Bab 30: Issa's Smirk

91 10 0
                                        

Sinar matahari pagi merayap masuk melintasi dinding kaca raksasa di lantai empat puluh dua Djojohadikusumo Tower. Pemandangan metropolitan Jakarta yang dinaungi langit biru jernih membentang luas di bawah sana. Di dalam ruang kerja COO yang megah berornamentasi kayu mahoni dan marmer hitam itu, hembusan sejuk pendingin udara membawa wangi amber dan kayu cedar yang tenang.
Issa Ghazafar duduk bersandar di kursi kerja kulit hitam mewahnya. Pria itu belum mengenakan jas charcoal-nya, hanya mengenakan kemeja katun putih kustom yang bersetrika licin dengan lengan baju tergulung kaku hingga pertengahan lengan bawah. Dua kancing atas kemejanya terbuka santai, memperlihatkan garis leher dan rahang tegasnya yang tercukur rapi.
Di tangan kanannya, sebuah tablet menyalakan potongan-potongan unggahan media sosial dan artikel portal berita hiburan elit Jakarta yang sedang berada di puncak kurva tren.
Mata elang Issa menyapu barisan kalimat yang ditulis dengan narasi dramatis oleh para pengamat high society. Foto Story kopi pagi Shaqueilla yang memperlihatkan pendar berlian Tiffany Novo Round Brilliant disandingkan dengan foto Shaqueilla yang sedang berjabat tangan dengan Adrian Danunegoro dari Danunegoro Land.
Takarir media dengan penuh keyakinan menyebutkan bahwa "Kisah Golden Couple antara Issa dan Shaqueilla telah resmi mati dan terkubur oleh kerasnya pertempuran bursa saham", sementara sang dokter cantik dikabarkan telah berlabuh pada konglomerat properti lain sebagai "tunangan fiktif" yang dirakit oleh rumor publik.
Issa menghentikan usapan jemarinya di layar tablet.
Sudut bibir tegasnya perlahan terangkat. Sebuah senyuman tipis—a slow, dangerously arrogant smirk—terukir sangat jelas di wajah tampan aristokratnya. Ada binar keunggulan mutlak dan kepuasan yang teramat dingin memancar dari sepasang mata elangnya saat memandangi narasi konyol yang sedang ditelan bulat-bulat oleh seluruh publik Jakarta.
"Mati dan terkubur," gumam Issa rendah pada dirinya sendiri, suara baritonnya bergetar oleh tawa kaku yang tersirat.
Di matanya, rumor "tunangan fiktif" Shaqueilla dengan Adrian Danunegoro adalah sebuah karya komedi publik yang sempurna. Orang-orang di luar sana—dari akun gosip hiburan, pengamat pasar modal, hingga ibu-ibu arisan di Menteng dan Kebayoran Baru—sibuk menyusun cerita drama keprihatinan untuk dirinya. Mereka sibuk mengasihani dirinya yang dianggap gagal mempertahankan cinta pertamanya, tanpa sedikit pun menyadari bahwa kenyataan di balik pintu tertutup jauh melampaui imajinasi terliar mereka.
Ketukan tegas dua kali di pintu kayu tebal ruang kerja memecah keheningan.
"Masuk," perintah Issa datar.
Pintu bergeser terbuka. Sekretaris Hendra melangkah masuk dengan raut wajah yang mencerminkan campuran antara ketegangan kaku dan kebingungan yang tak sanggup ditutupinya. Di tangannya, tersangkut sebuah folder dokumen berstempel rahasia dan tablet pribadi yang terus bergetar.
"Selamat pagi, Pak Issa," sapa Hendra seraya membungkuk sopan di depan meja kerja besar itu.
"Selamat pagi, Hendra," jawab Issa santai. Pria itu meletakkan tabletnya di atas meja kaca, lalu meraih cangkir porselen berisi espresso hangat. "Kenapa muka kamu kaku begitu pagi ini?"
Hendra berdehem pelan, membetulkan kacamata minusnya dengan gerakan agak canggung. "Maaf, Pak Issa. Ini terkait... tren perbincangan media sosial pagi ini mengenai Dokter Shaqueilla dan Bapak Adrian Danunegoro dari Danunegoro Land."
Issa menyesap espresso-nya perlahan, membiarkan rasa pahit pekat membelai lidahnya sebelum meletakkan cangkir itu kembali ke atas tatakan dengan ketukan halus. "Saya sudah baca beritanya."
Hendra tertegun sejenak, menatap atasannya yang sama sekali tidak menunjukkan raut amarah atau kekecewaan. "Anda... Anda sudah membacanya, Pak? Tim Public Relations internal kita baru saja meminta arahan darurat. Beberapa jurnalis bisnis kelas atas dari majalah Forbes dan Bloomberg bahkan sudah mengirimkan permintaan wawancara resmi untuk menanyakan apakah Djojohadikusumo Group bakal membatalkan seluruh kerja sama konsorsium medis pasca-rumor tunangan tersebut."
Hendra memajukan langkahnya, memberikan draf pernyataan klarifikasi resmi yang telah disusun oleh tim PR. "Tim PR mengusulkan agar kita merilis bantahan resmi dalam dua jam ke depan, Pak. Kita harus menegaskan bahwa aliansi medis antara Anda dan Dokter Shaqueilla tetap berjalan solid untuk meredam persepsi bahwa Anda berada dalam posisi kalah di bursa."
Issa menatap draf kertas klarifikasi tersebut, lalu pandangan mata elangnya beralih menatap sekretaris pribadinya.
Senyuman tipis dan dingin itu kembali muncul di bibir Issa.
"Tolak draf klarifikasi itu, Hendra," perintah Issa datar, suarasa mengalun mantap dan sangat berkuasa. "Dan beri instruksi tegas ke tim PR: tidak ada satu pun kalimat bantahan, konfirmasi, atau tanggapan resmi yang boleh keluar dari pihak Djojohadikusumo Group sampai jam delapan malam nanti."
Hendra membelalakkan matanya di balik kacamata, terkejut luar biasa oleh instruksi tersebut. "T-Tapi Pak Issa... kalau kita diam saja, publik dan para investor bakal makin yakin bahwa rumor pertunangan Dokter Shaqueilla dengan klan Danunegoro itu benar! Harga saham kita di bursa pagi ini bisa dianggap melemah karena persepsi kekalahan personal Anda!"
"Biarkan mereka yakin," pangkas Issa tanpa ada ragu sedikit pun. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menopang jemari tangannya yang saling bertaut di atas meja. "Biarkan orang-orang di luar sana sibuk mengasihani gue. Biarkan Pak Soeryo, klan Danunegoro, dan seluruh ibu-ibu arisan Menteng merasa di atas angin karena mengira hubungan gue dan Shaqueilla sudah hancur."
Hendra berdiri mematung di depan meja kerja. Sebagai sekretaris senior yang telah mendampingi keluarga Djojohadikusumo selama belasan tahun, ia mengenal betul tatapan mata atasannya saat ini. Tatapan mata ini bukanlah tatapan seorang pria yang pasrah atau terluka; ini adalah tatapan mata seorang penguasa catur yang sengaja mengumpankan bidak palsu demi mengepung raja lawan dalam satu gerakan skakmat yang sempurna.
"Pak Issa..." bisik Hendra, matanya menyempit curiga seraya menyandarkan analisisnya. "Anda... Anda sengaja membiarkan rumor salah arah ini berkembang liar di internet?"
Issa terkekeh rendah—sebuah tawa bariton yang sangat seksi dan sarat akan dominasi murni. Pria itu memutar pena Montblanc-nya di antara jemarinya.
"Rumor 'tunangan fiktif' ini adalah pengalihan perhatian paling sempurna yang pernah dibuat publik secara sukarela, Hendra," pangkas Issa dengan kecerdasan yang amat dingin. "Di saat seluruh media, jurnalis bursa, dan kompetitor kita sibuk memfokuskan perhatian pada drama romansa fiktif Shaqueilla dan Adrian Danunegoro... berapa banyak orang yang sadar bahwa tim hukum Singapura kita baru saja merampungkan pendaftaran berkas arbitrase internasional untuk membekukan seluruh aset sekunder Prameswari Corp jam enam pagi tadi?"
Sengatan pemahaman yang luar biasa mendadak menghantam pikiran Hendra.
Mata sekretaris itu melebar kaget. "Demi Tuhan... Anda memanfaatkan kegaduhan gosip ini buat menutupi pergerakan akuisisi dan arbitrase Singapura kita!"
"Tepat," pangkas Issa mantap. "Pak Baskara Prameswari dan tim pengacaranya saat ini pasti sedang sibuk memantau reaksi media atas rumor Adrian Danunegoro itu. Beliau mengira fokus gue bakal terpecah oleh amarah pribadi. Beliau tidak bakal menyadari bahwa surat perintah penangguhan dari Singapura bakal mendarat di meja kerjanya jam lima sore nanti—tepat tiga jam sebelum Malam Gala dimulai."
Issa berdiri dari kursi kerjanya, merapikan kemeja putihnya dengan gerakan yang sangat tenang dan terlatih. Pria itu meraih jas charcoal-nya yang tergantung di balik pintu, lalu menyampirkan kain mahal itu di bahunya yang tegap.
"Tugas kamu sekarang simpel, Hendra," pangkas Issa seraya menatap sekretarisnya lurus-lurus. "Pastikan seluruh persiapan Malam Gala Anniversary di Ritz-Carlton nanti malam berjalan tanpa cela. Pastikan Presidential Suite di lantai tiga puluh lima sudah steril buat persiapan Shaqueilla sore nanti. Dan biarkan media sibuk memasang stasiun kamera di karpet merah buat mengabadikan momen kedatangan gue."
Hendra membungkuk dalam-dalam, rasa kagum yang amat sangat memancar dari wajahnya. "Baik, Pak Issa! Seluruh instruksi akan dilaksanakan dengan ketelitian seratus persen."
"Satu hal lagi, Hendra," pangkas Issa sebelum sekretarisnya berbalik.
"Ya, Pak?"
"Kirimkan karangan bunga paling segar berisikan peoni putih ke ruang kerja Shaqueilla di Kencana sekarang. Tanpa kartu nama korporasi... cukup kartu ucapan dengan inisial I."
"Baik, Pak Issa. Segera dilaksanakan."
Satu jam kemudian, pukul sepuluh pagi.
Suasana di area penthouse The Langham terasa sangat sejuk dan damai. Shaqueilla baru saja selesai berganti pakaian dengan terusan kemeja katun berwarna biru pucat setelah menyelesaikan jadwal latihan fisik singkatnya. Rambut hitam tebalnya dikuncir ekor kuda rapi, memancarkan keanggunan murni yang alami.
Di jari manis tangan kirinya, berlian emerald-cut lima karat berkilau dingin, sementara di jari manis tangan kanannya, berlian Tiffany Novo Round Brilliant empat karat membiaskan pendar pelangi di bawah cahaya lampu.
Shaqueilla duduk di sofa ruang keluarga, memegang cangkir teh kamomil hangatnya. Di atas meja kaca, gawai pribadinya terus menyalakan notifikasi pesan masuk dari berbagai kerabat dan teman-teman sejawatnya yang menanyakan kebenaran rumor Adrian Danunegoro.
Ponselnya bergetar nyaring. Layar menyala menampilkan nama kontak Issa.
Shaqueilla menggeser tombol hijau, membesarkan suara speaker gawai. "Halo, Pak COO?"
Kekehan rendah berfrekuensi bariton yang amat seksi dan hangat langsung menyapa inderanya dari seberang saluran.
"Selamat pagi, tunangan fiktifnya Adrian Danunegoro," goda Issa pelan, suaranya terdengar sangat intim dan santai di telinga Shaqueilla.
Shaqueilla tidak bisa menahan tawa renyahnya, menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. "Lo udah baca beritanya kan, Sa? Sumpah, gue sampai pusing dijawab apa sama sepupu-sepupu gue di WhatsApp. Mereka semua beneran percaya kalau gue dijodohkan sama Pak Adrian!"
"Gue bukan cuma udah baca, Shaqui," sahut Issa, rasa puas yang dingin tersirat jelas dalam nadanya. "Gue baru saja menolak draf klarifikasi dari tim PR gue sendiri."
Shaqueilla menyengitkan alisnya tipis, menumpahkan sedikit tehnya ke cangkir. "Lo menolak klarifikasi? Kenapa, Sa? Lo sengaja biarin publik mikir begitu?"
"Gue sengaja membiarkan mereka berspekulasi liar, sweetheart," pangkas Issa dengan suara bariton yang mantap dan berwibawa. "Rumor konyol itu bikin Pak Baskara dan tim hukum Prameswari Corp mengira perhatian gue terpecah karena cemburu. Mereka tidak bakal tahu kalau sidang arbitrase Singapura jam tiga sore nanti bakal membatalkan seluruh gugatan Pengadilan Niaga Papa kamu secara permanen."
Dada Shaqueilla berdesir hebat mendengar penjelasan terstruktur dari kekasihnya. Di balik kecerdasan bisnis Issa yang dingin, pria ini selalu tahu cara menunggangi setiap situasi—bahkan rumor gosip paling konyol sekali pun—menjadi senjata strategis yang melapisi posisi mereka.
"Lo bener-bener kalkulatif banget ya, Issa," bisik Shaqueilla tulus, ada nada takjub yang tak tersembunyi di suaranya. "Kasihan netizen sama orang-orang arisan Menteng yang udah sibuk bikin drama keprihatinan buat kamu."
"Biarkan mereka menikmati drama prihatin itu seharian ini, Shaqui," kata Issa rendah, suaranya melembut penuh afeksi. "Karena nanti malam di karpet merah Ritz-Carlton... gue bakal pastikan seluruh kamera jurnalis di Jakarta menangkap gambar kamu berjalan di samping gue dalam balutan gaun merah anggur itu."
Wajah Shaqueilla merona merah halus mendengarnya. Tangannya secara refleks mengusap pendar berlian Tiffany Novo di jari manis tangan kanannya.
"Gue bakal ke Ritz-Carlton jam lima sore nanti buat persiapan riasan di suite, Sa," kata Shaqueilla pelan.
"Gue yang bakal jemput kamu di suite jam tujuh tepat," balas Issa mantap. "Fokus saja sama persiapan kamu hari ini, Dokter Prameswari. Serahkan seluruh urusan bursa dan karpet merah malam nanti ke gue."
"Iya, Issa. Hati-hati di kantor."
" take care, sweetheart."
Sambungan telepon terputus. Shaqueilla meletakkan gawai pribadinya di atas meja kaca, memeluk kedua lututnya seraya menatap ke luar jendela. Keberanian, ketenangan, dan kejutan cerdas yang selalu disiapkan Issa memberinya rasa aman yang tak tergoyahkan.
Sementara itu, pukul dua siang di kediaman utama keluarga Prameswari di Menteng.
Suasana di rumah kolonial mewah itu terasa sangat sepi namun dipenuhi oleh ketegangan yang kaku.
Baskara Prameswari duduk di ruang kerja pribadinya yang megah. Pimpinan Prameswari Corp itu mengenakan kemeja batik tulis sutra bernuansa gelap, menatap layar komputer kerjanya yang menampilkan laporan tren media sosial dan pergerakan bursa saham Jakarta.
Di samping mejanya, dua orang pengacara senior Prameswari Corp berdiri dengan raut wajah yang tegang.
"Bagaimana reaksi dari pihak Djojohadikusumo Group atas rumor pertunangan Shaqueilla dengan Adrian Danunegoro itu?" tanya Baskara dengan suara berbariton rendah yang tenang dan dingin.
"Sampai jam dua siang ini, pihak Issa Ghazafar sama sekali belum merilis pernyataan klarifikasi atau bantahan resmi apa pun, Pak Baskara," sahut pengacara pertama. "Langkah diam mereka membuat publik makin yakin bahwa hubungan pribadi antara Bapak Issa dan Dokter Shaqueilla telah pecah total pasca-gugatan Pengadilan Niaga kita."
Baskara menyandarkan punggungnya ke kursi kayu mahoni, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dingin. "Issa Ghazafar ternyata cuma pemuda emosional. Begitu melihat Shaqueilla dikabarkan dekat dengan klan Danunegoro, perhatiannya di bursa langsung lumpuh. Dia tidak berani merilis pernyataan karena takut kehilangan muka di depan publik."
Pengacara kedua menelan ludah dengan canggung. "T-Tapi Pak Baskara... apakah kita tidak perlu memeriksa ulang laporan persidangan arbitrase Singapura jam tiga sore nanti? Pihak tim hukum Singapura mereka mendadak meminta sidang darurat."
Baskara melambaikan tangannya meremehkan. "Arbitrase Singapura butuh waktu berbulan-bulan untuk memproses gugatan internasional. Putusan sela Pengadilan Niaga kita di Jakarta masih memegang kendali atas izin konsesi lahan mereka di Kalimantan. Issa tidak punya waktu buat membalikkan keadaan sebelum Malam Gala nanti malam."
Baskara meraih cangkir teh porselennya, menyesapnya santai, merasa sangat yakin bahwa permainannya di bursa saham dan di meja hukum telah mengunci posisi calon menantunya.
Namun, tepat saat jam dinding di ruang kerja menunjuk angka tiga sore tepat—
Ponsel terenkripsi milik pengacara senior Prameswari Corp di atas meja mendadak bergetar hebat.
Pengacara itu menggeser tombol penerima dengan terburu-buru, menempelkannya ke telinga. Hanya dalam hitungan lima detik mendengarkan suara di seberang saluran, raut wajah pengacara tersebut seketika memucat pasi bagaikan kertas.
tangannya gemetar hebat hingga folder dokumen di lengannya hampir terlepas.
"Ada apa?" tanya Baskara tajam, menyengitkan alisnya.
Pengacara itu menurunkan ponselnya dari telinga dengan bibir yang gemetar kaku. "Pak... Pak Baskara..."
"Bicara yang jelas!" bentak Baskara, ketegangannya seketika membumbung tinggi.
"Pengadilan Arbitrase Internasional Singapura baru saja menerbitkan Emergency Order jam tiga sore ini!" pangkas pengacara itu dengan suara yang hampir habis. "Hakim arbitrase internasional memutuskan bahwa gugatan Pengadilan Niaga Jakarta kita cacat hukum secara internasional! Seluruh izin konsesi lahan anak perusahaan Djojohadikusumo Group di Kalimantan resmi dipulihkan sepenuhnya, dan bursa saham Singapura baru saja mengumumkan pembatalan pembekuan saham mereka!"
Brak!
Cangkir teh porselen di tangan Baskara terlepas, jatuh menghantam piringan tatakan hingga retak.
Baskara berdiri dari duduknya dengan wajah yang berubah sangat pucat dan terperanjat luar biasa. "Apa kamu bilang?! Pembatalan internasional dalam waktu dua puluh empat jam?!"
"Iya, Pak Baskara!" pangkas pengacara itu panik. "Tim hukum Singapura Issa Ghazafar telah mendaftarkan berkasnya sejak kemarin subuh! Diamnya Issa di media sosial seharian ini murni buat menjebak kita agar tidak mengajukan banding susulan sebelum putusan Singapura keluar!"
Baskara mematung kaku di balik meja kerja mahoninya.
Darah rasanya membeku di dalam pembuluh darah pimpinan Prameswari Corp itu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah karier bisnisnya, Baskara menyadari betapa mengerikannya jebakan catur yang dirancang oleh Issa Ghazafar. Pria muda itu sengaja membiarkan dirinya dihujat, dikasihani, dan dijadikan bahan gosip "tunangan fiktif" oleh publik seharian ini, murni untuk membuai kewaspadaannya sementara pergerakan hukum mematikannya dieksekusi secara sempurna dari Singapura!
Pintu ruang kerja bergeser terbuka. Rosalind Prameswari melangkah masuk dengan anggun, memegang gawai pribadinya yang menampilkan panggilan suara masuk dari Tante Amalia Djojohadikusumo.
Rosalind menatap suaminya yang membeku kaku di depan meja kerja, lalu menyunggingkan senyuman tipis penuh kebijaksanaan.
"Issa memenangkannya secara mutlak di Singapura, Mas," ujar Rosalind pelan namun sangat jernih. "Dan Amalia baru saja menelepon... Beliau mengundang kita berdua untuk hadir di meja VIP utama Malam Gala Anniversary di Ritz-Carlton nanti malam untuk menyambut pengumuman resmi pertunangan Shaqueilla dan Issa."
Baskara mengembuskan napas panjang—sebuah helaan napas berat penuh kekalahan yang akhirnya memaksa pimpinan Prameswari Corp itu untuk meruntuhkan seluruh egonya. Pria paruh baya itu memejamkan matanya sejenak, lalu mengangguk lambat.
Pukul enam sore.
Kawasan SCBD dan Pacific Place diselimuti oleh pendar lampu keemasan metropolia menjelang malam.
Di lantai tiga puluh lima The Ritz-Carlton Jakarta, di dalam Presidential Suite yang sangat luas dan mewah, Shaqueilla sedang berdiri di depan cermin raksasa ruang rias.
Tim penata rias profesional baru saja menyelesaikan tatanan rambut gelombang klasik Hollywood-nya. Pemulas bibir berwarna merah anggur lembut (burgundy-nude) memancar sempurna di wajah cantiknya, memperlihatkan keanggunan murni seorang calon ratu dinasti.
Dua asisten pribadi atelier Madam Evelyn dengan sangat hati-hati membantunya mengenakan gaun malam sutra velvet berwarna merah anggur pekat (midnight burgundy). Gaun off-shoulder berstruktur korset itu membingkai tubuh ramping Shaqueilla dengan keindahan yang amat memukau.
Di pergelangan tangan kirinya, jam tua Patek Philippe Ref. 2499 berkilau anggun. Dan di kedua jari manis tangannya, berlian emerald-cut lima karat dan berlian Tiffany Novo empat karat memancarkan pendar berkilau yang amat dahsyat di bawah pendar lampu kristal ruangan.
Shaqueilla menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ada senyuman manis dan rasa percaya diri yang amat kokoh membentang di matanya.
Pintu privat suite bergeser terbuka.
Issa melangkah masuk dengan gaya tegap yang sangat menawan. Pria itu telah mengenakan tuxedo klasik hitam buatan kustom yang membalut tubuh tinggi berototnya secara sangat sempurna, dipadukan dengan dasi kupu-kupu hitam yang terikat kaku di kerah kemeja ata pique putih bersihnya.
Melihat Shaqueilla berdiri di tengah ruangan dalam balutan gaun sutra burgundy, langkah kaki Issa seketika terhenti.
Sepasang mata elang pria itu menyempit tajam. Binar pemujaan, gairah, dan rasa kepemilikan yang amat pekat terpancar jelas dari dalam matanya. Senyuman tipis yang sangat dingin dan berkuasa—his iconic smirk—kembali terukir di bibirnya.
Issa melangkah mendekat tanpa suara, memangkas jarak di antara mereka, lalu berdiri tepat satu jengkal di hadapan Shaqueilla.
"Sidang arbitrase Singapura resmi mengabulkan pembatalan kita jam tiga sore tadi, Shaqui," pangkas Issa dengan suara bariton yang amat rendah, serak, dan penuh dengan kepastian mutlak. "Gugatan Papa kamu resmi gugur secara internasional, dan bursa saham kita melonjak lima persen."
Shaqueilla mendongak, menyunggingkan senyuman manis paling indah dalam hidupnya. Tangannya terangkat merapikan posisi dasi kupu-kupu di kerah kemeja Issa.
"Gue udah dengar beritanya dari Pak Hendra tadi, Pak COO," pangkas Shaqueilla halus. "Selamat atas kemenangan mutlak kamu."
Issa merangkulkan tangan kanannya di pinggang ramping Shaqueilla, menarik wanita itu rapat ke dadanya yang tegap. Pria itu menunduk, membungkam bibir Shaqueilla dalam sebuah ciuman yang amat lambat, panas, dan dipenuhi oleh rasa memiliki yang tak terbatas.
Shaqueilla membalas pagutan itu dengan pasrah, melingkarkan lengan kanannya di bahu tegap Issa. Ciuman di atas ketinggian lantai tiga puluh lima itu menyerap seluruh kelelahan fisik dan rasa jenuh atas rumor salah arah yang mengepung mereka sepanjang hari.
Ketika Issa menarik bibirnya perlahan, ia merengkuh jemari tangan kiri dan kanan Shaqueilla, menatap dua cincin berlian yang berkilau sempurna di jemari wanita itu.
"Sekarang..." pangkas Issa rendah di dekat telinga Shaqueilla, matanya berkilat oleh kejayaan murni. "...mari kita turun ke Grand Ballroom dan tunjukkan pada seluruh media Jakarta siapa pemilik sebenarnya dari berlian Tiffany Novo ini."
Shaqueilla menatap mata elang pria yang sangat dicintainya, mengangguk dengan keberanian murni. "Mari kita tunjukkan pada mereka, Issa."
Issa mengapit lengan kanan Shaqueilla di lengan kirinya yang kekar. Mereka berdua melangkah bersama keluar dari Presidential Suite, menuju lift privat yang akan membawa mereka langsung ke area karpet merah Grand Ballroom—siap meruntuhkan seluruh rumor salah arah di depan mata dunia.
Pukul delapan malam tepat.
Area Grand Ballroom The Ritz-Carlton Jakarta dipenuhi oleh ribuan tamu undangan paling berpengaruh di Indonesia. Lampu-lampu gantung kristal raksasa membiaskan cahaya keemasan yang amat megah ke atas lantai marmer yang dilapisi karpet merah tebal.
Ratusan pejabat kementerian, para duta besar negara sahabat, jajaran direksi bursa saham, serta seluruh lingkaran keluarga besar dinasti old money—termasuk Baskara Prameswari, Rosalind, Mas Raden, Tante Amalia, serta keluarga Soeryo dan Danunegoro—telah berkumpul di dalam ruangan.
Di sepanjang area photowall dan karpet merah utama, belasan jurnalis bisnis dan fotografer media hiburan kelas atas berdiri siaga dengan kamera-kamera ber lensa panjang mereka. Mereka sedang menunggu kedatangan pimpinan puncak acara malam ini.
Bisik-bisik mengenai rumor salah arah tentang Adrian Danunegoro masih terdengar riuh di antara kelompok-kelompok tamu yang memegang gelas sampanye mereka.
Tiba-tiba, suara pembawa acara utama di atas panggung utama bergema tajam melalui sistem tata suara megah ruangan:
"Hadirin yang terhormat, marilah kita sambut kedatangan Chief Operating Officer Djojohadikusumo Group, Bapak Issa Ghazafar Djojohadikusumo, bersama pendamping beliau malam ini!"
Pintu ganda raksasa Grand Ballroom bergeser terbuka lebar secara bersamaan.
Lampu sorot putih raksasa dari langit-langit ballroom seketika menyapu area pintu masuk utama, menyinari dua sosok yang berdiri di sana.
Seluruh ruangan mendadak hening total. Seribu pasang mata tamu undangan, para jurnalis, dan seluruh keluarga besar di meja depan seketika membeku di tempatnya.
Di bawah pendar lampu sorot yang menyengat, Issa Ghazafar berdiri tegap dalam balutan tuxedo hitam mewahnya. Dan di sampingnya, dengan jemari tangan kiri yang menggandeng erat lengan tegap Issa, berdiri Dokter Shaqueilla Latisha Prameswari dalam balutan gaun malam sutra velvet burgundy yang amat memukau.
Di kedua jari manis tangan Shaqueilla, berlian emerald-cut lima karat dan berlian Tiffany Novo empat karat berkilau amat dahsyat diterpa kilatan puluhan lampu kilat kamera jurnalis yang seketika meledak tanpa henti!
Klak! Klak! Klak! Klak!
Kilatan lampu kamera membanjiri karpet merah bagaikan hujan cahaya.
Rumor "tunangan fiktif" mengenai Adrian Danunegoro, spekulasi bahwa hubungan mereka telah mati, dan seluruh bisikan miring arisan seketika hancur berkeping-keping di udara dalam hitungan sepersekian detik!
Issa menoleh menatap Shaqueilla di sampingnya, memberikan senyuman tipis paling menawan dan berkuasa yang pernah disaksikan publik—his ultimate smirk of victory. Pria itu mengapit jemari Shaqueilla makin erat, lalu melangkah bersama wanita yang dicintainya menyusuri karpet merah menuju pusat ballroom—sebuah penampilan pasangan paling fenomenal yang menandai kemenangan mutlak atas cinta dan posisi mereka di hadapan dunia.

Rumor Has ItCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang