Bab 21: The Dinner with the Brother

106 15 1
                                        

Pendar lampu gantung kristal bergaya klasik Eropa menyinari permukaan meja makan panjang berukir kayu jati hitam di kediaman pribadi Raden Djojohadikusumo. Terletak di sudut paling tenang di kawasan Kebayoran Baru, rumah bernuansa kolonial modern itu memancarkan kemewahan yang tenang dan dingin—jenis kemewahan tanpa riasan mencolok yang menegaskan dominasi sebuah dinasti bisnis kawakan.

Shaqueilla membenarkan letak selendang sutra tipis berwarna gading yang membungkus bahunya. Ia mengenakan terusan berpotongan lurus berwarna zamrud gelap yang melilit tubuhnya secara sangat elegan, dipadukan dengan gelang rantai tipis dan anting mutiara air laut. Meskipun raut wajahnya terkunci rapat dalam keanggunan seorang Dokter Prameswari, ia tidak bisa membohongi getaran halus yang berdesir di dada bagian dalamnya.

Hanya dua jam lalu, kabar mengenai manuver Baskara Prameswari yang berniat mencantumkan namanya sebagai calon perwakilan komisaris di Djojohadikusumo Group menghantam kepalanya. Dan kini, ia duduk di ruang makan utama keluarga paling berkuasa di sektor energi tersebut, berhadapan langsung dengan sang kepala dinasti.

Di ujung meja, Raden Djojohadikusumo duduk memegang gelas kristal berisi air mineral berkarbonasi. Sebagai Group CEO sekaligus anak sulung yang memimpin seluruh gurita bisnis Djojohadikusumo, Raden memiliki aura kepemimpinan yang sedikit berbeda dari Issa. Jika Issa memancarkan dominasi yang tajam, intens, dan terkadang agresif bagaikan elang, maka Raden adalah sosok yang lebih tenang, kalkulatif, dan penuh kompromi terstruktur. Pria paruh baya berpenampilan kemeja katun abu-abu kustom itu menatap Shaqueilla dengan binar mata yang ramah namun menyimpan kedalaman analitis yang amat pekat.

Di samping Shaqueilla, Issa duduk dengan postur tegap. Lelaki itu melepas jas resminya, menyisakan kemeja putih bersetrika licin yang lengannya tergulung hingga pertengahan lengan bawah. Tangannya yang hangat sejak tadi terulur di bawah meja, merangkul jemari dingin Shaqueilla dan menggenggamnya erat—sebuah pernyataan perlindungan yang tak pernah terputus.

"Ikan seabass panggangnya enak, Shaqui?" tanya Raden dengan nada suara mengalun rendah dan santai, memecah denting halus sendok perak yang menyentuh piring porselen buatan Inggris.

Shaqueilla menyunggingkan senyum tipis yang sangat teratur. "Sangat enak, Mas Raden. Cita rasa herbanya pas banget, tidak menutupi kesegaran ikannya."

"Koki privat rumah ini memang sengaja dipertahankan dari zaman almarhum Bapak," sahut Raden seraya meletakkan pisau makan porselennya. Ia menyandarkan punggung ke kursi kayu tinggi. "Bapak selalu bilang, keputusan-keputusan terbesar keluarga Djojohadikusumo jarang diambil di ruang rapat lantai empat puluh dua. Keputusan penting justru selalu rampung di meja makan rumah ini."

Issa memutar cangkir anggur merahnya perlahan, matanya menatap sang kakak lurus-lurus. "Makanya Mas Raden sengaja ngatur makan malam ini kan? Bukan cuma buat bernostalgia soal masakan koki tua."

Raden terkekeh pelan—sebuah tawa rendah yang memancarkan karisma matang seorang pimpinan korporasi. "Kamu ini selalu terburu-buru, Sa. Padahal Shaqui baru saja menyelesaikan sif panjangnya di Kencana."

"Shaqui nggak keberatan, Mas," sela Shaqueilla halus, menatap Raden dengan pandangan mata yang sangat jernih dan berani. "Lagi pula, Aku rasa kita bertiga tahu kalau obrolan ini tidak bisa ditunda lagi setelah berita keterbukaan informasi bursa sore tadi."

Raden menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkesan dengan ketenangan dan kelangsungan sikap putri tunggal Baskara Prameswari itu. Pria itu mengangguk-angguk kecil, memajukan tubuhnya menopang kedua siku di atas meja.

"Sikap yang sangat tegas, Shaqui. Ciri khas keluarga Prameswari," puji Raden tanpa sedikit pun rasa sinis. "Jujur, waktu Issa bilang di Menteng tadi pagi kalau dia berniat serius sama kamu, Aku tidak kaget. Lima belas tahun lalu, waktu kalian berdua harus berpisah demi studi dan penataan bisnis keluarga, Aku adalah orang pertama yang melihat betapa berantakannya Issa di London."

Rumor Has ItCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang