Dinding kaca besar di lantai tiga puluh delapan Djojohadikusumo Tower membiaskan kehangatan pendar keemasan Jakarta di penghujung sore. Dari ketinggian ini, metropolia yang tak pernah tidur tampak tenang, kontras dengan tensi tinggi yang biasa membakar meja-meja rapat bursa saham. Ruang kerja privat milik Chief Operating Officer itu dinaungi keheningan yang anggun, beraroma kayu cedar, wangi amber halus, serta semerbak espresso yang baru diseduh dari mesin giling porselen di sudut ruangan.
Sore ini, ruangan megah tersebut diubah menjadi panggung wawancara eksklusif. Tiga unit kamera sinematik dengan lensa tajam terpasang di atas tripod karbon, menembak dua sudut berbeda. Dua buah lampu sorot berpenutup softbox besar memancarkan pendar putih lembut, menerangi sofa kulit hitam buatan kustom yang dipisah oleh meja kaca tebal.
Issa Ghazafar duduk bersandar di sofa tunggalnya. Lelaki itu membalut tubuh tinggi tegapnya dengan setelan jas tiga potong berwarna biru tua (navy bespoke) yang memeluk siluet bahunya dengan sempurna. Tanpa dasi, dua kancing atas kemeja katun putihnya dibiarkan terbuka santai, memberikan kesan maskulin yang amat matang, tenang, namun memancarkan wibawa dominan yang tak terbantahkan.
Di sofa seberang, Ardiansyah—jurnalis senior sekaligus jurnalis investigasi bisnis kawakan dari majalah Forbes Indonesia—duduk dengan postur kaku yang amat formal. Pria paruh baya berjas abu-abu itu memegang buku catatan kulit dan sebuah gawai perekam suara bernuansa perak yang bertengger di atas meja kaca.
Dua hari pasca-kejutan karpet merah di Malam Gala Anniversary Ritz-Carlton yang berhasil membungkam spekulasi bursa, sesi wawancara khusus ini menjadi ajang yang paling ditunggu oleh seluruh pelaku pasar modal dan kalangan elit ibu kota.
"Sudah siap, Pak Issa?" tanya sang pengarah kamera seraya memberikan isyarat tiga jari.
Issa mengangguk lambat. Jemari tangannya yang panjang dan berurat saling bertaut santai di atas pangkuan. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah lensa kamera, dingin, jernih, dan tanpa celah ketegangan sedikit pun.
"Kita mulai," kata pengarah kamera. Lampu merah di atas kamera utama menyala terang.
Ardiansyah membetulkan letak kacamata minusnya, menyunggingkan senyum profesional terlatih.
"Selamat sore, Pak Issa. Terima kasih telah menyempatkan waktu di tengah padatnya jadwal eksekusi konsorsium Djojohadikusumo Group minggu ini," Ardiansyah membuka percakapan dengan nada suara bernas dan tegas.
"Selamat sore, Pak Ardiansyah," jawab Issa, suara baritonnya mengalun rendah, tenang, dan mantap.
"Kita tahu bersama bahwa dua minggu terakhir ini pasar modal dipenuhi oleh dinamika yang sangat dramatis," Ardiansyah memulai transisi pertanyaan pertamanya secara metodis. "Mulai dari pembekuan sementara konsesi lahan energi di Kalimantan melalui Pengadilan Niaga, pergerakan saham sekunder di Singapura, hingga akhirnya keputusan darurat Pengadilan Arbitrase Internasional Singapura yang membatalkan seluruh gugatan tersebut dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam. Banyak analis menyebut langkah Anda sebagai skakmat paling bersih di bursa tahun ini. Bagaimana Anda memandang kemenangan strategis ini?"
Issa menyunggingkan senyum tipis—sebuah lipatan bibir yang amat efisien, penuh percaya diri tanpa rasa jemawa yang berlebihan. Tangannya terangkat sedikit, memperlihatkan jam tangan kustom yang melingkar kaku di pergelangan tangannya.
"Djojohadikusumo Group tidak pernah bertindak berdasarkan spekulasi emosional di bursa, Pak Ardiansyah," pangkas Issa, setiap kata yang meluncur dari bibirnya tersusun sangat presisi. "Setiap akuisisi dan konsesi lahan yang kami pegang didasarkan pada kepatuhan hukum internasional dan integritas tata kelola korporasi. Putusan arbitrase di Singapura murni mengonfirmasi apa yang sejak awal menjadi hak sah kami. Pasar modal hanya merespons kepastian hukum tersebut."
Ardiansyah mengangguk-angguk, mencatat sesuatu di buku kulitnya. "Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa dalam konflik hukum kemarin, nama Prameswari Corp terseret sangat dalam. Dan yang paling menyita perhatian publik adalah bagaimana langkah hukum Anda beririsan langsung dengan dinamika personal antara dua keluarga besar."
Issa tidak mengalihkan pandangannya serambut pun. Tatapannya tetap mengunci sang jurnalis, tidak terpengaruh oleh pancingan topik sensitif yang mulai dilemparkan.
"Langkah bisnis adalah tanggung jawab profesional saya sebagai COO," jawab Issa kaku namun sopan. "Isu pasar modal tidak pernah kami campur adukkan dengan rasa hormat kami terhadap klan Prameswari."
Ardiansyah tersenyum tipis. Jurnalis berpengalaman itu menyadari bahwa Issa adalah lawan bicara yang teramat tangguh dalam diplomasi kata-kata. Namun, tugas utamanya sore ini adalah menggali sesuatu yang dicari oleh ribuan pembaca Forbes Indonesia.
Ardiansyah meletakkan penanya di atas meja kaca, mencondongkan tubuhnya satu inci ke depan. Atmosfer di dalam ruang kerja yang sejuk itu mendadak mengencang oleh intensitas pertanyaan berikutnya.
"Mari kita bicara soal aspek yang saat ini paling banyak diperbincangkan publik, Pak Issa," ujar Ardiansyah, suarasa sengaja diproduksi sedikit lebih dalam. "Dua hari lalu di Malam Gala Ritz-Carlton, Anda hadir menggandeng Dokter Shaqueilla Latisha Prameswari. Penampilan Anda berdua secara seketika meruntuhkan rumor aliansi properti dengan Danunegoro Land yang sempat liar di media sosial."
Issa diam menyimak, alis tegasnya terangkat tipis tanpa riak emosi.
"Namun..." desak Ardiansyah seraya menatap lurus mata elang Issa, "...para pengamat gaya hidup dan perhiasan mewarnai linimasa dengan analisis mengenai dua cincin berlian yang melingkar indah di jemari Dokter Shaqueilla. Berlian emerald-cut lima karat di jari manis tangan kiri, serta berlian Tiffany Novo Round Brilliant empat karat di jari manis tangan kanan. Publik tahu bahwa Dokter Shaqueilla adalah wanita yang pernah mengisi masa lalu Anda belasan tahun lalu."
Ardiansyah sengaja jeda sejenak, membiarkan keheningan ruangan menggantung tegang, sebelum melemparkan pertanyaan konfrontatif yang sangat berani:
"Sebagai pimpinan tertinggi operasional korporasi terpandang, bagaimana Anda menjelaskan pendar berkilau berlian buatan khusus itu di jari manis mantan kekasih Anda? Apakah dua cincin bernilai puluhan miliar tersebut merupakan simbol lamaran resmi di balik pintu tertutup, ataukah sekadar komitmen hibah korporasi dalam aliansi proyek medis senilai tujuh ratus lima puluh miliar rupiah yang baru saja Anda luncurkan?"
Para staf tim PR Djojohadikusumo Group yang berdiri di belakang jajaran kamera seketika menahan napas mereka. Sekretaris Hendra yang memegang tablet di sudut ruangan menyengitkan alisnya kaku, bersiap menginterupsi jika pertanyaan itu dianggap melanggar batasan kesepakatan wawancara.
Namun, Issa Ghazafar justru menyandarkan punggung tegapnya makin dalam ke sofa kulitnya.
Bukannya menunjukkan rasa terkejut atau amarah atas keberanian sang jurnalis, sudut bibir tegas Issa justru perlahan terangkat. Sebuah senyuman tipis yang teramat menawan, dingin, dan sarat akan teka-teki—his signature enigmatic smirk—terukir sangat jelas di wajah aristokratnya.
Issa memutar-mutar cincin polos di jari kelingkingnya sejenak. Pendar lampu sorot memantul lembut di rahang tegasnya yang membeku dalam percaya diri mutlak.
"Pak Ardiansyah..." Issa akhirnya bersuara. Suara baritonnya mengalun sangat tenang, berfrekuensi rendah yang memotong keheningan ruangan bagaikan bilah pisau sutra. "Media dan publik selalu punya ketertarikan yang luar biasa besar untuk memberi label pada setiap hubungan yang mereka lihat dari balik layar kaca."
Issa jeda sejenak, menatap langsung ke arah lensa kamera utama yang sedang merekam setiap kejapan matanya.
"Apakah itu simbol lamaran resmi, atau sekadar komitmen hibah medis..." lanjut Issa, nada suaranya terdengar sangat ambigu, misterius, namun memancarkan otoritas mutlak yang memikat. "...jawaban atas hal itu bukan sesuatu yang perlu saya daftarkan di bursa saham atau saya jelaskan di lembaran koran."
Ardiansyah menyengitkan alisnya, mencoba mengejar celah di balik jawaban kaku tersebut. "Artinya Anda tidak menampik maupun mengonfirmasi status pertunangan tersebut, Pak Issa?"
Issa terkekeh rendah—sebuah tawa bariton yang amat tipis dan sarat akan dominasi murni. Pria itu menopang siku tangannya di sandaran sofa, memajukan tubuhnya sedikit ke arah sang jurnalis.
"Yang bisa saya pastikan kepada Anda dan seluruh pembaca Forbes adalah ini..." pangkas Issa dengan nada yang sangat dingin, tegas, dan dipenuhi oleh ikrar implisit yang tak dapat diintervensi oleh siapa pun: "...berlian yang melingkar di jari Dokter Shaqueilla Prameswari adalah bukti bahwa apa yang menjadi milik saya... akan selalu berada dalam perlindungan mutlak saya. Tidak ada spekulasi bursa, tidak ada tekanan klan, dan tidak ada pria mana pun yang bisa mengubah kenyataan itu."
Jawaban yang teramat ambigu, penuh teka-teki, namun memancarkan sinyal kepemilikan yang amat dominan dan membakar itu seketika mengunci mulut Ardiansyah!
Jurnalis senior itu terpana di tempatnya selama dua detik penuh. Kalimat Issa tidak secara eksplisit mengucapkan kata 'kami sudah bertunangan', namun setiap suku kata yang dipilih pria berkuasa itu menegaskan bahwa Shaqueilla Prameswari berada di dalam proteksi absolut seorang Issa Ghazafar.
Ardiansyah menghembuskan napas panjang, lalu mengulas senyum kagum yang tak sanggup ditutupinya. "Sebuah jawaban yang teramat elegan, Pak Issa. Saya rasa publik akan mengerti persis apa arti di balik kata-kata Anda."
"Terima kasih, Pak Ardiansyah," sahut Issa tenang.
"Selesai! Cut!" teriak pengarah kamera.
Lampu merah di atas kamera mati. Para staf teknis dan tim PR seketika menghembuskan napas lega yang luar biasa. Suasana kaku di dalam ruang kerja megah itu perlahan mencair kembali.
Sementara itu, pada waktu yang bersamaan di Kencana Medical Center.
Sinar matahari sore membias hangat menembus jendela kaca ruang kerja dokter spesialis anak di lantai tiga. Suasana ruangan sejuk dan harum oleh wangi bunga peoni putih segar yang baru saja dikirimkan oleh florist langganan atas instruksi Issa pagi tadi.
Shaqueilla duduk bersandar di kursi kerjanya yang nyaman. Ia mengenakan terusan katun ringan berwarna biru pucat yang dilapisi oleh jas putih dokternya yang rapi. Di atas meja kayu ek milik sang dokter, sebuah komputer genggam menyalakan tayangan langsung (live streaming) dari ruang kerja Issa yang disiarkan secara terbatas melalui saluran privat internal tim komunikasi korporasi.
Labibah berdiri tepat di samping meja kerja Shaqueilla, memegang cangkir kopi dinginnya dengan mata yang membelalak lebar menatap layar gawai.
Saat tayangan langsung itu sampai pada momen Ardiansyah melemparkan pertanyaan konfrontatif mengenai dua cincin berlian di jemari Shaqueilla, Labibah menahan napasnya seketika.
"Gila! Jurnalis Forbes itu beneran nekat banget pertanyaannya!" bisik Labibah setengah histeris seraya menepuk bahu Shaqueilla. "Dia langsung nanya di depan kamera apakah dua cincin di jari lo itu tanda lamaran atau cuma hibah 750 miliar!"
Shaqueilla tidak menjawab. Mata jernih sang dokter terkunci sepenuhnya pada layar komputer. Tangannya yang lentik secara refleks saling bertaut di atas meja. Di jari manis tangan kirinya, berlian emerald-cut lima karat membiaskan cahaya temaram, sementara di jari manis tangan kanannya, berlian Tiffany Novo Round Brilliant empat karat berkilau indah.
Di dalam layar, Shaqueilla menyaksikan bagaimana Issa menyandarkan punggung tegapnya, menyunggingkan senyuman tipisnya yang teramat menawan dan penuh teka-teki, lalu melontarkan jawaban baritonnya yang amat berkuasa:
"...apa yang menjadi milik saya... akan selalu berada dalam perlindungan mutlak saya. Tidak ada spekulasi bursa, tidak ada tekanan klan, dan tidak ada pria mana pun yang bisa mengubah kenyataan itu."
Sengatan hangat yang amat dahsyat seketika membuncah dan merayap di dalam dada Shaqueilla.
Pipi mulus sang dokter merona merah halus. Ada pendar kebahagiaan, rasa bangga, dan rasa haru yang teramat dalam membias di matanya. Jawaban Issa yang sengaja dibuat ambigu bagi publik namun sangat jelas dan tegas di telinganya itu terasa bagaikan sebuah ikrar cinta paling maskulin yang pernah diucapkan seorang pria di depan media internasional.
Labibah mengempaskan tubuhnya ke kursi seberang meja seraya memegang dadanya sendiri. "Shaqui... sumpah, gue yang dengar aja sampai merinding! 'Apa yang menjadi milik saya akan selalu berada dalam perlindungan mutlak saya'... demi apa pun, Issa Ghazafar tuh definisi pria alpha yang nggak butuh umbar-umbar kata romantis konyol buat membungkam satu Indonesia!"
Shaqueilla menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, mengulas senyuman manis paling tulus dalam hidupnya. Tangannya yang melingkar dua cincin berlian itu mengusap lembut dadanya sendiri yang berdegup cepat oleh kehangatan.
"Dia bener-bener nggak pernah berubah dari dulu, Bih," bisik Shaqueilla pelan dengan nada suara yang dipenuhi pemujaan murni. "Selalu tahu cara mengendalikan situasi tanpa perlu banyak bicara."
"Tapi jujur ya, Shaqui," pangkas Labibah seraya membetulkan posisi duduknya, "jawaban ambigu Issa itu bakal bikin grup arisan Menteng sama media makin gila penasaran! Mereka bakal makin liar menebak-nebak kapan acara akad nikah kalian digelar secara resmi!"
Shaqueilla terkekeh renyah, sebuah tawa anggun yang memancarkan ketenangan jiwa yang utuh. "Biarkan aja mereka penasaran, Bih. Lagian Mama tadi pagi udah menelepon... Papa sama Tante Amalia minggu depan udah menjadwalkan pertemuan resmi dua keluarga di Menteng buat bahas tanggal pernikahan."
Labibah membelalakkan matanya girang. "Wah! Beneran?! Berarti perang bursa resmi selesai dan perang vendor pernikahan dinasti dimulai dong?"
"Iya," jawab Shaqueilla tertawa pelan. "Nyokap gue sama Tante Amalia udah mulai sengit bahas mau pakai konsep adat Jawa klasik atau resepsi internasional di Zurich."
Ponsel pribadi Shaqueilla di atas meja bergetar halus.
Layar gawai menyalakan notifikasi pesan masuk dari Issa:
"Kamu nonton wawancaranya, sweetheart?"
Shaqueilla tersenyum manis, jemarinya menari cepat membalas pesan kekasihnya:
"Nonton. Jawaban kamu di depan jurnalis Forbes tadi bener-bener penuh teka-teki ya, Pak COO."
Hanya butuh dua detik bagi Issa untuk membalas:
"Jawaban gue ambigu buat media, Shaqui. Tapi buat kamu... itu janji mutlak. Gue jemput kamu di Kencana jam tujuh malam ini. Kita makan malam di luar."
Shaqueilla memeluk ponselnya di dada, merasakan kehangatan cinta Issa yang selalu hadir melingkupinya tanpa cela.
Pukul tujuh malam tepat.
Sinar lampu jalanan di kawasan Senopati membiaskan pendar keemasan di atas pelataran parkir privat Kencana Medical Center. Hujan gerimis halus baru saja mereda, meninggalkan udara malam yang sejuk dan segar.
Shaqueilla melangkah keluar dari pintu lift privat lantai dasar, membawa tas tangan mewahnya. Ia telah melepaskan jas putih dokternya, kini membalut tubuhnya dengan terusan kasual berbahan sutra tipis berwarna krem yang melilit anggun di tubuh rampingnya. Rambut hitam tebalnya dibiarkan terurai rapi, dan di kedua jari manis tangannya, dua berlian besar itu memantulkan pendar berkilau yang amat memukau.
Sebuah mobil sedan hitam privat tanpa logo korporasi terparkir rapi di bahu jalan parkir.
Pintu penumpang belakang bergeser terbuka.
Issa melangkah keluar dari dalam mobil. Lelaki itu telah melepas jas navy bespoke-nya, kini hanya mengenakan kemeja katun putih bersih dengan lengan baju yang tergulung kaku hingga pertengahan lengan bawah. Penampilannya yang tegap, menawan, dan santai memancarkan aura maskulin yang teramat kuat di bawah pendar lampu jalanan.
Melihat Shaqueilla berjalan mendekat, sepasang mata elang Issa seketika melunak penuh kehangatan. Pria itu melangkah maju dua tahap, merangkulkan tangan kekarnya di pinggang Shaqueilla, lalu menarik wanita itu ke dalam pelukan tegapnya di samping mobil.
Issa menunduk, mendaratkan ciuman yang amat lambat, panas, dan dipenuhi rasa rindu di bibir Shaqueilla.
Shaqueilla membalas pagutan itu dengan pasrah, melingkarkan kedua lengannya di leher tegap Issa, menghirup aroma sandalwood dan amber yang menjadi tempat bersandar paling aman dalam hidupnya.
Ketika Issa melepaskan bibirnya secara perlahan, ibu jarinya mengusap lembut sudut bibir Shaqueilla yang merona hangat.
"Sore yang panjang, Dokter Prameswari," gumam Issa rendah dengan suara baritonnya yang seksi.
Shaqueilla mendongak, menyunggingkan senyuman manis seraya mengusap kerah kemeja putih Issa. "Sore yang luar biasa, Pak COO. Kalimat 'perlindungan mutlak' kamu di Forbes tadi sore... itu beneran terencana dari rumah atau refleks di depan kamera?"
Issa terkekeh rendah, memeluk pinggang Shaqueilla makin rapat ke dadanya. Pria itu menunduk, menempelkan keningnya pada kening Shaqueilla.
"Itu reflex murni dari seorang pria yang enggak bakal membiarkan siapa pun mengusik calon istrinya, Shaqui," bisik Issa jujur di depan wajah Shaqueilla.
Dada Shaqueilla berdesir hangat luar biasa. Ia mengecup singkat garis rahang kokoh Issa sebelum pria itu membukakan pintu mobil untuknya.
Shaqueilla melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk, disusul oleh Issa yang duduk di sampingnya. Sedan hitam itu mulai melaju perlahan meninggalkan pelataran rumah sakit, membelah senja kota Jakarta yang indah menuju sebuah restoran privat di kawasan Dharmawangsa.
Di dalam kabin penumpang belakang, Shaqueilla menyandarkan kepalanya di dada bidang Issa. Tangan tegap pria itu melingkar protektif di pinggangnya, jemarinya bertaut erat dengan jemari Shaqueilla, membiarkan pendar dua berlian mereka menyatu dalam kegelapan kabin yang mesra.
Sementara itu, pukul delapan malam di kediaman utama keluarga Prameswari di Menteng.
Ruang keluarga berlantai marmer Carrara dinaungi oleh keheningan yang anggun. Baskara Prameswari duduk di sofa kulit mewahnya, memegang cangkir teh hangat. Di atas meja kaca di hadapannya, sebuah layar iPad menyalakan siaran ulang wawancara eksklusif Issa Ghazafar di Forbes Indonesia.
Rosalind Prameswari melangkah masuk dari arah dapur, mendudukkan dirinya di samping suaminya.
Layar iPad baru saja menampilkan momen ketika Issa menyampaikan jawaban enigmatisnya:
"...apa yang menjadi milik saya... akan selalu berada dalam perlindungan mutlak saya. Tidak ada spekulasi bursa, tidak ada tekanan klan, dan tidak ada pria mana pun yang bisa mengubah kenyataan itu."
Baskara menatap wajah keteguhan calon menantunya di layar gawai tersebut dalam keheningan yang amat panjang.
Tidak ada lagi sisa-sisa amarah atau ego pimpinan korporasi di raut wajah Baskara. Pria paruh baya itu menghembuskan napas panjang—sebuah helaan napas penuh kebanggaan dan rasa hormat yang mendalam kepada pria yang akan memegang masa depan putri tunggalnya.
"Pemuda itu..." bisik Baskara pelan dengan suara berbariton rendah, "...dia punya martabat dan kekuatan yang tidak bisa dibeli dengan uang bursa, Rosalind."
Rosalind menyunggingkan senyuman tipis yang amat lembut, memegang tangan suaminya. "Makanya, Mas... fokuslah pada persiapan pertemuan keluarga besar minggu depan. Biarkan Issa yang menjaga Shaqueilla di luar sana, dan tugas kita sebagai orang tua adalah menyambut mereka dengan restu paling utuh."
Baskara menatap istrinya, lalu mengangguk lambat—sebuah kesepakatan mutlak yang menyegel keharmonisan baru di antara keluarga besar Prameswari dan Djojohadikusumo.
Sementara itu, di sebuah restoran fine dining privat bernuansa pencahayaan temaram di kawasan Dharmawangsa.
Shaqueilla dan Issa duduk berhadapan di meja sudut yang paling terisolasi. Piring-piring hidangan pencuci mulut gourmet dan dua gelas anggur merah bertengger di atas kain linen putih.
Suasana makan malam mereka berlangsung sangat mesra, hangat, dan dipenuhi oleh obrolan kasual mengenai perkembangan rencana peletakan batu pertama klinik anak BSD minggu depan.
"Jadi peletakan batu pertama klinik BSD resmi digelar tanggal lima belas bulan depan, Shaqui?" tanya Issa seraya menyesap anggur merahnya perlahan.
"Iya, Sa," sahut Shaqueilla gembira. "Tim konsorsium medis dan perwakilan Kementerian Kesehatan udah mengonfirmasi kehadiran mereka. Semua izin sudah bersih seratus persen gara-gara bantuan hibah yayasan kamu."
Issa tersenyum hangat, mengulurkan tangannya di atas meja untuk menggenggam tangan kanan Shaqueilla, mengusap berlian Tiffany Novo di jari manis wanita itu. "Gue bakal hadir mendampingi kamu di panggung peletakan batu pertama itu, sweetheart."
Shaqueilla menatap mata elang pria yang sangat dicintainya. "Gue bakal sangat senang kalau kamu ada di sana, Issa."
Namun, tepat saat Shaqueilla bersiap menyuap potongan kue chocolate fondant-nya, ponsel pribadi Issa yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat.
Layar gawai menyalakan notifikasi pesan resmi berstempel rahasia dari Sekretariat Keluarga Besar Djojohadikusumo di Zurich.
Issa meraih ponselnya, menggeser layar untuk membaca isi pesan tersebut.
Seketika itu juga, raut wajah tampan aristokrat Issa mendadak membeku kaku. Rahang tegasnya mengetat hebat, dan sepasang mata elangnya menyempit tajam dipenuhi oleh sengatan terkejut yang amat dingin.
Shaqueilla yang memperhatikan perubahan raut wajah kekasihnya seketika menghentikan sendoknya. Rasa cemas yang halus kembali merayap di dadanya.
"Ada apa, Sa?" tanya Shaqueilla pelan, memegang tangan Issa di atas meja. "Ada masalah baru di bursa atau dari Singapura?"
Issa meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan perlahan, menatap Shaqueilla dengan pandangan mata yang amat dalam dan sarat akan ketegangan baru yang tak terduga.
"Bukan dari bursa atau Singapura, Shaqui..." suara bariton Issa mengalun rendah dan kaku. "...ini pesan dari Tante Amalia dan pengacara keluarga di Zurich."
"Ada apa sama Tante Amalia?"
"Ibu gue dan Mas Raden..." pangkas Issa datar, "...baru saja menemukan dokumen wasiat rahasia mendiang Bapak Djojohadikusumo yang disimpas di brankas bank Swiss selama lima belas tahun. Dan di dalam wasiat itu... ada satu klausul khusus mengenai syarat kepemilikan saham utama klan Djojohadikusumo yang terikat secara langsung dengan nama kamu, Shaqueilla!"
Darah Shaqueilla rasanya membeku seketika di dalam pembuluh darahnya.
Ia membelalakkan matanya kaget, menatap Issa dengan napas yang tertahan di tenggorokan—terjebak dalam rahasia besar baru dari masa lalu lima belas tahun lalu yang kini siap membongkar kembali takdir hubungan mereka!
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumor Has It
Fiksi PenggemarBagi lingkar sosial kelas atas Jakarta, perpisahan Shaqueilla Latisha Prameswari dan Issa Ghazafar Djojohadikusumo di hari kelulusan SMA lima belas tahun lalu adalah tragedi romansa terbesar dekade itu. Mereka adalah golden couple-sempurna, dipuja...
