Aroma garam laut beradu dengan wewangian kayu frangipani yang mekar di sepanjang selasar The Bulgari Resort Bali. Angin sore berembus pelan dari tebing Uluwatu, membawa hawa hangat yang membelai kulit. Namun, bagi Shaqueilla, ketenangan Pulau Dewata sama sekali tidak mampu mengikis getaran cemas yang merayap halus di balik lipatan dadanya.
Ia melangkah menyusuri lorong batu padas menuju area vila privat bernomor 308, mengenakan terusan poplin berbahan katun tipis berwarna gading yang melambai ikhlas disapa angin. Kacamata hitam berbingkai besar menyembunyikan sebagian wajahnya, sementara jemari lentiknya mencengkeram tas tangan Goyard yang dibawanya.
Penerbangan singkat dari Jakarta siang tadi ia lakukan secara sangat implisit. Mengambil cuti mendadak selama dua hari dari Kencana Medical Center dengan alasan menghadiri simposium kedokteran regional—alasan yang cukup masuk akal untuk mengecoh perhatian Labibah maupun Ibunya. Tetapi kenyataan sebenarnya jauh dari urusan akademis.
Ia terbang ke Bali karena Issa.
Lelaki itu terpaksa bertolak ke Bali sejak kemarin pagi untuk memimpin KTT Investasi Energi dan Infrastruktur Pasifik—sebuah pertemuan tingkat tinggi bernilai puluhan triliun rupiah yang dihadiri oleh jajaran menteri, pengusaha papan atas, serta para direksi korporasi multinasional. Peniadaan jeda pascanotifikasi akuisisi saham Prameswari Corp membuat tekanan di pundak Issa melipat ganda. Perang dingin antara Baskara Prameswari dan Djojohadikusumo Group telah resmi bergeser dari bursa saham menuju meja negosiasi riil.
Maka ketika Issa menghubunginya dua malam lalu, meminta dengan nada suara rendah yang sarat kelelahan agar Shaqueilla menyusulnya di sela-sela jadwal sibuk pria itu, Shaqueilla tidak sanggup menolak.
Ia memindai kartu akses nirkabel pada panel kayu jati di depan pintu vila. Bunyi bip halus menyambut, diikuti engsel pintu yang bergeser terbuka tanpa suara.
Suasana di dalam vila privat itu amat sepi dan sejuk. Pendingin udara sentral berembus pelan, menepis hawa tropis dari luar. Dinding kaca raksasa di ruang tengah menyajikan pemandangan kolam renang pribadi (infinity pool) yang seolah menyatu dengan samudra luas di bawah tebing.
"Sa?" panggil Shaqueilla pelan, melepas kacamata hitamnya dan meletakkannya di atas meja konsol kayu.
Tidak ada jawaban.
Shaqueilla melangkah lebih dalam menuju kamar tidur utama. Di atas tempat tidur berukuran king size berbalut kain katun putih bersih, sebuah jas setelan dua potong berwarna abu-abu gelap tergeletak rapi bersama dua dasi sutra. Suara gemericik air dari balik pintu kamar mandi marmer menandakan pria itu sedang membersihkan diri.
Shaqueilla mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Ia melepas sandal flatnya, berjalan mendekati dinding kaca luar, menatap permukaan air laut yang memantulkan pendar jingga keemasan menjelang matahari terbenam.
Suara pintu kamar mandi bergeser terbuka memecah keheningan.
Shaqueilla membalikkan tubuhnya. Issa melangkah keluar hanya dengan lilitan handuk putih tebal di pinggangnya. Tetesan air masih membasahi rambut hitam tebalnya yang sedikit berantakan, mengalir menelusuri otot-otot dada bidang dan perutnya yang terpahat kencang. Wajah tampan aristokratnya tampak lelah, dengan gurat ketegangan tipis di antara kedua alisnya, namun sepasang mata elang itu seketika berbinar begitu menangkap sosok Shaqueilla yang berdiri di dekat jendela.
"Lo beneran datang, Shaqui," suara bariton Issa mengalun rendah, serak oleh kelelahan yang tertahan.
Shaqueilla tersenyum tipis, matanya menyapu wajah pria yang sangat dirindukannya itu. "Lo yang minta gue datang, Sa. Mana mungkin gue biarin lo ngadapi pertemuan menteri sendirian dalam kondisi stres kayak gini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumor Has It
FanfictionBagi lingkar sosial kelas atas Jakarta, perpisahan Shaqueilla Latisha Prameswari dan Issa Ghazafar Djojohadikusumo di hari kelulusan SMA lima belas tahun lalu adalah tragedi romansa terbesar dekade itu. Mereka adalah golden couple-sempurna, dipuja...
