Bab 25: Midnight Promises

82 12 3
                                        

Dinding kaca raksasa di unit penthouse The Langham memantulkan bayangan metropolia Jakarta yang bagaikan hamparan lautan permata di tengah kegelapan malam. Garis-garis cahaya merah dan putih dari deretan kendaraan di kawasan SCBD merayap perlahan, menciptakan kontras yang tajam dengan keheningan mencekam yang melingkupi ruang keluarga di lantai teratas tersebut.

Pukul satu dini hari.

Malam yang seharusnya dirayakan dengan manis pasca-kemenangan Shaqueilla di ajang National Medical Excellence Awards mendadak berubah menjadi panggung krisis. Piala kristal seberat tiga kilogram yang baru saja diterimanya berdiri membisu di atas meja konsol marmer, berkilau dingin diterpa temaram lampu dinding keemasan.

Issa berdiri tegak di dekat sudut jendela kaca raksasa. Jas resminya telah terlepas, menyisakan kemeja katun putih yang dua kancing atasnya terbuka, serta lengan baju yang tergulung kaku hingga pertengahan lengan bawah. Pria itu menopang satu tangannya di saku celana kain gelap, sementara tangan lainnya mengapit ponsel pribadi yang baru saja mematikan panggilan darurat dari Sekretaris Hendra.

Rahang tegas Issa mengeras sempurna. Sepasang mata elangnya yang gelap menatap kosong ke luar jendela, memancarkan aura dingin yang membekukan. Putusan sela Pengadilan Niaga yang diajukan oleh Baskara Prameswari—disertai pembekuan sementara perdagangan saham anak perusahaan energi mereka di Singapura—bukan sekadar gertakan di atas kertas. Itu adalah serangan mematikan yang dirancang untuk mengunci ruang gerak Djojohadikusumo Group tepat sebelum helatan Gala Anniversary diselenggarakan.

Di sofa beludru charcoal tidak jauh dari sana, Shaqueilla duduk dengan terusan sutra crepe berwarna hijau zamrud yang masih melilit anggun di tubuhnya. Sanggul rendah chignon-nya telah dilepas, membiarkan rambut hitam tebalnya terurai bebas melintasi bahu dan punggungnya. Jemari lentiknya yang melingkar berlian emerald-cut lima karat tampak meremas kain selimut bulu yang bertengger di pangkuannya.

Shaqueilla memperhatikan punggung tegap Issa. Ia bisa merasakan beban berat dan gejolak amarah yang ditahan rapat oleh pria di hadapannya.

"Sa..." panggil Shaqueilla pelan, suarasa mengalun halus, memecah hening yang mencengkeram.

Issa tidak langsung berbalik. Pria itu menghembuskan napas panjang—sebuah helaan napas berat yang jarang sekali terdengar dari seorang COO yang biasa menguasai meja perundingan. Secara perlahan, Issa memutar tubuhnya, menatap Shaqueilla.

Raut wajah tampan aristokrat itu tampak sangat lelah, namun matanya memancarkan keteguhan yang amat pekat.

"Papa kamu bener-bener nekad, Shaqui," ujar Issa, suara baritonnya mengalun rendah, kaku, dan serak. "Memakai Pengadilan Niaga buat membekukan konsesi lahan di Kalimantan... itu langkah yang bisa menghancurkan reputasi dua korporasi sekaligus kalau berita ini bocor ke media internasional esok pagi."

Shaqueilla menundukkan kepalanya sejenak, rasa bersalah yang amat dalam mendadak kembali merayap di dadanya. Momen bahagianya di atas panggung Kempinski beberapa jam lalu seolah menguap, tergantikan oleh kenyataan bahwa ayahnya sendiri yang sedang berusaha merobohkan benteng tempat ia bersandar.

"Maafin Papa, Sa..." bisik Shaqueilla tulus, tangannya mengusap jemari kirinya sendiri. "Gue tahu Papa marah banget karena gue menolak posisi komisaris itu dan menolak tunduk sama ancaman beliau. Tapi gue nggak pernah nyangka Papa bakal melangkah sejauh ini."

Issa melangkah mendekat. Suara ketukan sepatu kulit mewahnya di atas lantai kayu jati terdengar teratur. Pria itu mendudukkan dirinya di atas meja kaca tepat di hadapan Shaqueilla, memangkas jarak di antara mereka. Issa mengulurkan kedua tangannya, merengkuh jemari dingin Shaqueilla dan menggenggamnya erat di atas pangkuan wanita itu.

Rumor Has ItCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang