Sinar matahari pagi yang menembus sela-sela tirai tipis penthouse Senopati menyebarkan pendar lembut di atas meja kayu ek area sarapan. Udara bersih bersuhu sejuk dari pendingin ruangan bercampur dengan aroma pekat dari cangkir keramik kerajinan tangan berisi hot latte yang baru saja diseduh. Suasana pagi itu luar biasa tenang-sebuah kontras sempurna jika dibandingkan dengan kegaduhan bursa saham dan hiruk-pikuk linimasa media sosial yang meledak selama empat puluh delapan jam terakhir.
Shaqueilla duduk bersandarkan kursi berbalut kain linen Krem. Ia mengenakan kardigan rajut berbahan kasmir berwarna putih gading yang salah satu sisinya sedikit meluncur di bahunya, memperlihatkan tulang selangkanya yang halus. Rambut hitam tebalnya dibiarkan terurai bergelombang secara alami, menyisakan beberapa helai yang membelai pipinya.
Tangan kanannya yang lentik melingkari cangkir keramik hangat tersebut, mengangkatnya sedikit ke dekat bibir. Dan di sana, melingkar sangat anggun pada jari manis tangan kanannya, berlian Tiffany Novo Round Brilliant empat karat buatan khusus dari Tiffany & Co. menangkap berkas cahaya matahari pagi. Pendar kilaunya terpancar secara mutlak, membiaskan kilatan prisma pelangi yang memukau di atas permukaan meja.
Shaqueilla menatap lingkar platina berhiaskan deretan berlian micro-pave itu sejenak. Ada senyuman tipis dan damai yang terukir di bibirnya. Hadiah hibah sebesar tujuh ratus lima puluh miliar rupiah dari Djojohadikusumo Foundation kemarin sore bukan sekadar tindakan spektakuler yang membungkam gertakan Pak Soeryo; tindakan itu adalah bukti nyata bagaimana Issa memagari dan menghormati impian klinisnya tanpa membiarkan siapa pun merendahkannya.
Ia meraih ponsel pribadinya yang tergeletak di samping piring buah. Tanpa dorongan pamer berlebihan atau keinginan untuk memicu huru-hara, jemari Shaqueilla bergerak secara sangat alami membingkai pemandangan pagi itu.
Ia mengarahkan lensa kamera ponselnya ke sudut meja. Fokus utama foto tersebut adalah cangkir keramik hangat yang dipegangnya, dipadukan dengan sudut piring porselen berisi potongan buah segar dan bias sinar matahari pagi di atas kayu ek. Namun, karena posisi tangannya yang menggenggam cangkir secara natural, berlian Tiffany Novo di jari manis tangan kanannya berdiri sangat jelas di titik tengah komposisi-berkilau sempurna, anggun, tanpa bisa diabaikan oleh siapa pun yang melihatnya.
Shaqueilla mengambil foto tersebut. Hasilnya sangat estetis, tenang, khas gaya hidup quiet luxury yang tidak butuh usaha keras untuk menarik perhatian.
Ia membuka aplikasi Instagram. Di halaman pembuatan Story, ia mengunggah foto tersebut.
Tanpa takarir. Tanpa kata-kata panjang. Tanpa menandai akun siapa pun. Hanya ada satu stempel waktu mikro di sudut kiri atas bertuliskan 08:15 AM, disertai lagu instrumental piano klasik berdurasi pendek yang mengalun lembut di latar belakang.
Shaqueilla menekan tombol unggah.
Story itu resmi terpublikasi. Sebuah soft launch yang sangat subtil, elegan, namun memiliki dampak domino yang siap mengguncang seluruh lanskap gosip high society Jakarta dalam hitungan menit.
Pukul sembilan pagi tepat.
Di ruang kerja dokter lantai tiga Kencana Medical Center, udara sejuk beraroma terapi lavender mendadak berubah menjadi panggung histeria yang kaku.
Pintu ganda kayu ek bergeser terbuka secara kasar. Labibah melangkah masuk membawa tablet dan ponsel pribadinya, menutup pintu rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam dengan gerakan yang amat tergesa.
"Shaqueilla Latisha Prameswari!" seru Labibah dengan suara yang ditahan setengah berbisik, matanya membelalak lebar bagaikan baru saja melihat fenomena alam luar biasa. "Lo... lo bener-bener gila ya pagi ini!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumor Has It
Fiksi PenggemarBagi lingkar sosial kelas atas Jakarta, perpisahan Shaqueilla Latisha Prameswari dan Issa Ghazafar Djojohadikusumo di hari kelulusan SMA lima belas tahun lalu adalah tragedi romansa terbesar dekade itu. Mereka adalah golden couple-sempurna, dipuja...
