lambat yang bertenaga.
"Ah... Issa..." desah Shaqueilla menjerit halus tertahan, dadanya terangkat pasrah saat sengatan nikmat yang luar biasa hebat membanjiri seluruh sistem sarafnya. Tangannya meremas erat sprei katun di bawahnya, sementara dadanya naik turun teratur.
Issa tidak memberi jeda. Jemari tangan tegapnya meluncur turun menelusuri perut rata Shaqueilla, bergerak ke bawah menuju kehangatan di antara kedua paha mulus wanita itu yang sudah sangat basah dan hangat oleh luapan gairah alami. Ibu jari Issa mengusap lembut intimasinya, memicu getaran elektrik yang membuat seluruh persendian tubuh Shaqueilla merinding hebat.
"Issa... please..." desah Shaqueilla dengan suara yang tidak lagi teratur, matanya berkaca-kaca menatap pria di atasnya.
Issa melepaskan celana kain kustomnya dan pakaian dalamnya sendiri dalam satu gerakan cepat, membebaskan kepenuhannya yang sudah sangat tegang, panas, dan berurat. Pria itu memegang kedua paha mulus Shaqueilla, membukanya lebih lebar, lalu menempatkan dirinya tepat di depan kehangatan intimitas Shaqueilla.
Issa menunduk, menatap mata Shaqueilla yang berbinar penuh cinta dan kepasrahan.
"Berdiri di samping gue selamanya, Shaqui," pangkas Issa dengan suara bariton yang amat mantap, jujur, dan bergetar oleh ikrar yang suci.
"Iya, Issa... masukkan... gue mau lo..." bisik Shaqueilla pasrah.
Dengan satu dorongan panggul yang mantap, dalam, dan teratur, Issa menyatukan tubuh mereka sepenuhnya di atas tempat tidur king size tersebut.
"Ah!" Shaqueilla memeluk bahu tegap Issa erat-erat, matanya terpejam rapat saat sesakan panas yang luar biasa dahsyat menginvasi intimasinya secara utuh. Dinding kewaginanya yang basah dan hangat menjepit kepenuhan Issa dalam cengkeraman yang teramat sangat ketat.
Issa menahan napasnya sejenak, rahang tegasnya mengeras hebat saat kenikmatan puncak menyengat seluruh persendian tubuhnya. Geraman rendah meluncur dari balik tenggorokannya.
"Kamu ketat banget, Shaqui... so warm, so tight," gumam Issa serak di dekat telinganya, menunduk mengecup bibir Shaqueilla secara intens untuk menenangkan ketegangan wanita itu.
Issa mulai menggerakkan panggulnya. Ritme pergerakannya di atas tempat tidur empuk itu bertenaga, dalam, dan teratur. Setiap dorongan panggulnya menumbuk titik-titik paling peka di dalam rahim Shaqueilla, memicu suara gesekan kulit mereka yang basah dan deru napas yang memburu di dalam kamar yang sunyi.
Plak... plak...
Shaqueilla mendesah pasrah di setiap hunjaman, kedua tangannya melingkar rapat di bahu kekar Issa. Dua cincin berlian di jari manis tangan kiri dan kanannya berkilau amat indah setiap kali jemarinya meremas punggung tegap Issa yang dipenuhi peluh halus.
"Issa... ah... dalam banget..." jerit halus Shaqueilla, kakinya melingkar makin erat di pinggang tegap pria itu.
"Biar kamu selalu ingat kalau kamu cuma punya gue, Shaqui," jawab Issa serak, mempercepat dorongan panggulnya ke tingkat yang makin intens, membawa mereka berdua terbang menuju puncak pelepasan yang membakar.
Gairah di dalam kamar tidur penthouse itu membumbung tinggi, mengaburkan seluruh ingatan akan dunia luar. Di bawah pendar cahaya bulan Jakarta, dua tubuh yang saling mencintai itu menyatu dalam irama percumbuan yang amat panas, liar, namun dipenuhi oleh penghormatan dan pemujaan mutlak.
"Issa... gue mau—ah!" Shaqueilla mendongak pasrah, matanya terpejam saat dinding intimasinya berkontraksi dengan sangat hebat, menjepit kepenuhan Issa dalam pelepasan orgasme yang luapannya bergetar dahsyat di seluruh persendian tubuhnya.
Merasakan jepitan hebat dari orgasme Shaqueilla yang memerasnya, ketahanan Issa runtuh sepenuhnya. Pria itu menekan panggulnya rapat-raptan hingga dasarnya, melepaskan seluruh benih kehangatannya yang melimpah di dalam rahim Shaqueilla dengan erangan rendah yang panjang dan bergetar.
Tubuh mereka bersatu dalam getaran pelepasan yang hebat, melelahkan, dan amat damai di atas sprei katun abu-abu gelap.
Satu jam berlalu dalam keheningan domestik yang teramat mesra.
Udara kamar terasa sangat sejuk dan beraroma murni. Lampu dinding telah diredupkan hingga menyisakan pendar temaram yang hangat.
Shaqueilla terbaring miring di atas tempat tidur, bersandar rapat di dada bidang Issa yang telanjang. Selimut katun Mesir abu-abu gelap menutupi tubuh mereka hingga sebatas dada. Rambut hitam tebal Shaqueilla terurai bebas di atas lengan kekar Issa, sementara wajah cantiknya tampak sangat tenang, merona merah halus oleh sisa kehangatan.
Issa masih terjaga. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur kayu jati. Tangan kekarnya melingkar protektif di sekeliling bahu Shaqueilla, sementara jemarinya secara teratur mengusap lembut helai-helai rambut hitam tebal wanita itu.
Jemari tangan kiri Issa bertaut erat dengan jemari tangan kiri Shaqueilla. Pria itu menatap dua berlian yang berkilau di jemari mereka—sebuah simbol nyata dari kemenangan dan ikatan resmi yang telah melewati segala ujian.
Shaqueilla menggeser tubuhnya sedikit, menatap wajah tampan aristokrat Issa dari samping. "Sa..."
Issa menunduk, menatap mata jernih Shaqueilla dengan binar kehangatan yang tak terbatas. "Hm?"
"Makasih ya..." bisik Shaqueilla tulus, jemarinya mengusap lembut perut berotot Issa di balik selimut.
"Makasih buat apa, sweetheart?" tanya Issa rendah, mengecup kening Shaqueilla dengan amat dalam.
"Makasih karena lo enggak pernah menyerah sama kita," sahut Shaqueilla, suarasa mengalun halus penuh rasa syukur. "Gue sempat takut lima belas tahun lalu... gue takut kita bakal benar-benar asing satu sama lain. Tapi lo datang lagi, lo berdiri membentengi gue dari Papa, dari orang-orang arisan, dari seluruh bursa saham."
Issa menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman tampan yang amat menawan dan penuh kedamaian. Pria itu merengkuh wajah Shaqueilla dengan tangannya yang hangat, menatap lurus ke dalam manik mata wanita yang memegang seluruh jiwanya.
"Gue enggak bakal pernah menyerah sama lo, Shaqui," pangkas Issa dengan suara bariton yang mantap dan jujur. "Sejak hari pertama gue kenal lo di SMA dulu... tempat gue cuma ada di samping kamu. Semua harta, posisi COO, dan perang bursa itu enggak ada artinya kalau gue enggak bisa membawa kamu pulang ke penthouse ini setiap malam."
Dada Shaqueilla berdesir hangat luar biasa mendengarnya. Air mata haru yang manis tergenang tipis di pelupuk matanya. Ia memajukan wajahnya, mendaratkan ciuman yang lembut dan hangat di bibir tegas Issa.
"I love you, Issa Ghazafar," bisik Shaqueilla di depan bibir pria itu.
"I love you more, Dokter Shaqueilla Prameswari," balas Issa serak, membungkam bibir Shaqueilla kembali dalam sebuah ciuman yang amat lambat dan mesra.
Mereka saling berpelukan erat di dalam kegelapan kamar yang sejuk, membiarkan tubuh hangat mereka bertaut di bawah perlindungan selimut. Di tengah hiruk-pikuk rumor dan kebisingan kota Jakarta di luar sana, unit penthouse The Langham telah menjadi sanctuary abadi tempat cinta murni mereka bernaung.
Keesokan harinya, pukul delapan pagi.
Sinar matahari pagi yang cerah memancar hangat menembus jendela kaca raksasa penthouse, membias ke atas meja kayu ek di area makan.
Aroma pekat dari freshly brewed latte bercampur dengan harum roti panggang mentega memenuhi udara dapur bersih yang minimalis.
Shaqueilla berdiri di dekat konter dapur, mengenakan sweter rajut longgar berbahan kasmir berwarna putih gading yang panjangnya mencapai pertengahan paha. Rambut hitam tebalnya dikuncir asal bergaya messy bun, menyisakan beberapa helai yang jatuh membelai leher jenjangnya. Di kedua jari manis tangannya, dua berlian besar itu memantulkan pendar berkilau yang amat indah diterpa pendar matahari pagi.
Ia sedang menyeduh dua cangkir latte hangat ketika lengan tegap Issa merayap halus dari arah belakang, melingkari pinggang rampingnya dengan penuh kepemilikan.
Issa berdiri merapat di belakangnya. Pria itu hanya mengenakan celana santai abu-abu dengan dada bidang berotot yang telanjang, membiarkan aroma sandalwood dan kehangatan tubuh pribadinya mengimpit Shaqueilla dari belakang. Issa menempelkan dagunya di bahu mulus Shaqueilla, mendaratkan kecupan hangat di perpotongan leher wanita itu.
"Selamat pagi, calon istri gue," bisik Issa dengan suara bariton pagi yang amat serak dan seksi.
Shaqueilla tertawa renyah, memiringkan kepalanya sedikit untuk membalas kecupan Issa di rahangnya. "Selamat pagi, Pak COO. Kopi kamu udah siap."
Issa tidak langsung meraih cangkir kopinya. Tangan kekarnya justru meraih tangan kiri Shaqueilla, memutar posisi berlian emerald-cut lima karat di jari manis wanita itu hingga berkilau sempurna.
"Tidur lo nyenyak semalam?" tanya Issa rendah.
"Nyenyak banget," sahut Shaqueilla tulus, menyandarkan kepalanya di dada bidang Issa. "Gue rasanya malas banget harus ke Kencana jam ten nanti."
"Kalau malas, enggak usah ke Kencana hari ini," pangkas Issa santai tanpa beban. "Gue bisa minta Sekretaris Hendra buat atur izin kamu."
Shaqueilla terkekeh pelan, menepuk lengan berurat Issa di pinggangnya. "Enggak bisa gitu dong, Pak COO. Gue ada jadwal visit pasien anak jam sebelas siang nanti. Proyek BSD kan juga udah mau mulai persiapan peletakan batu pertama minggu depan."
Issa menyunggingkan senyum tipis, mengecup pipi merona Shaqueilla. "Iya, Dokter Prameswari yang rajin. Nanti sopir privat gue yang antar kamu ke Kencana."
Shaqueilla meraih ponsel pribadinya yang tergeletak di samping mesin kopi untuk memeriksa jam.
Namun, begitu layar gawai menyala, puluhan notifikasi berita terbaru dari portal bursa dan media hiburan elit Jakarta seketika membanjiri layarnya.
Foto penampilan mereka berdua saat melangkah anggun di karpet merah Malam Gala Ritz-Carlton tadi malam—dengan gaun sutra burgundy Shaqueilla dan dua berlian bernilai fantastis di jari manisnya—telah resmi memajang di halaman depan seluruh koran bisnis dan portal berita online nasional!
Judul berita utama dari majalah Forbes Indonesia membentang tegas:
"THE ULTIMATE ALLIANCE: Issa Ghazafar Djojohadikusumo dan Dr. Shaqueilla Latisha Prameswari Resmi Bergandengan Tangan di Malam Gala Ritz-Carlton. Perang Bursa Usai, Pernikahan Dinasti Terbesar Abad Ini Segera Digelar!"
Shaqueilla menatap layar ponselnya seraya tersenyum manis penuh kedamaian. Seluruh rumor salah arah, spekulasi Adrian Danunegoro, dan narasi keretakan hubungan mereka telah musnah total, digantikan oleh pengakuan mutlak dari seluruh Indonesia.
Issa ikut menatap layar ponsel Shaqueilla dari atas bahunya. Sudut bibirnya terangkat tipis dalam sebuah senyuman bangga yang sangat menawan.
Namun, tepat saat Shaqueilla bersiap mematikan layar ponselnya untuk menikmati latte hangat mereka, sebuah notifikasi panggilan suara terenkripsi dari nomor pribadi ibunya—Rosalind Prameswari—mendadak masuk.
Shaqueilla menggeser tombol hijau, membesarkan suara speaker gawai. "Halo, Ma?"
"Shaqueilla," suara Rosalind Prameswari terdengar dari seberang saluran. Nada suarasa tidak lagi kaku atau emosional seperti hari-hari sebelumnya, melainkan mengalun sangat tenang, anggun, namun tersirat sebuah ketegangan baru yang amat penting dari rumah Menteng.
"Iya, Ma. Ada apa?" tanya Shaqueilla.
"Papamu baru saja memanggil seluruh tim perencana acara keluarga dan dewan direksi Prameswari Corp pagi ini," kata Rosalind pelan namun jernih. "Papamu mau pertemuan resmi antar keluarga besar digelar minggu depan di Menteng untuk menentukan tanggal akad nikah dan resepsi kalian secara adat."
Dada Shaqueilla berdesir hangat seketika. Pertemuan keluarga besar resmi untuk penentuan tanggal pernikahan!
"Tapi Shaqui..." lanjut Rosalind, nada suarasa mendadak melembut penuh peringatan halus, "...Tante Amalia baru saja menelepon Mama. Keluarga Djojohadikusumo ingin acara pernikahan kalian diselenggarakan di Zurich dan Jakarta secara megah, sementara Papamu menuntut acara akad digelar secara tertutup di Menteng. Sebaiknya kamu dan Issa berdiskusi sekarang sebelum dua klan besar ini saling berdebat lagi di meja makan minggu depan."
Sengatan ketegangan baru yang manis mendadak merayap di dalam kabin dapur penthouse tersebut. Perang bursa saham mungkin telah selesai, namun perdebatan antar dua dinasti old money mengenai skala dan konsep pernikahan mewah mereka baru saja dimulai!

Rumor Has ItCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang