30. A fact.

334 26 4
                                        

Hallo! Sudah lama tak bersua. Maaf sudah lama ga update huhu.

Makasih banyak untuk kalian yang udah masukin cerita aku ke perpustakaan dan masih mau baca. I love you!!!

***

"Aku tidak ingin datang ke acara itu, Ale!" Tegas Cal sekali lagi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Aku tidak ingin datang ke acara itu, Ale!" Tegas Cal sekali lagi. Ia sangat tidak menyukai pemilik dari acara tersebut. Beda dengan Arsha yang lebih sanai menghadapi permasalahan keluarganya, Cal malah lebih sensitif dan terang - terangan menunjukan rasa tisak sukanya.

"Kenapa, Cal? Berikan aku alasan yang jelas." Balas Ale. Ia sangat merasa kesal, Cal selalu saja melarangnya ini itu, tetapi ia tidak memberitahukan alasan yang jelas kepada Ale.

"Aku tidak bisa mengatakannya."

Perkataan Cal membuat Ale berdecak. "Aku bisa mati kebosanan disini, Cal. Kau tidak pernah mengijankan aku untuk kemana - mana!"

"Mengapa kau kembali menjadi pembangkang? Tidak bisakah kita selesaikan perdebatan ini?" Ujar Cal merasa lelah. Setelah pulang dari urusan bisnis, sebetulnya ia ingin bermanja dengan Ale karena pria itu sangat merindukan wanitanya. Tapi saat Ale meminta untuk pergi ke pesta yang paling ia hindari, suasana hatinya menjadi memburuk.

Ale melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku memang bukan seseorang yang penurut, Cal. aku ingatkan kalau - kalau kau lupa. Dan, YA! Aku memang memiliki banyak hutang padamu, tapi bisakah kau tidak melarangku ini itu?! Stidaknya biarkan aku kerja!"

"Ale kita sudah membahas hal itu puluhan kali, dan kau tidak akan pernah kerja!"

"Tapi kenapa?!" teriak Ale. Ia merasa tak tahun dengan segala ketidak tahuaanya.

"Jangan buat aku terus bertanya - tanya, Cal. Kumohon. Kamu selalu penuh dengan teka - teki." 

Cal mendesah frustrasi, ia tidak ingin berdebat dengan Ale karena yang ia inginkan adalah pelukan Ale. 

"OKE FINE!" Seru Cal akhirnya, lebih baik ia mengalah daripada membuat perdebatan ini semakin panjang. Ia dan Ale sama - sama keras, perdebatan ini bisa menjadi hal fatal jika salah satu dari mereka tidak mengalah.

Cal melangkah kearah Ale, ia mendekapnya dan mengelus pucuk kepala Ale. "Kita akan datang kesana." 

Ucapan Cal membuat Ale menoleh kearah pria itu, Ale langsung menunjukan senyum lebarnya. "Apakah kau serius?!" Seru Ale dan reflek balas memeluk Cal.

Saat melihat binar bahagia dimata Ale, mau tak mau Cal ikut tersenyum. Pria itu mengangguk untuk memberi jawaban. Ale langsung mendekap erat Cal. Ia merasa senang, akhirnya perdebatan ini tidak berakhir sia - sia. Walaupun dalam hati ia masih penasaran mengapa Cal sempat keukeuh tidak mau mendatangi pesta itu.

Melihat Ale kegirangan, Cal spun terkekeh gemas karena tingkah Ale yang tadinya mengamuk berubah menjadi seperti anak kucing.

Ale merenggangkan tubuhnya dari Cal, ia menatap pria itu lagi. "Tapi aku masih penasaran mengapa kamu tidak mengizinkan ku untuk datang."

Seakan tersadar bahwa perkataanya bisa memancing keributan, Ale menjadi gelagapan sendiri. "Ma-maf, a -aku tidak--."

Tidak seperti perkiraan Ale, Cal justri tersenyum lembut, dan mengusap punggung Ale lembut. "It's ok." 

Cal jadi merasa ia terlalu tertutup pada wanita di dekapannya ini. Ia sebetulnya bimbang, ia tidak terbiasa bercerita pada seseorang. Ia tidak suka hal privasinya di ketehau orang lain. Mungkin sekarang ia harus membuat pengecualian untuk Ale. Karena bagaimanapun ia sudah mencari Ale kemanapun itu, dan sekarang ia sudah mendapatkannya, ia tidak bisa membiarkan Ale pergi lagi. 

"Pesta itu milik ibu tiriku." Cal berucap sendu. 

Melihat kilatan sedih dari mata Cal, Ale benar - benar merasa bersalah karena telah memaksa Cal ke pesta terssebut. Jika Cal berterus terang dari awal, pasti tidak akan menjadi perdebatan dan Ale juga pasti akan mengerti.

Ale berasumsi jika hal tentang ibu tirinya itu adalah sesuatu yang sensitif, entah ada permasalahan apa dibaliknya. 

"Kita tidak perlu datang jika kau tak mau." Kata Ale cepat, ia tidak mungkin memaksa Cal jika permasalahnya menyangkut keluarganya.

"Tidak perlu, mungkin sudah saatnya aku memperkenalkan dirimu ke keluarga ku." Ujar CAl sambil tersenyum. Mendengar pernyataan CAl, entah mengapa membuat jantung Ale menjadi berdegup lebih cepat, ia juga merasakan pipinya mulai memanas.

Cal merasa gemas saat ia melihat pipi Ale yang mulai memerah. Cal pura - pura mengerutkan dahinya. "Pipi mu merah, apa kau demam?" Tangan Cal menangkup pipi Ale yang tambah memerah itu.

"CAL!" Ale mendorong Cal. Ia merasa sangat malu. bisa - bisanya ia bersemu seperti ini dihadapan pria itu.

Suara tawa Cal menggelegar. Ah! mengapa wanitanya ini begitu menggemaskan!

"Jangan tertawa Cal!"

"Aku tidak bisa, karena kamu begitu manis, sayang.

"CAL!" Teriak Ale lagi, ia menutup pipinya karena malu lalu berjlan untuk duduk di sofa.

Cal masih terkekeh, ia mengikuti Ale untuk duduk di sofa. Cal kembali mendekap Ale.

"Saat itu, Mommy meninggal karena sakit. Aku sangat merasa terpukul. Lalu setengah tahun kemudian, dengan berani papah membawa dia. Aku sangat marah dan kecewa karena papah benar - benar tidak mencintai Mommy."

Ale terdiam mendengar ucapan Cal yang tiba - tiba itu. Suaranya begitu sendu.

"C-Cal." Ale berusaha melepaskan dekapan Cal. Tapi pria itu menahan, Cal seperti tidak mau Ale melihat wajah menyedihkan miliknya.

"Dia adalah selingkuhan papah, aku tidak tahu itu dimulai sejak kapan. Tetapi wanita itu menghancurkan segalanya." Cal tidak bisa menahan emosinya, rasa marah, kesal, dan sedih sangat kentara di suaranya.

Mendengar suara Cal, membuat Ale merasakan kesedihan pria itu juga. Ia mengelus punggung Cal dengan lembut seakan berkata bahwa semua akan baik - baik saja.

"Jangan tinggalkan aku, Ale." Cal berkata pelan.

Ale merasa begitu tersentuh dan juga senang mendengar perkataan dari bibir Cal itu.  Ia merasa dibutuhkan oleh Cal. Ale menggelengkan kepalanya. "Aku disini, Cal."

"Jangan pergi walau kau tahu apa yang sebenarnya terjadi."

"Tidak, Cal. Aku akan disini." Ucap Ale pasti.

Ale pikir ucapan Cal hanya berbatas apa yang pria itu katakan. Ale tidak menyadari bahwa perkataan Cal sebenarnya lebih dari itu.  Ale belum tahu yang sebenarnya, dan mungkin pemikiran Ale akan berubah jika ia sudah mengetahu sebuah fakta yang akan berdampak buruk terhadap hubungannya dengan Cal.

.
.
.
.

Yuk beri aku bintan dan komen biar makin semangat. Love banyak banyak untuk kalian!

Xoxo!!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 29, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My MASTER IS STRANGER [ON HOLD]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang