Aroma wangi bunga peoni putih bercampur dengan harum lembut kayu cedar terhirup dari sistem ventilasi udara tersembunyi di boutique atelier milik desainer senior ternama di kawasan Senopati. Rumah mode tiga lantai bergaya arsitektur minimalis modern itu berdiri di balik pagar tanaman rambat yang rimbun, menawarkan isolasi total bagi kalangan elit Jakarta yang membutuhkan pakaian buatan khusus untuk helatan akbar.
Hari Sabtu sore ini, lantai dua atelier tersebut disewa penuh secara privat. Tidak ada pelanggan lain yang melintas di selasar berkarpet beludru abu-abu yang tebal. Hanya pendar hangat lampu sorot temaram yang menyinari deretan manekin berbalut gaun-gaun malam berbahan sutra, organza, dan tulle berkualitas tinggi.
Dua hari setelah lamaran pribadi Issa di penthouse—dan tepat seminggu sebelum malam puncak Gala Anniversary Djojohadikusumo Group yang akan mempertemukan seluruh jajaran direksi, investor asing, serta lingkar sosialita Jakarta—Shaqueilla harus memastikan penampilannya tak menyisakan celah sekecil apa pun.
Shaqueilla melangkah keluar dari area penyimpanan gaun menuju area fitting lounge utama. Ia mengenakan pakaian santainya: terusan katun ringan berwarna krem yang membingkai siluet tubuhnya dengan sangat manis, sementara di pergelangan tangan kirinya melingkar jam tua Patek Philippe. Namun, yang paling menarik perhatian adalah pendar berkilau dingin dari berlian emerald-cut lima karat yang kini terpasang sempurna di jari manis tangan kirinya.
Di sudut ruangan, Issa duduk di atas sofa beludru melengkung berwarna charcol. Lelaki itu telah melepaskan jas resminya, menyisakan kemeja putih katun bersetrika licin yang dua kancing atasnya dibiarkan terbuka, dipadukan dengan celana kain hitam kustom. Tangannya memegang cangkir porselen berisi espresso, namun matanya sejak tadi tidak pernah lepas memperhatikan setiap gerak-gerik Shaqueilla.
"Kamu yakin gaun pilihan Madam Evelyn tadi cocok buat gala minggu depan, Sa?" tanya Shaqueilla seraya menyisipkan helai rambut hitamnya ke belakang telinga. Tangannya secara refleks mengusap permukaan berlian di jari manisnya—sebuah kebiasaan baru yang memberinya rasa hangat tak terhingga.
Issa meletakkan cangkir porselennya ke atas meja kaca di samping sofa, menyandarkan siku di sandaran tangan. Matanya menatap Shaqueilla dengan binar posesif yang pekat.
"Pilihan gaun yang pertama tadi terlalu terbuka di bagian punggung, Shaqui," suara bariton Issa mengalun rendah, tenang namun diwarnai ketegasan yang tak membual. "Gue nggak suka bayangin ada ratusan pasang mata direksi bursa di ballroom nanti yang memandangi kulit punggung kamu."
Shaqueilla tertawa kecil, menggelengkan kepalanya pelan. Ia melangkah mendekati sofa, berdiri tepat di hadapan pria itu seraya menyilangkan tangan di dada. "Itu gaun malam haute couture, Pak COO. Potongan backless-nya sangat elegan, bukan vulgar."
"Tetap enggak," pangkas Issa tanpa ragu. Pria itu mengulurkan tangan kanannya, merengkuh pinggang Shaqueilla dan menarik tubuh wanita itu pelan hingga berdiri di antara kedua paha tegapnya. Matanya menengadah, mengunci tatapan mata jernih Shaqueilla. "Apalagi gala minggu depan bakal jadi momen pertama kamu hadir mendampingi gue secara resmi sebagai calon istri. Gue mau perhatian orang-orang tertuju pada wibawa kamu sebagai Dokter Prameswari, bukan pada kulit terbuka kamu."
Sengatan hangat berdesir halus di dada Shaqueilla saat mendengar frasa 'calon istri' meluncur begitu alami dari bibir tegas Issa. Ia menunduk, mengusap garis rahang kokoh Issa yang tercukur bersih.
"Terus menurut lo gaun yang kedua ini gimana?" Shaqueilla mengarahkan pandangannya ke arah manekin di sudut ruangan yang memamerkan gaun malam berbahan sutra velvet berwarna merah anggur (midnight burgundy). Gaun itu berpotongan off-shoulder dengan struktur korset tersembunyi yang menegaskan lekuk pinggang, menjuntai indah hingga menyapu lantai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumor Has It
Fiksi PenggemarBagi lingkar sosial kelas atas Jakarta, perpisahan Shaqueilla Latisha Prameswari dan Issa Ghazafar Djojohadikusumo di hari kelulusan SMA lima belas tahun lalu adalah tragedi romansa terbesar dekade itu. Mereka adalah golden couple-sempurna, dipuja...
